Pengembangan Sapi Potong Melalui Penerapan Tekhnology Kebuntingan Dini

0
504

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, saat ini sedang giat-giatnya untuk meningkatan populasi dan produktivitas ternak sapi dalam upaya mendukung program pemerintah dalam mewujudkan swasembada daging nasional.

Hal ini ditandai dengan program “sejuta Simmental” yang diluncurkan beberapa tahun yang lalu. Selain itu juga didukung dengan program bantuan bagi kelompok tani ternak berupa pengadaan sapi untuk program pembibitan. Selain program Sarjana Membangun Desa (SMD) yang juga cukup lama berjalan. Dari sekian banyak program tersebut, terpantau hanya beberapa kelompok peternak yang kegiatannya masih berjalan, sehingga keberlanjutan program tersebut kurang terlihat. Diantara penyebab kurangnya keberlanjutan program pemerintah tersebut adalah faktor keterbatasan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam mengoptimalkan usaha ternaksapi.

Diantara permasalahan yang dihadapi peternak pembibitan sapi potong adalah manajemen pemeliharaan yang kurang baik, ketersediaan pakan yang kurang memadai,rendahnya nilai gizi pakan yang diberikan, pengetahuan birahi/ deteksi kebuntingan yangmasih kurang. Disamping itu, kurangnya penanganan penyakit dan pemanfaatan urin danfeses ternak sapi.
Padahal, jika urin dan feses dapat dikelola dengan baik, akan memberikantambahan penghasilan bagi peternak.Namun, saat ini potensi yang dimiliki belum tergali secara optimal, hal ini disebabkanbelum tersedianya sumberdaya manusia yang memadai untuk pengembangan ternak sapi.Disamping itu, lahan pertanian yang luas sangat cocok dilakukan usaha tani. Disisi lain, saatini umumnya pemeliharaan ternak dilakukan petani/ peternak masih seadanya baik dalampemberian makanan maupun dalam manajemen pemeliharaan pada umumnya. Penyediaanpakan dari segi kualitas, kuantitas maupun dari kesinambungan di daerah ini sangat fluktuatif.

Lebih lanjut, pengetahuan peternakan akan reproduksi ternak / deteksi kebuntingan diniternak juga rendah. Rendahnya pengetahuan peternak akan pakan dan deteksi kebuntingandini sehingga akan berdampak terhadap produktivitas sapi. Produktivitas ternak sangat bergantung pada tiga faktor utama yaitu perkawinan (breeding), pemberian pakan (feeding),dan manajemen. Rendahnya pengetahuan peternak produktivitas ternak sehinggamenyebabkan terkendala dalam pengembangan usaha peternakan sapi.Untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak sapi maka perlu dilakukanbudidaya sapi potong yang basik dan berbasis mengutungkan. Penyuluhan danpendampingan teknis budidaya sapi potong yang tepat yang memenuhi standar GoodFarming Practice (GFP).

Disamping itu, manajemen reproduksi merupakan faktor yang tidakkalah penting dibandingkan pemeliharaan itu sendiri. Untuk mendapatkan manajemenreproduksi yang optimal dibutuhkan metode deteksi kebuntingan yang efektif dan efisienpada ternak dalam meningkatkan produktivitas ternak. Disamping itu, deteksi kebuntingan ternak merupakan suatu hal yang sangat pentingdilakukan setelah ternak dikawinkan.

Secara umum, deteksi kebuntingan dini diperlukandalam hal mengindentifikasi ternak yang tidak bunting segera setelah perkawinan atauinseminasi, sehingga waktu produksi yang hilang karena infertilitas dapat ditekan denganpenanganan yang tepat seperti ternak harus dijual atau dilakukan culling. Hal ini bertujuanmenekan biaya pada program breeding dan membantu manajemen ternak secara ekonomis.

1. Budidaya Sapi Potong yang Baik Berbasis Menguntungkan

Produktivitas ternak sangat bergantung pada tiga faktor utama yaitu perkawinan(breeding), pemberian pakan (feeding), dan manajemen. Manajemen pemeliharaan menjadisalah satu faktor penting karena bersentuhan langsung dengan ternak. Untuk meningkatkanproduktivitas sapi dapat dilakukan melalui pakan, program pemuliaan, perbaikan efisiensireproduksi, perbaikan tatalaksana pemeliharaan, dan perawatan. (Inounu et al., 2002). Saat ini, peluang beternak sapi potong masih tetap terbuka, hal ini disebabkan karenapermintaan daging sapi yang terus menerus menunjukkan peningkatan.
Pemeliharan sapipotong dapat dibagi atas dua tujuan yaitu usaha penggemukan dan pembibitan. Usahapembibitan sapi potong merupakan usaha yang cukup potensial dikembangkan di masyarakatmengingat pemeliharaan tidak membutuhkan penanganan yang banyak membutuhkan waktuatau intensif. Sehingga cocok untuk dikembangkan di desa-desa dimana sebagian peternakanmasih menjadi usaha sampingan selain bertani. Pada usaha penggemukkan diperlukanperhatian yang lebih serius agar diperoleh keuntungan yang banyak.

Pada usaha pembibitan sapi potong keuntungan yang diperoleh terutama dari anak yangdilahirkan dan juga kenaikan harga induk. Untuk mendapatkan keuntungan yang banyakterutama dari kelahiran anak diperlukan syarat-syarat tertentu seperti makanan yang cukup,bibit yang baik dan waktu mengawinkan sapi yang tepat setelah melahirkan.

2. Teknologi Deteksi Kebuntingan Dini Sapi Potong Manajemen reproduksi merupakan faktor yang tidak kalah penting dibandingkanpemeliharaan itu sendiri.

Untuk mendapatkan manajemen reproduksi yang optimaldibutuhkan metode deteksi kebuntingan yang efektif dan efisien pada ternak dalammeningkatkan produktivitas ternak. Deteksi kebuntingan merupakan suatu hal yang sangatpenting dilakukan setelah ternak dikawinkan. Secara umum, deteksi kebuntingan dinidiperlukan dalam hal mengindentifikasi ternak yang tidak bunting segera setelah perkawinanatau inseminasi, sehingga waktu produksi yang hilang karena infertilitas dapat ditekandengan penanganan yang tepat seperti ternak harus dijual atau dilakukan culling. Hal inibertujuan menekan biaya pada program breeding dan membantu manajemen ternak secaraekonomis.Melihat realitas di lapangan para peternak memelihara ternaknya yang sudah dilakukaninseminasi/ IB masih standarisasi pemahamannya mengenai kapan waktu dan secepatmungkin untuk melaporkan dalam periksaan kebuntingan pada ternak sapi yang dipelihara,yang terkadang tidakk semua ternak sapi yang IB positif bunting, dalam hal ini harusdilakukan pemeriksaan kebuntingan dini.

Deteksi kebuntingan dini pada ternak sangat penting bagi sebuah manajemen reproduksisebagaimana ditinjau dari segi ekonomi. Mengetahui bahwa ternaknya bunting atau tidakmempunyai nilai ekonomis yang perlu dipertimbangkan sebagai hal penting bagi manajemenreproduksi yang harus diterapkan. Pemilihan metode tergantung pada spesies, umurkebuntingan, biaya, ketepatan dan kecepatan diagnosa. Pemeriksaan/ diagnosa kebuntingan adalah salah satu cara dengan menggunakan metodekhusus untuk menentukan keadaan hewan bunting atau tidak.
L Palpasi rektal adalah metodediagnosa kebuntingan yang dapat dilakukan dengan tepat pada ternak besar seperti kuda,kerbau dan sapi. Dalam hal ini yang ingin dilakukan adalah palpasi rektal pada umurkebuntingan dini karena metode ini adalah salah satu dari beberapa metode yang seringdilakukan dan tanpa memakan biaya dan tenaga yang cukup lama, tetapi yang seringdilakukan adalah palpasi pada umur kebuntingan tua.

Keterampilan untuk menentukan kebuntingan secara dini sangat perlu untuk dimiliki, dalam hal ini semakin cepat kita mengetahui ternak itu bunting atau tidak bunting maka semakin baik. Mengingat hal ini waktu yang menjadi tolak ukur dalam manajemen pemeliharaan ternak yang hanya akan mendatangkan kerugian bagi para peternak, maka salah satu aletrnatifnya melakukan deteksi kebuntingan dini.

Bila diketahuinya status kebuntingan dalam waktu yang menjadi tolak ukur dalam manajemen pemeliharaan ternakyang hanya akan mendatangkan
kerugian bagi peternak, maka salah satu alternatifnya adalah melakukan deteksi kebuntingan dini. Bila diketahuinya status kebuntingan dalam waktu yanglebih cepat dan akurat, peternak dapat mengambil tindakan lanjutan, misal menyesuaikanpakan apabila induk bunting atau menjual ternaknya apabila tidak bunting akibat infertilitas, sehingga peternak tidak akan mengalami kerugian yang besar akibat biaya pemeliharaan yangdikeluarkan pada sapi yang diinseminasi. Untuk diketahui deteksi kebuntingan secara dini dengan teknik palpasi rektal dan USG dapat digunakan yakni eksplorasi rectal adalah palpasi/meraba uterus melalui dinding rectum(anus) untuk meraba apakah terjadi pembesaran yang terjadi selama kebuntingan atau adanyamembrane fetus maupun fetus.
Teknik ini hasilnya dapat diketahui dan cukup akurat namunharus dilakukan oleh tenaga profesional seperti inseminator maupun dokter hewan.Disamping itu metode deteksi kebuntingan pada ternak sapi dilakukan secara konvensionalyaitu dengan pengecekan fisik secara langsung (perogohan/palpasi rectal) yang hanya bisadilakukan 60 hari setelah inseminasi. Sedangkan USG dapat digunakan untuk mendeteksikebuntingan secara dini yakni menggunakan probe yang dapat mendeteksi adanya perubahandi dalam rongga abdomen yakni bentuk dan ukuran dari comua uteri.

Alat ini dapat jugadigunakan untuk mendeteksi adanya gangguan reproduksi, kematian embrio dini, jeniskelamin pedet maupun abnormalitas pedet, akan tetapi harganya cukup mahal danmemerlukan operator yang sudah terlatih. Menurut Syaiful (2018), deteksi kebuntingan dini pada sapi lokal dapat dilakukan denganmetode punyakoti dengan tingkat kebuntingan mencapai 80% pada kebuntingan 60 hari setelah di inseminasi. Adanya teknologi tes kit deteksi kebuntingan dini ini tentunya akanmemberikan peluang untuk mengetahui sapi bunting pada usia kebuntingan dini. Teknologi tes kit deteksi kebuntingan dini dapat digunakan untuk mengetes kebuntingansapi yang sudah diinseminasi. Penggunaan tes kit deteksi kebuntingan dini sapi ini dapatdilakukan lebih dini dan tanpa beresiko serta tidak membutuhkan skill. Disamping itu, ujideteksi kebuntingan hanya membutuhkan urine sapi saja untuk mendeteksi kebuntingan dengan akurasi yang sangat tinggi. Keunggulan lainnya dapat mendeteksi usia kebuntingansapi dalam 2-3 minggu dan waktu pendeteksian kebuntingan hanya membutuhkan waktubeberapa menit saja.

Tak kalah penting bahwa penggunaan tes kit deteksi kebuntingan dini ini jauh lebihekonomis dibandingkan palpasi rektal. Hasil survei dilapangan, untuk pengecekankebuntingan dengan palpasi rektal, biasanya peternak harus mengeluarkan biaya Rp 35.000s/d 50.000 per deteksi. Sedangkan penggunaan test kit kebuntingan dini ini, peternak hanyamembutuhkan biaya Rp 6.000 per deteksi. Deteksi kebuntingan dini pada sapi induk ini dapat meningkatkan efisiensi reproduksisehingga dapi induk yang diketahui belum bunting dapat segera dikawinkan kembali.

“Hal ini bisa memperpendek masa kosong atau kering dan sapi induk yang telah secara dini diketahuibunting dapat segera dipelihara secara lebih baik untuk menjaga dan menyelamatkan kebuntingan sampai lahir dengan selamat. Disamping itu peternak juga dapat meningkatkanefisiensi reproduksi sapi dan menekan biaya produksi. Ada baiknya program ini diintegrasikan dengan program UPSUS SIWAB (Upaya khusus sapi indukan wajib bunting)yang merupakan program unggulan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan kebuntingansapi agar meningkatkan populasi dan produktivitas sapi dalam upaya pengembangan sapi potong khususnya di daerah Sumatera Barat. Semoga bermanfaat!
(penulis adalah Ferry Lismanto Syaiful, Dosen Universitas)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda