Ritual Unik Sianggai-Anggai Bisa Menjadi Daya Tarik Wisatawan Untuk Datang ke Kabupaten Solok

0
1454

SOLOK,JN- Selain keindahan alam, di Kabupaten Solok masih banyak tradisi unik yang bisa dijadikan untuk memicu kunjungan turis asing dan domestik untuk datang ke Kabupaten Solok, seperti ritual atau bakawue alek nagari di Batu Bajanjang, Tigo Lurah, yang digelar sekali setahun untuk menyatakan rasa syukur kepada sang pencipta.

Selanjutnya Ritual di Sianggai-Anggai Nagari Sariak Alahan Tigo, dimana masyarakatnya melakukan pememotongan kerbau sebelum turun ke sawah, ritual membersihkan makam kaum selama satu Minggu di Nagari Panyangkalan Kecamatan Kubung, sehingga masyarakatnya tidak ada yang keluar pergi ke tempat-tempat wisata seperti yang dilakukan masyarakat di nagari lain. Dan masih banyak lagi cara yang bisa dilakukan untuk menggaet jumlah kunjungan turis asing ke Kabupaten Solok, seperti layaknya Nyepi di Pulau Bali, dimana perayaanb Nyepi bisa menyedot perhatian dunia, karena hari Nyepi tidak boleh ada aktivitas, termasuk bisa memperhentikan aktivitas penerbangan nasional dan internasional tujuan Bali dan sebaliknya. Sehingga satu Minggu sebelum acara Nyepi, masyarakat dari seluruh dunia dan dari seluruh Indonesia, sudah mulai datang ke Bali untuk menyaksikan apa itu nyepi yang sebenarnya.

Masyarakat dunia penasaran terhadap apa yang dilakukan sekali setahun pada hari Nyepi akhirnya karena ada rasa penasaran dari masyarakat, akhirnya bisa menyedot wisatawan dengan tradisi uniknya, lantas kenapa Kabupaten Solok tidak bisa? Ritual Bakawue di Sianggai-Anggai misalnya, hal ini sangat bisa dilakukan untuk menarik wisatawan datang ke Sianggai-Anggai di Kecamatan Hiliran Gumanti. Ritual atau Bakawue sebelum turun ke sawah, bagi sebahagian masyarakat modren memang dianggap sudah kuno. Namun tradisi semacam ini, ternyata masih bertahan di Jorong Sianggai-Anggai, nagari Sariak Alahan Tigo, kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok. Bahkan ritual di nagari yang masih terbilang terisolir itu, dengan cara berdo’a bersama yang digelar di lapangan terbuka serta diikuti oleh seluruh penduduk yang berdiam di jorong tersebut, masih bertahan sampai saat ini dan tidak pernah ternoda oleh arus moderen seperti sekarang.
bahkan ritual (kaul) yang digelar hari Jum’at (23/8) dan dibuka Wakil Bupati Solok, H. Yulfadri Nurdin, SH, sudah digelar untuk yang ke 82 kalinya, atau sudah digelar sejak 252 tahun silam. Karena tradisi ini dilaksanakan rutin sekali tiga tahun.

Tampak hadir pada kawue alek Nagari Sariak Alahan Tigo di Jorong Sianggai-Anggai yang ke 84 ini antara lain
Wakil Bupati Solok, H. Yulfadri Nurdin, SH, Kadis Pendidikan, Zulkisar, S. Pd, MM, Sekretaris Satpol PP dan Damkar, Bermalis Rajo Bujang,
Plt. Camat Hiliran Gumanti, Syafrizal, Walinagari Sariak Alahan Tigo,
Kadis Pariwisata dan Kebudayaan yang diwakili Kabid Kebudayaan Solok, Kadis Kesehatan atau yang diwakili oleh dr.Aida Herlina, para Kepsek se Sariak Alahan Tigo, Seluruh Kepala Jorong, Unsur KAN, BPN, niniek mamak dan alim ulama serta masyarakat Jorong SianggI-Anggai.

Selain itu, upacara minta selamat atau disebut juga ‘Bakawue’ sebelum turun ke sawah yang dilakukan dua hari berturut-turut dan harus dilakukan pada hari Jum’at dan Sabtu pada setiap habis lebaran haji dan digelar satu kali dalam tiga tahun itu, sudah berlangsung selama 82 kali atau sudah berlangsung selama 252 tahun atau sudah dilaksanakan sejak tahun 1771.
Uniknya lagi, setiap hari Minggu, masyarakat Sianggai-Anggai pada setiap hari Minggu, tidak ada yang turun kesawah, karena itu sangat tabu dan dilarang.

Tokoh masyarakat Sianggai-Anggai, Kamra (50) menyebutkan bahwa tradisi Bakawue yang rutin dilaksanakan setiap tiga tahun sekali dan tetap dilaksnakan pada hari Jum’at dan Sabtu setia bulan haji dan dilaksanakan satu kali dalam tiga tahun ini, sampai saat ini sudah dilaksanakan sebanyak 82 kali. “Semua pejabat juga diundang untuk melihat acara ini dan juga dilengkapi dengan acara makan-makan,” jelas Kamra.

Selain Kamra, tokoh masyarakat Sianggai-Anggai, Angku Malayu (70) menyebutkan bahwa nama Sianggai-Anggai berasal dari nama dua orang tua yang tinggal digubuk tua, ketika ditemukan oleh warga Talaok, yang mencari lahan baru ke arah Timur dari Talaok yakni daerah Sianggai-Anggai sekarang.
“Pada waktu itu warga yang datang kesini melihat dua orang tua yang tinggal di gubuk dan berjalan teranggai-anggai atau tertatih-tatih, sehingga waktu pulang diceritakan ke masyarakat di daerah tersebut ada dua orang tua yang teranggai-anggai dan makanya lokasi ini disebut Sianggai-Anggai,” jelas Angku Melayu. Angku Malayu juga menceritakan bahwa sampai saat ini setiap hari Minggu, masyarakat Sianggai-Anggai tidak dibenarkan memotong padi di sawah dan juga setiap Jum’at dilarang turun ke sawah untuk beraktivitas. Sementara upacara ditutup dengan mendatangi hulu sungai atau kapalo banda pada hari Sabtu atau hari kedua dan diikuti oleh seluruh masyarakat dewasa. Dia juga menjelaskan bahwa tradisi bakawue sebelum turun ke sawah, dimulai ketika di Sianggai-Anggai pernah terjadi selama tiga tahun padi tidak menjadi, karena diserang kekeringan, wereng dan hama tikus.
Tokoh masyarakat Sianggai-Anggai, Zain dt Sari Marajo, dalam laporan singkatnya menyebutkan bahwa sejarah singkat dimulainya ritual yang sudah dilaksanakan semenjak lebih 250 tahun lalu atau sudah 250 tahun lamanya.

Saat ini nagari Sariak Alahan Tigo yang terdiri dari 8 jorong dan berpenduduk se­kitar 8.000 ribu jiwa ini, masih perlu perhatian khusus dari Pemerintah, karena sampai saat ini masyarakat belum bisa berkomunikasi menggunakan HP karena signal dari jaringan seluler operator manapun belum masuk. Bahkan jalan menuju Sianggai-Anggai juga masih buruk dan rusak.

Anggota DPRD Kabupaten Solok, Efdizal. SH, MH, yang juga mantan Walinagari Sariak Alahan Tigo, dalam sambutannya menyampaikan ucapan
terimakasih atas partisipasi seluruh masyarakat untuk kelancaran alek
kawue ini.
“Kami akan mencoba selalu menerima aspirasi dari masyarakat untuk kemajuan daerah/nagari ini. Mari tetap jaga kekompakan dan kebersamaan kita semua,” harap Efdizal.
Pihaknya juga berpesan kepada Kepala daerah untuk dapat memberikan perhatian lebih kepada Jorong Sianggai-anggai agar dapat setara dengan daerah lainnya.

Terkait hal itu, Wakil Bupati Solok, H. Yulfadri Nurdin, SH, mengun­kapkan kekagumannya dengan masyara­kat Sianggai-Anggai dan Nagari Sa­riak Alahan Tigo. Karena sampai saat ini masih memper­ta­hankan tra­disi dari nenek mo­yang. Di Kabupaten Solok, kata Dia, ada dua tradisi unik yang harus dilestarikan dan tercatat se­bagai wisata budaya. “Seperti di Nagari Sianggai-Anggai ini melestarikan tradisi budaya turun ke sawah. Nagari Gau­ang setiap habis lebaran Idul Fitri melaku­kan ziarah masal ke kubur selama satu Minggu tanpa pergi kemana-mana,” ungkap­nya.

Wabup mengakui, selama ini tradisi di Sianggai-anggai memang kurang diketahui oleh masyarakat luar Sariak Alahan Tigo, karena kurang terekspos oleh media. Lan­taran itu, pihaknya meminta pada peringatan tiga tahun mendatang, semua alat yang digunakan harus alami seakan mengingatkan ke zaman dulu, termasuk atap untuk acara juga harus dari daun alang-alang tidak boleh dari palstik atau seng.

H. Yulfadri Nurdin berharap Peme­rintah Nagari berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan mejadikan tradisi di Si­anggai Anggai harus dilesta­rikan dan dibuatkan seja­rahnya, agar generasi penerus bisa terus menjaga dan mem­budayakan tradisi unik ini. “Untuk peringatan tiga tahun berikutnya, harus ditanggung Pemda dan kalau bisa kita undang media nasional, ” sebut H. Yulfadri Nurdin.

“Saya sudah menyaksikan secara langsung tardisi masyarakat Sianggai-Anggai ini. Dan ternyata ini benar-benar luar biasa dan bisa lebih mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta Alam dan bisa mendo’akan para leluhur kita. Ini benar-benar bisa menjadi contoh oleh masyarakat nagari lain,” terang Yulfadri Nurdin berkaca-kaca.

Usai menghadiri acara bakawue, Wabup Solok meninjau SD negeri 20 Sariak Alahan Tigo yang terletak di Sianggai-Anggai dengan didampingi Kadis Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Zulkisar, Kepsek SD negeri 20, Titin Sumarni, S. Pdi, MM, Komite Sekolah, Arfas dan segenap Majelis guru SD Negeri 20.

Kepada Wabup Solok dan Kadis Pendidikan, Kepsek Titin Sumarni berharap agar Sekolah yang dipimpinnya bisa mendapat perhatian dari pemerintah karena banyak yang harus dibenahi, seperti pagar sekolah dan perpustakaan yang belum ada.

Reporter: Wandy
Editor : Ujang jarbat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here