Pelajaran PMP dan Sejarah Perlu Dikembalikan ke Sekolah

0
170

SOLOK, JN- Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP provinsi Sumatera Barat, Suardi, S. Pd, menyebutkan bahwa pemerintah harus menghidupkan kembali mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di sekolah-sekolah, sebab PMP sudah mampu menjadikan anak didik memahami norma-norma fan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita sangat setuju dan betharap agar Kemendikbud menghidupkan lagi dalam kurikulum di Indonesia oleh kembali mata pelajaran PMP dan Sejarah kedalam kurikulum pelajaran, ” tutur Suardi, saat berbincang dengan media ini, di ruang kerjanya, Kamis (2/4).

Pihaknya juga berharap, kalau PMP dikembalikan ke mata pelajaran sekolah, maka tentu akan disertai penataran P4 seperti pada era Orde Baru dimana hal itu bisa makin menumbuhkan akhlak sianak terhadap cinta tanah air yang lebih bermoral.

“Pancasila itu luar biasa buat bangsa kita, dan itu terbukti mampu menumbuhkembangkan rasa kebersamaan dan membentuk akhlak anak didik makin lebih berwatak,” sebut Suardi, yang juga Menjabat sebagai Kepala sekolah SMP negeri 2 Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok.

Keinginan Suardi agar mata pelajaran PMP dan Sejarah dibalikan ke Sekolah-sekolah, tentu sangat beralasan. Apalapagi sejak ada HAM, guru sangat takut mendidik anak tetlalu keras karena takut akan salah.
“Kalau kita keras sedikit saja, nanti kena HAM pula. Tetapi kalau pendidikan moral yang ditanamkan, saya optimis ini akan berdampak positif, ” sebut mantan Kepsek SMP Negeri 3 Gunung Talang itu.

Lebih jauh disebutkan Suardi, dengan menghidupkan kembali PMP itu di sekolah-sekolaj, merupakan aspirasi masyarakat. Masyarakat ingin pelajaran PMP itu diajarkan lagi di sekolah. Pemerintah harus menyikapi dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat itu.

“Saya kira semua guru di Republik ini setuju agar mata pelajaran PMP dihidupkan kembali. Dan itu katanya pemerintah juga sudah meresfon, ” sebut Suardi.

Menurut Suardi, ada hal yang luar biasa dalam pelajaran PMP, yaitu pendidikan moral. Namun saat ini PMP sudah diganti dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Pendidikan moral-nya hilang. Karena itu pelajaran-pelajaran yang mengajari soal integritas perlu dihidupkan kembali.

“Saya berharap agar Kemendikbud harus menyikapi dan menindaklanjuti aspirasi dari masyarakat untuk menghidupkan kembali pelajaran PMP ini di sekolah-sekolah seperti zaman dulu, ” cetus Suardi.

Wakil Bupati Solok, H. Yulfadri Nurdin, juga sependapat dengan Suardi. Menurut Wabup, PMP dam Sejarah adalah dua mata pelajaran penting sejak Orde Baru dan itu dinilai sukses dalam membentuk akhlak generasi penerus.

Apalagi tengah tantangan globalisasi yang begitu kuat sekarang ini, yang mana telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan para orang tua.

“Dulu, kekhawatiran itu masih dibentengi dengan Pendidikan Moral Pancasila. Globalisasi saat ini telah menggeser nilai-nilai luhur Indonesia karena masuknya budaya asing. Dengan globalisasi tentu benteng kita harus diperkuat dan kita bisa melawan dengan Pendidikan Moral Pancasila,” terang H. Yulfadri Nurdin (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda