Niniek Mamak Mulai Cemaskan Generasi Muda Tidak Lagi Mengenal Adat Minangkabau

0
412

SOLOK, JN- Peran ninik mamak di Minangkabau sangatlah besar dan memiliki tanggung jawab besar dalam menghadapi ancaman degradasi moral yang terjadi pada generasi muda.

“Degradasi moral yang terjadi saat ini di Minangkabau, perlu mendapatkan perhatian yang sangat serius dari kita semua para ninik mamak, ” jelas pengurus LKAAM Kabupaten Solok, Syahrial Chan dt Bandaro Hitam, saat berdialog dengan media ini, bersama tokoh masyarakat Bukit Sundi, Poni Munir Panduko Sati, di Solok, Sabtu (13/7).

Menurut Syahrial Chan dt Bandaro Hitam, merosotnya moral generasi muda, tidak terlepas dari tanggungjawab niniek mamak dalam suku dan dalam nagari. Selain itu, menghadapi era globalisasi, generasi muda harus dibentengi dengan ilmu waris Minangkabau.
“Saya optimis, generasi muda sekarang mungkin sudah banyak yang tidak memahami istilah jo “Ampek” atau ka lereng samo mandaki ka lurah samo manurun, ” sebut Syahrial Chan dt Bandaro Hitam.

Ancaman degradasi moral ini, diakui beliau semakin besar. Untuk itu butuh pengawasan dari pengaruh dan pemahaman nilai-nilai yang tidak susuai dengan adat budaya serta agama Islam yang dianut masyarakat minang.

“Peran ninik mamak selaku penanggung jawab dalam sebuah kaum di lingkungan anak kemanakan di Ranah minang, dapat dilihat berdasarkan kewenangan dalam menjatuhkan sanksi sosial terhadap kemenakan dan kaum yang di pimpinya. Apa bila melanggar, apakah sanksi itu sudah ditegakan, ” sebut Syahrial Chan.
Bila sanksi dijatuhkan, maka tidak akan ada ada lagi pembelaan lain yang bisa menggugatnya. Karena peran itulah, ninik mamak atau pimpinan kamun sangat dihargai di Minangkabau.

Selain itu menurutnya, penghulu memiliki tanggungjawab moral yang besar, tanggung jawab itu bukan saja terhadap kaum yang dipimpin, tapi juga terhadap masyarakat secara umum, sesuai dengan sumpah adat saat dilantik sebagai penghulu, dimana pertanggung jawabanya dunia dan akhirat.

“Saking besarnya anggung jawab seorang ninik mamak, sehingga dia harus membimbing anak kemenakan menjadi bagian dari kewajibanya disamping juga anak dan istrinya,” sebut Syahrial Chan.
Hal itulah saat ini yang sudah terabaikan, mamak berjalan sendiri, keponakan juga berjalan menurut apa yang dia suka.

Disebutkannya, gelar yang diberikan oleh kaum kepada ninik mamak yang ditinggikan seranting dan dahulukan selangkah, bukan saja muncul secara sendirinya. “Tetapi hal itu semua karena kepercayaan. Makanya kepada kaum dan kemenakan yang dipimpin harus pula mentaati dan mematuhi segala peraturan adat serta etika bermasyarakat. Sebab bila ini terjaga maka kemaslahatan dan keselamatan bermasyarakat akan kokoh dan tidak bisa tergoyahkan,” terang Syahrial Chan.

Tokoh madyarakat Kabupaten Solok yang juga anggota DPRD Kabupaten Solok terpilih priode 2019-2024, Poni Munir Panduko Sati, juga berharap agar ninik mamak dan kaum muda lebih sering menggelar dialog agar mereka memahami adat istiadat Minangkabau.
“Kalau tidak belajar, apa nanti mereka akan mengerti istilah jalan baduo nak ditangah, jalan surang nak dimuko atau istilah lainnya yang tersirat, ” sebut Poni Munir Panduko Sati.

Pihaknya juga menghimbau kepada sesama penghulu atau pemimpin kaum di Ranahminang, untuk secara bersama-sama menjaga kebesaran seorang penghulu.
Sebab bila ini terabaikan, maka wibawa seorang penghulu akan hilang dan akhirnya membuat kaum yang dipimpinya tidak lagi mendengarkan nasehat yang disampaikan.

Minangkabau adalah daerah yang menjunjung tinggi adat dan istiadat. Banyak sekali Contoh Pituah dan Pantun nasehat Minang jepada anak laki-Laki Minang atau pituah Minang kepasa anak bujang yang bisa dijadikan bahan renungan, bahan ajar untuk anak muda Minangkabau pada zaman sekarang.

“Dulu, Orang tua kita di Minangkabau selalu membekali anak laki-laki mereka dengan banyak wejangan atau sering dusebut dengan pituah. Semua pituah ini selain berguna bagi kehidupan sang anak dikemudian hari, juga bisa diterapkan oleh anak non Minang. Karrna pituah minang ini bersifat universal dan berlaku untuk semua anak laki-laki,” jelas Poni Munir Panduko Sati.

Untuk itu, Poni Munir juga berpesan agar ninik mamak mewariskan ilmunya kepada anak kemenakan agar nanti Minangkabau tidak tinggak “Kabaunya” saja (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda