Untuk Sampai di Sekolah, Anak-Anak Taratak Baru Setiap Hari Harus Menyebrang Kali Berjuang Melawan Maut

0
166

SOLOK, JN- Sungguh luar biasa kisah perjuangan anak-anak nagari tertinggal di Kabupaten Solok, dimana untuk mendapatkan pendidikan saja, mereka harus berjuang melawan maut setiap hari, menuju ke sekolah mereka.

Sangat butuh bantuan perbaikan jembatan menuju SMP 4 lembah gumanti,mereka berjuang untuk sampai kesekolah ,tetap semangat tak ada jalan yg terjal tak ada lurah nan dalam tuk mencapai cita citamu .

Posted by Nurmalini Nasution on Saturday, 20 October 2018

Salah satu kisah nyata yang sampai saat ini masih ada anak-anak sekolah berjuang melawan maut untuk sampai di sekolah mereka adalah menimpa anak-anak di daerah terisolir Jorong Taratak Baru, Nagari Sariak Alahan Tigo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok.

Jorong Taratak Baru, berada dibagian Timur Nagari Sariak Alahan Tigo. Untuk melanjutkan ke sekolah SMP, anak-anak Jorong Taratak Baru, harus menyeberangi Sungai sepanjang 15 meter dengan meniti jembatan bambu yang hanya satu batang yang dibuat masyarakat setempat agar sampai di sekolah mereka yakni SMP Negeri 4 Hiliran Gumanti, yang berjarak sekitar 3 Kilometer dari jorong Taratak Baru.

“Habis bagaimana lagi, kita harus sekolah untuk lebih pinter agar bisa membangun Nagari,” jelas Yuliati (12, pelajar kelas VII, SMP Negeri 4 Hiliran Gumanti, ketika ditanya usai mnyeberang jembatan yang setiap saat menghadang maut  untuk menuju sekolah mereka. “Jalan sih ada yang memutar, tetapi untuk sampai ke sekolah butuh waktu sekitar 2 jam jalan kaki  memutar menuju arah Utara. Kalau ini hanya bisa ditempuh setengah jam saja jalan kaki,” tambah Yuliati, yang diamini temannya Dina (13).

 

Tokoh masyarakat Sariak Alahan Tigo yang juga mantan Walinagari Sariak Alahan Tigo,  Efdizal Mandaro Sutan menyebutkan bahwa anak-anak Taratak Baru memang  harus berjuang menyeberangi sungai dengan arus yang cukup deras. Mereka menyeberangi sungai kala berangkat dan pulang sekolah setiap hari. “Yang tambah susah adalah disaat musim hujan, air sungai naik dan arusnya semakin deras. Kondisi ini kerap membahayakan nyawa anak-anak yang menyeberang untuk bersekolah, tetapi apalah daya kita,” jelas Efdizal.

 

Hasil dari peninjauan, jumlah anak yang setiap hari menyeberangi sungai untuk bersekolah mencapai lebih dari 20 anak. Mereka rata-rata anak  SMP. Sementara sekolah  SD yang terdekat ada di Jorong mereka (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda