PendidikanSalingka Nagari

Semangat Anak-Anak Daerah Terisolir Tigo Lurah Sangat Luar Biasa Untuk Maju

×

Semangat Anak-Anak Daerah Terisolir Tigo Lurah Sangat Luar Biasa Untuk Maju

Sebarkan artikel ini


SOLOK,  JN- Sungguh ini bukan cerita dari nagari dongeng.  Tetapi ini benar-benar kisah nyata dari kehidupan anak-anak yang tinggal di daerah pelosok di Kabupaten Solok. 
Saat media ini berkunjung ke Dusun Kundang Kunik,  Jorong Panariak,  Nagari Batu Bajanjang,  Kecamatan Tigo Lurah,  Senin (18/10), bersama tokoh masyarakat Batu Bajanjang,  Dahrul Asri,  tidak sengaja bertemu dengan sejelompok pelajar yang asli daerah setempat. 


Pada saat bertemu tersebut,  tampak anak-anak dengan ramah menegur kami sambil bersalaman. Momen tersebut saya manfaatkan untuk bertanya dan bercerita dengan aset bangsa yang tinggal jauh dari hiruk pikuk politik jahat. 
Menurut Rita (13), yang baru saja pulang dari SMPN 4 Tigo Lurah,  harus berjalan kaki sejauh 15 Kilometer dari rumahnya untuk menempuh sekolah.  Siswi kelas 7 ini mengatakan bahwa dia harus kuat dan sabar menempuh jarak puluhan kilometer setiap hari demi sebuah cita-cita. Bahkan dengan kondisi alam yang menanjak,  siswi asal Panariak ini harus pakai sandal ke sekolah. 
“Kami ingin maju seperti anak-anak yang ada di kota. Jadi menurut guru,  kalau ingin maju harus sekolah yang tinggi, ” tutur Rita dengan malu-malu. Bahkan gadis ABG ini memiliki cita-cita mulia,  yakni menjadi Ustadzah,  kayak Mama Dedeh. “Maunya sih masuk pesantren,  tapi pesantren jauh di kota, ” tambah Rita yang diamini Rise (12) temannya. 


Sementara Aldi (13), mengaku bercita-cita ingin jadi pemain sepakbola terkenal seperti Cristian Ronaldo penyerang Manchester United. “Saya ungin menjadi pemain bola terkenal kayak Romaldo atau M. Salah,  tapi sayang di kampung kami tidak ada satu lapangan sepakbola, ” terang Aldi sambil tertawa kebar. 
Cerita singkat kami yang hanya berlangsung sekitar 10 menit,  ternyata sangat menyentuh hati kita. Meski anak-anak terlihat letih dan lapar,  namun hal itu tampak kalah oleh cita-cita mereka. 
Biasanya anak-anak Panariak untuk masuk SD saja, mereka harus menempuh jarak sekitar puluhan kilometer.  Namun beberapa tahun lalu di kampung mereka sudah berdiri sebuah SD gendongan atau percobaan dari SD 08 kapujan yakni SD 15 Batu Bajanjang.
Penduduk Panariak ada sekitar 600 jiwa dan mayoritas mata pencaharian mereka bertani. 
Meski tinggal jauh dari pusat keramaian dan hiruk pikuk serta bisingnya bunyi kendaraan,  namun hidup di daerah terpencil ternyata jauh lebih tenang,  aman dan damai. Rasa kebersamaan dan tradisi gotong royong,  juga masih tetap dijaga dan dilestarikan. 

Baca Juga :
KAN Nagari Salayo Sepakati Perubahan AD/ART Ditengah Gangguan

Saat kunjungan media ini ke daerah terisolir di Jorong Tanjung Balik,  Nagari Sumiso,  Kecamatan Tigo Lurah,  Kabupaten Solok,  ada kisah yang cukup mengharukan yang mungkin selama ini jarang mendapat sorotan dari awak media. 

Meski tinggal di daerah terisolir dan jauh dari ibukota Kabupaten dan Provinsi, namun anak-anak yang tinggal di Sumiso, tergolong cukup cerdas. Malah mereka hafal nama Presiden dan Ibukota Negara dan ibukota Provinsi Sumbar. Namun sayangnya,  ketika ditanya nama Bupati dan Camat setempat,  mereka malah saling bertatapan kepada teman mereka.  “Siapa ya,  saya tidak tau, ”  jawab salah seorang anak yang bernama,  Irdan (8).Selain itu,  mereka juga belum pernah bertemu dengan para pejabat tersebut dan juga mereka mengaku belum pernah pergi ke Ibukota Kabupaten Solok di Arosuka atau ke Kota Padang Ibukota Provinsi Sumatera Barat.

Selain itu,  saat ditanya kepada anak-anak daerah tertinggal, mereka,  rata-rata menjawab ingin jadi polisi dan guru. 
Lalu saat ditanya,  siapa nama Presiden RI sekarang, maka dengan nada serentak mereka menjawab Bapak Jokowi. Lalu ketika ditanya dari mana tau nama tersebut, maka dijawab oleh anak-anak ini dari spanduk dan fhoto yang ada di sekolah. Begitu juga ketika ditanya kepada salah seorang anak yang bernama Reni(10), apakah dia tau siapa nama Gubernur Sumbar saat ini, maka langsung dijawab dengan dengan lancar yakni Bapak Buya Mahyeldi dan sampai kepada nama presiden Jokowi mereka hafal. Lalu ketika ditanya apakah mereka sudah pernah ke kota Solok atau ke kantor Bupati, hampir semuanya menjawab belum pernah. Alasan mengapa belum pernah ke Arosuka, maka dijawab orang tua tidak mau mengajak karena jaraknya jauh dari kampung mereka dan jalannya juga buruk masuk hutan.

Baca Juga :
Warga Jorong Lurah Nan Tigo Bergoro Perbaiki Jalan Kabupaten Yang Rusak


 “Kata bapak kalau mau melihat kantor Bupati, nanti saja kalau sudah SMP atau SMA. Sebab dari Sumiso ke Sirukam saja bisa menghabiskan waktu 5 sampai 6 jam baru sampai di kantor Bupati. Lagi pula kata beliau ongkosnya mahal kalau mau ke ibukota,” tutur Reni dengan polos. 

Tokoh masyarakat Tigo Lurah, Dahrul Asri,  tampak sangat prihatin dengan kondisi anak-anak dan warganya yang berada jauh ibukota dan keramaian. 
“Ya begitulah kondisi kami di sini, anak-anak masih lugu dan sangat alami. Mereka kalau siang sekolah, kemudian membantu orang tua di ladang. Pada waktu sore, mereka pergi mengaji. Tapi kita bersyukur jauh dari dunia internet yang banyak berdampak negatif bagi perkembangan anak-anak,” jelas Dahrul Asri.

Mantan Walinagaro ini juga sempat bercerita bahwa sebelum ada bangunan SMA di Ibukota Kecamatan Tigo Lurah di Batu Bajanjang sekitar Empat tahun lalu, maka setamat dari SMP, banyak anak-anak di Tigo Kurah seperti Sumiso, Garabak Data,  Sinanau dan lainnya  yang menikah pada usia muda, sebab mau melanjutkan ke SMA sangat jauh karena harus ke kota Solok atau ke Salayo yang jaraknya bisa ditempuh 5 jam perjalan baru perginya saja. 
“Dari pada tidak ada kegiatan, maka para orang tua lebih memilih menikahkan anaknya setamat SMP. Namun sekarang sudah ada SMA jadi mereka bisa melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi,” terang Dahrul Asri.  
Namun pihaknya sangat berharap,  agar Pemkab Solok memperhatikan kondisi jalan dari Tanjung Balik menuju ke Nagari Rangkiang Luluih yang sangat memilukan. Sebahagian jalan memang sudah diaspal,  namun separohnya lagi masih jalan tanah. “Anak-anak sekolah harus menempuh jalan itu,  karena tidak ada jalan lain menuju ibukota Kecamatan.

Selain itu,  jalan juga harus melintasi hutan yang sepi dan bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, terutama untuk anak perempuan, ” sebut Walinagari Dahrul Asri (wandy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *