Muhammad Idris Anak Tukang Batubata Lulusan Terbaik Program Doktor Pendidikan Islam UIN Imam Bonjol Padang

0
1109

PADANG, JN- Muhammad Idris adalah anak ke-2 dari 6 saudara dari pasangan Syamsul Bahri dan Nurlis.
Kisahnya bisa dijadikan motivator bagi kita semua.

Dia terlahir dari pasangan keluarga yang sangat miskin pada tanggal 17 April 1981 di Alai Kenagarian Ampiang Parak Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan. Pernah merasakan sulitnya kehidupan ketika itu, makan sekali sehari dan diselingi dengan makan singkong rebus. Pada usia Sekolah Dasar sudah ikut menopang ekonomi orang tua dengan cara ikut menarik pukat sepulang sekolah dan mengembalakan sapi. Ketika libur panjang (lebih kurang 1 bulan), ketika itu ikut membantu orang tua bekerja yaitu mencetak batu bata dan berkebun tanaman muda di Lubuk Pinang Kabupaten Bengkulu Utara. Pada usia SD tersebut pernah Idris mengalami kecelakaan yang sangat sadis yaitu tertusuknya dada bagian tengah oleh tangkai parang ketika mengejar babi yang memakan tanaman hijau (kacang tanah) pada sore hari. Luka akibat tertusuk tangkai parang tersebut terpaksa dijahit 14 buah jahitan.
Setelah lulus dari Sekolah Dasar Inpres Nomor 50 Alai tahun 1994, Idris melanjutkan pendidikan di MTs Muhammadiyah Surantih. Ketika sekolah di MTs kegiatan membantu ekonomi orang tua terus dilakukan tanpa henti dengan cara berjualan cabe, bawang, tomat, dan sebagainya setiap hari minggu di Pasar Surantih. Hasil penjualan dapat melengkapi keperluan rumah tangga orang tua untuk kebutuhan selama satu minggu, kelebihannya ditabungkan pada Bank BRI di kala itu.

Setelah tamat MTs Muhammadiyah tahun 1997, dengan bermodalan nekat dan dengan Motto “Dimana ada kemauan di situ ada jalan”, melanjutkan sekolah ke MAN (Madrasah Aliyah Negeri Salido) tahun 1997. Selama mengikuti sekolah di MAN Salido dan tinggal jauh dari orang tua, namum semangat membantu perekonomian orang tua tidak pernah pudar. Pekerjaan sampingan yang dilakukan adalah kegiatan mengajar mengaji di TPA, jadi khatib Jumat dan memukat (menangkap ikan) setiap hari minggu. Dengan kegiatan tersebut mampu membiayai kebutuhan sekolah ketika itu dan setiap bulannya mengirimkan bantuan belanja untuk orang tua serta disisakan untuk menabung di BRI. Jauh jarak dari orang tua, terpaksa pulang sekali dua bulan dan setiap pulang kampung dan akan kembali ke kos, sering mendapati orang tua dalam keadaan sedih dan menangis disebabkan tidak mampu memberikan uang untuk kebutuhan sekolah seperti layaknya kebanyakan orang tua yang lainnya. Dengan keadaan seperti itu, semangat dan tekad sekolah tidak pernah pudar. Perjuangan tersebut sampai berakhir tamat MAN tahun 2000.

Pada tahun 2000 dengan bermodalkan uang 400.000 (empat ratus ribu rupiah) hasil tabungan selama ini, Idris mencoba melanjutkan kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang, dan lulus melalui jalur PMDK (undangan tanpa test) pada Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam. Keinginan untuk kuliah ketika itu sangat menggebu-gebu, karena merasa jumlah uang tersebut tidak cukup untuk biaya kuliah perdana, dicoba untuk meminta bantuan ke mamak, jangankan bantuan uang yang didapat, malahan kata-kata perih yang diucapkan yaitu ”kalau tidak ada biaya kenapa harus kuliah, banyak orang yang kaya tetapi anaknya nggak kuliah”.

Tidak hanya dari mamak kata-kata cacian yang muncul, dari masyarakat kampung pun ikut melontarkan kata cacian “awak bansaik kandak kuliah lo” (kita miskin, mau kuliah pula-red). Kata-kata perih dan cacian tersebut menjadi cambuk bagi Idris untuk terus melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi.

Tepat pada pertengahan tahun 2000, Idris menginjakan kaki di IAIN Imam Bonjol Padang pada Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam. Pada 3 bulan pertama Idris kuliah, Idris tinggal di kos bersama teman, sebetulnya ingin sekali tinggal di Masjid atau di Mushalla sebagai petugas masjid/mushalla (Marbot), tetapi sudah tiga bulan mencarinya, namun tidak kunjung dapat. Dipaksakan juga tinggal di kos, dalam waktu tiga bulan tersebut pernah sakit seminggu karena sering makan mie rebus. Pada bulan ke empat kuliah, masih pada tahun 2000 tersebut barulah dapat tempat tinggal di Mushalla di Perumnas Belimbing. Disanalah menghabiskan masa menjadi Marbot, guru ngaji di TPA, ngajar privat ke rumah-rumah.
“Alhamdulillah honor yang saya dapat melebihi dari kebutuhan dan dapat mengirim belanja untuk orang tua setiap bulannya ke kampung,” sebut Idris, saat berbincang dengan media ini Senin (21/10).

Rutinitas ini Idris jalani sampai wisuda pada tahun 2004. Sebelum wisuda, yaitu pada semester VII setelah kembali dari KKN (Kuliah Kerja Nyata) tahun 2003, Idris memiliki sisa honor guru ngaji yang ditabung dan dapat membeli sepeda motor seharga Rp. 5.500.000. Kemudian pulang kampung dengan motor tersebut, kembali Idris mendapat kata-kata yang tak enak didengar dari masyarakat yaitu “tek, tek Honda sia loh nan nyo rental dek Si Idris tu (motor siapa pula yang dirental Si Idris tu)” katanya kepada orang tua (mak).

Setelah Idris diwisuda pada tahun 2004 itu, Idris mengajar di SMPIT Adzkia Padang tahun 2005, pagi dan sorenya di MDA Masjid Raya Baitul Makmur Perumnas Belimbing Padang. Tahun 2006 berhenti dari SMPIT kemudian pindah ke SDN 27 Sei Sapih Kuranji. Sambil honor dan ngajar di MDA, dan pada tahun 2008 melanjutkan kembali pendidikan ke Program Pascasarjana IAIN Imam Bonjol dan pada tahun 2011 mendapatkan gelar Magister Agama (MA) pada Kosentrasi Pendidikan Islam.

Pada pertengahan tahun 2011 memulai karir menjadi dosen luar biasa di STAI Solok Nan Indah dan STAI YPI Al-Ikhlas Painan. Pada tahun 2014 dipercaya sebagai Ketua Prodi PAI di STAI Solok Nan Indah sampai tahun 2016.

Pada tahun 2016, Idris mendapat beasiswa Program 5000 Doktor dari Kemenag RI. Dan pada tanggal 29 Agustus 2019 Idris Promosi Doktor pada Sidang Terbuka dengan mempertahankan disertasi yang berjudul Pengembangan Model Pengelolaan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Berwawasan Kebangsaan di Kota Solok. Dan pada Sabtu tanggal 19 Oktober 2019 Idris diwisuda dengan IPK 3,73 Yudisium Cum Laude dan lulusan terbaik pada Wisuda ke-82 UIN Imam Bonjol Padang pada Program Doktor tersebut.

Demikianlah sekelumit kisah perjalan hidup dan studi Dr. Muhammad Idris, MA anak tukang batubata yang memiliki motto “dimana ada kemauan di situ ada jalan” (asepajidin/wan/01)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda