Pertunjukan Seni dari Gelanggang ke Gelanggang

0
72

SOLOK,  JN- “Pertunjukan seni dari gelanggang ke gelanggang selain silaturrahmi adalah media interaksi para penggiat seni menyoal bagaimana berkesenian kekinian dan ke depannya, ditenggarai sprit berkesenian konten lokal dan mengakar pada budaya setempat mulai tergerus oleh arus globalisasi”, sebut M.A.Dalmenda Dt.Pamuntjak Alam, Minggu ( 24/2) di Salayo.
Pihaknya  mengapresiasi pertunjukkan seni lintas anak nagari di kediaman Wabup Solok yang digagas Dewan Kesenian Kabuopaten Solok dibawah pimpinan Edi Satria.
Meski demikian, kata kandidat Doktor Ilmu Komunikasi dan Politik Unpad Bandung ini, seniman jangan hanya larut dalam  pagelaran belaka tetapi juga menjadi ruang diskusi kreativitas menciptakan karya terbaru dengan menggambarkan  yang mengakar pada nilai-nilai tradisi, identitas budaya setempat pada masing nagari.
“Disinilah letak ruang kreativitas berkesenian dan budaya. Kesenian itu tidak monoton dengan hanya menampilkan kesenian yang sudah ada. Artinya, pertunjukan seni itu hanya pertujukkan  pengulangan”, ucap dosen Ilmu Komunikasi, Fisip Unand yang juga penggiat seni ukir dan seni batik ini.
Bagi pemerintah Kab.Solok  ketika bicara pentingnya tumbuh dan berkembang seni dan budaya untuk dilestarikan jangan hanya sebagai jargon belaka dan hanya punya perhatian setengah hati, sehingga group atau sanggar seni itu bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan tapi matipun tak mau. Mereka butuh pengayoman dan pendanaan yang mencukupi.
“Bupati harus piawai dan jeli juga menempatkan aparatur pada Dinas Pariwisata cerdas dan memiliki naluri dan spirit berkesenian pula  atau merengkrut disiplin ilmu berlatar seni dan pariwisata misalnya, agar bisa merancang dan berkelindan dengan para penggiat seni,” sebut Dalmenda. 
Lebih jauh dikatakan Dalmenda Pamuntjak,  untuk memahami kreativitas dalam berkarya seni pengenalan akan tradisi yang semakin hilang dan ini menjadi tugas  para generasi muda sebagai paga nagari di kampung halamannya atau secara luasnya di alam Minangkabau. 
Guna mewujudkan itu dibutuhkan kepeduian untuk mulai memelihara kesadaran berkesenian sebagai nagari yang berbudaya akan kearifan nilai-nilai lokal yang masih berlaku. 
“Nilai-nilai lokal dan mengakar pada budaya dalam nagari itu yang bisa dijadikan pijakan untuk merefleksikan  tujuan  sebagai nagari yang memiliki potensi dengan segala keberagaman yang dimiliki,” terangnya. 
Seni bukanlah benda, melainkan nilai yang dilihat oleh penikmat seni yang terkandung dalam benda tersebut. Nilai itu sifatnya abstrak, hanya ada dalam jiwa perorangan. Nilai itulah yang akhirnya berkembang menjadi sebuah kebenaran yang normatif sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di tengah masyarakatnya.
“Sebuah benda seni harus memiliki wujud agar dapat diterima secara inderawi oleh orang lain. Karena dalam proses itu makna atau nilai  dari suatu karya seni akan muncul. Nilai yang biasa ditemukan dalam karya seni ada dua, yakni nilai bentuk (inderawi) dan nilai isi (di balik yang inderawi)”, jelas anak Nagari Salayo ini (01/jn) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda