Pendidikan Karakter Berbasiskan Keteladanan: Sebuah Refleksi dalam Mencontoh dan Meneladani Rasulullah

0
88

Oleh: Dr. Muhammad Idris, MA.

KONDISI nyata saat ini, sering terjadinya penyimpangan perilaku di kalangan remaja marak terjadi. Seperti kaum muda lebih tertarik dengan gaya hidup yang berasal dari budaya Barat baik dalam pola makan, minum maupun pola berpakaian. Fenomena lainnya terjadinya perkelahian antar pelajar, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, LGBT beserta penyakit masyarakat lainnya. ini mengindikasikan telah lunturnya nilai-nilai karakter di kalangan generasi muda.
Memperhatikan kondisi tersebut, pemerintah terus berusaha melakukan uapaya-upaya nyata yaitu dengan mengeluarkan Peraturan Presiden nomor 87 tahun 2017 tentang PPK (Penguatan Pendidikan Karakter). Peraturan Presiden tersebut merupakan gerakan pendidikan yang berada di bawah tanggungjawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental.
Berbagai kebijakan beserta usaha nyata yang telah dilakukan pemerintah, belum membuahkan hasil yang signifikan terhadap pembinaan karakter. Menurut penulis ada satu hal besar yang belum dilakukan pemerintah secara bersama-sama dan serius oleh seluruh elemen bangsa. Hal besar tersebut termaktub dalam sebuah kisah inpiratif, yaitu “ di sebuah desa, hiduplah seorang ruhaniwan (ahli ibadah) yang sangat rajin membantu dan melayani umatnya melalui doa-doa yang disampaikannya untuk menyembuhkan orang sakit. Suatu hari, ada seorang gadis kecil yang merasa sedih karena sapi kesayangannya sakit dan tidak bisa mengeluarkan susu seperti biasanya. Ketika itu tidak ada dokter hewan yang bisa mengobati sapinya yang sedang sakit. Dalam keputusasaanya teringat olehnya seorang ruhaniwan yang tinggal di desanya. Dia berpikir “jika manusia saja bisa disembuhkan melalui doanya, apalagi sapinya, kan sama-sama ciptaan tuhan”.
Akhirnya, ditengah malam yang dingin dan hujan lebat, ia memberanikan dirinya pergi menemui sang ruhaniwan untuk meminta doa agar sapinya bisa sembuh. Ruhaniwan yang sudah seharian melayani umatnya merasa letih sehingga agak malas untuk membukakan pintu yang diketuk berkali-kali oleh seorang gadis kecil. Lebih kaget lagi, ternyata seorang gadis kecil yang datang dalam keadaan sehat. Si gadis kecil pun mengutarakan maksudnya agar ruhaniwan berkenan mengunjungi sapinya yang sedang sakit dan mendoakannya agar sapinya lekas sembuh. Timbul rasa enggan dan meremehkan dalam diri ruhaniwan. Keengganan semakin menjadi setelah ia memikirkan kredibilitasnya sebagai seorang ruhaniwan yang terkenal dengan doa-doanya yang menyembuhkan banyak orang sakit, sementara malam ini dia harus menghadapi seekor sapi yang sakit. Akan tetapi, karena panggilan umatnya dia pun berangkat.
Sesampainya di kandang sapi, sang ruhaniwan pun berdoa dalam kekesalannya, “Wahai kau sapi, kalau kau mau sembuh, sembuhlah, tapi kalaupun akhirnya kau mati, matilah”. Setelah itu sang ruhaniwan pun pulang. Esok siangnya, kondisi sapi mulai pulih dan perlahan-lahan sembuh, bahkan dalam beberapa hari kemudian si gadis kecil dapat kembali menikmati susu sapinya. Ia pun gembira dan semakin kagum kepada sang ruhaniwan.
Selang beberapa bulan kemudian, sang ruhaniwan jatuh sakit. Banyak orang berupaya untuk menyembuhkan dan mendoakannya. Kabar tersebut sampai ke telinga gadis kecil tadi. Ingin sekali rasanya untuk membalas budi ruhaniwan yang telah mendoakan sapinya hingga sembuh. Sebagai bukti balas budinya, dia ingin melawat ruhaniwan dan mendoakannya. Sampai di rumahnya, didapati sang ruhaniwan sedang terbaring lemah di tempat tidur. Si gadis kecil tadi meminta izin untuk mendoakanya, dia pun berdoa, “wahai bapak, kalau kau mau sembuh, sembuhlah! Akan tetapi, kalaupun akhirnya kau mati, matilah!”.
Satu hal yang menarik dalam kisah tersebut yaitu TELADAN. Teladan merupakan kata yang tidak pernah lekang sepanjang kehidupan, apalagi jika digunakan untuk pembinaan, baik pembinaan anak dalam keluarga, masyarakat atau pembinaan dalam sebuah organiasi. Teladan memang sebuah kata yang terdiri dari tujuh huruf tetapi memiliki kekuatan yang sangat dahsyat untuk mengubah perilaku seseorang. Teladan juga merupakan kata yang paling mudah untuk diucapkan, namun sangat sulit untuk dilaksanakan, bahkan teladan ini adalah saudara dekat dengan kemunafikan. Teladan bukanlah sesuatu hal yang diucapkan secara berulang-ulang disetiap waktu dan kesempatan. Tidaklah berlebihan jika sebuah pepatah kuno mengatakan bahwa “satu perbuatan sama nilainya dengan seribu kata yang diucapkan”. Dalam kehidupan keluarga, anak merupakan imitator (peniru) ulung sehingga apa yang diperbuat dan diucapkan oleh orang tuanya atau orang yang lebih besar cendrung untuk ditiru.
Pendidikan karakter yang sedang digalakkan pemerintah saat ini merupakan sesuatu hal yang sangat bagus dan suatu keharusan. Tetapi, pendidikan karakter tanpa dibarengi atau didasari dengan teladan yang baik dari seluruh element bangsa, maka perubahan yang akan diharapkan tidak akan pernah berhasil. Bukankah perkelahian yang dilakukan oknum anggota Dewan yang sedang mengikuti sidang, oknum pejabat negara yang melakukan korupsi, manipulasi dan berbagai bentuk perbuatan yang melanggar hukum, oknum guru, dosen dan element-element lainnya ditonton dan disaksikan oleh banyak orang termasuk didalamnya anak dan generasi muda. Tentunya sudah jelas apa yang dilakukan tersebut sebuah teladan yang tidak baik yang akan dicontoh dan diteladani oleh anak yang merupakan imitator ulung.
Puluhan tahun yang silam, Ki Hajar Dewantara sudah mengumandangkan Ing Ngarso Sung Tulodo yang mencerminkan pentingnya memberikan teladan bagi orang lain. Mengeksplorasi keteladan yang dimulai dari diri sendiri merupakan tingkat kesulitan yang tertinggi dan akan menyeret seseorang ke status yang dimurkai oleh sang pencipta yaitu Allah Swt. Dalam al Qur an Surat As-Shaf ayat 2 dan 3 diterangkan yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. (itu) Amat besar kemurkaan di sisi Allah, jika kamu mengatakan apa kamu tidak kerjakan”.
Bagi sebagian individu, menjadikan dirinya sebagai teladan, agak sedikit tertatih-tatih, terlebih jika tidak ada model yang menjadi standar untuk dicontoh. Itulah sebabnya, langkah nyata dan sangat mudah untuk dilakukan adalah dengan menjadi model yang proporsional untuk dicontoh dengan secara terus menerus mencontoh dan menauladani sang contoh dan teladan yang baik bagi umat manusia. Contoh dan teladan yang baik itu ada pada diri Rasulullah Muhammad Saw. Sebagaimana yang termaktub dalam al Quran Surat al Ahzab ayat 21 yang artinya “ sungguh telah ada pada diri Rasulullah (Muhammad Saw) itu contoh dan teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”.
Pada bulan Rabiul Awal ini, mari jadikan momentum bagi seluruh element bangsa untuk terus menjadi contoh dan teladan yang baik bagi seluruh manusia sebagaimana contoh dan keteladan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Dengan demikian pendidikan karakter akan dapat diterapkan dan memperoleh hasil yang maksimal (penulis adalah Dosen STAI Solok Nan Indah)***

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda