Miranda Curly Mengkritik Melalui Mural Jalanan

0
178

INi kisah tentang seorang pemuda yang selalu menyuarakan perjuangan untuk rakyat melalui gambar-gambar jalanan yang disebut Mural. Bagi sebagian orangpada masa ini, khususnya pemuda, pasti sangat mementingkan masa depannya ketimbang harus bersusah payah dalam membela dan menentang hak-hak milik orang lain, apa lagi harus benar-benar menjadi pelopor salah satu perjuangan untuk masyarakat yang tertindas dan menyuarakan pelangaran-pelangaran HAM yang ada di tanah air ini.
Ialah Miranda Curly, lahir di Padang pada bulan oktober 1996 dengan jenis kelamin laki-laki. Selama masa kecilnya, iya hanyalah anak kecil yang lahir dikeluarga yang biasa-biasa saja, hobbynya mengambar memang sudah di bawanya sedari kecil. Kesukaannya dalam mengambar manjadikan lukisan sebagai salah satu hal yang sangat ia sukai, hingga pada suatu saat setelah ia kuliah disalah satu Universitas yang ada di kota Padang Miranda pun bertemu dengan salah seorang pelukis jalanan yang juga berkuliah di kampus yang sama dengannya. Disanalah Miranda mulai mengetahui apa tujuan ia melukis.
Setelah akrab dengan temannya itu, Miranda belum memiliki icon dalam menyampaikan apresiasinya pada sebuah lukisan, lukisan yang dicoretnya pada sebuah tembok atau biasa disebut Mural, hanya menggambarkan tentang lelucon-lelucon jalanan saja. Hingga pada satu saat pada tahun 2017, terjadilah sebuah konflik yang bertempat pada Gunung Talang, kabupaten Solok. Konflik itu terjadi karena adanya upaya sebuah PT yang ingin mengelola uap panas gunung menjadi tenaga listrik yang disebut PLTPB (Pembangkit Listeri Tenaga Panas Bumi) dari PT. HITAY DAYA ENERGI. Konflik tersebut sontak menjadi berita yang sangat hangat dikalangan mahasiswa, dan beberapa mahasiswapun menyempatkan diri untuk langsung pergi ke lokasi tersebut dan Miranda adalah salah satu mahasiswa yang ikut dalam kunjungan mahasiswa ke masyarakat. Miranda ikut mendengarkan semua isi hati para ibu-ibu yang menjadi korban kekerasan aparat dan orang PT waktu itu. Kekerasan yang didapat setelah kuliah umum yang buyar akibat tidak terjawabnya pertanyaan salah seorang petani yang berada dilereng gunung Talang tersebut, ia menanyakan “bukankah yang namanya PT itu memiliki limbah yang akan di buang dari hasil pengelolaannya?” lalu orang PT menjawab dalam kuliah umum itu “limbah yang dihasilkan akan aman dan tidak mengandung racun” dan terjadi perdebatan panjang yang terjadi saat sosialisasi PT kepada masyarakat, namun semua jawaban yang diberikan pihak PT tidak memiliki bukti ilmiah dalam menguatkan gagasannya tersebut, dan banyak pertanyaan masyarakat yang menyatakan bahwa ini tidak aman karena akan merusak alam sekitar gunung dan pertanian masyarakat. Karena semua pertanyaan masyarakat itu membuat Pihak PT kehabisan akal untuk menjawabnya dengan sepontan pihak PT langsung menyampaikan seperti ini “saya ini kuliah,memangnya anda ini kuliah?, saya kuliah di amerika tentang ini, dan semua aman, emang anda tu apa tentang PT”. Sontak pernyataan itu membuat masyarakat syok dan geram. Sehingga kedatangan orang PT pun tak pernah disambut baik lagi oleh masyarakat, dan sampai terjadinya konflik antara Masyarakat denga pihak PT yang menunggangi Aparatur negara dalam penyelesaiannya, dengan begitu masyarakat dicap sebagai pembelot pemerintahan, dan ada tiga oran yang menjadi tahanan PT di polresta Solok selatan selama tiga Tahun.
Dari cerita itu Miranda terusik hatinya ingin membantu menyuarakan kesedihan yang dirasakan masyarakat, ia mulai melukis mengenai perjuangan masyarakat yang meminta haknya untuk hidup damai dan tenang di kampungnya sendiri tanpa ada PT yang mengotori lingkungannya. Lukisannya selalu memiliki tema yang pasti dalam menyuarakan hak-hak asasi manusia bersama perkumpulan mahasiswa yang pro kepada masyarakat. Sudah banyak kegiatan mahasiswa dengan upaya membantu dari segi kesenian, dan pengetahuan ilmah mengenai PT dengan mendatangkan ahli dari lulusan luar negeri untuk dijelaskan ke masyarakat.
Berlanjut dari tahun 2017 ke tahun 2018, mahasiswa dan salah satunya Miranda, membuat pangung rakyat yang berisikan puisi, musikalisasi puisi, donasi, serta mural yang dikoordinasikan sendiri oleh Miranda untuk di tunjukan kepada seluruh masyarakat kota Padang yang berkumpul di monumen tugu gempa. Dalam panggung ini Miranda melukis langsung dan menjelaskan maksud dari muralnya di depan kawan-kawan mahasiswa dan masyarakat yang menonton. Semenjak saat itu, banyaklah kawan-kawan mahasiswa yang ternyata juga memperjuangkan Hak Asasi Manusia itu di kampungnya masing-masing. Salah satunya adalah perjuangan masyarakat Simpang Tonang, Pasaman Barat yang menghentikan penambangan emas oleh PT dari Cina tanpa izin masyarakat sekitar. Menurut penyelidikan mahasiswa, tegaknya penambangan emas di Simpang Tonang merupakan bentuk dari berpihaknya pemerintahan kepada PT dengan tidak memperdulikan masyarakat dalam perizinannya, tentu saja itu semua karena uang. Dari sanalah timbul pergolakan masyarakat tidak terima bahwa tanah kelahirannya dijajah oleh negara luar, sehingga terjadi demo dalam penolakan adanya PT tersebut.
Dalam demo tersebut, masyarakat hanya aksi diam dan menolak agar tanah mereka tidak dijajah, dan aksi diam tersebut sedah berlangsung cukup lama sehingga aparat yang menjaga PT tersebut muak, dan melancarkan tembakan kesalah satu kendaraan masyarakat yang ada diloksi. Sontak hal tersebut membuat masyarakat menjadi buyar dan naik pitam, dan terjadilah pertumpahan darah di dapan gerbang PT tersebut. Di ceritakan bahwa terdapat puluhan masyarakat yang menjadi korban dari targedi itu, dan beberapa orang menjadi tersangka dan di penjarakan.
Tentunya hal ini membuat Miranda dan mahasiswa lainnya prihatin, dan semakin membakar semangat dalam menyuarakan Hak Asasi Manusia yang telah dirampas oleh negeri asing, sehingga tulisan dan lukisan menjadi tanduk perjuangan mahasiswa di kota Padang.
Tidak cukup hanya mengandalkan pangung, mahasiswa mulai memikirkan tentang upaya lain dalam menyuarakan Hak Asasi Manusia ini agar bisa didengar oleh pers dan orang banyak. Dan jadilah, Miranda bersama kawan-kawan mencoba upaya yang sudh lama dilakukan di pulau jawa, yang disebut dengan KAMISAN. Di kamisan inilah mahasiswa selalu mengunakan payung hitam dalam bentuk simbul “bahwa Indonesia ini tidak baik-baik saja” dan merupakan simbol duka.
Lukisan-lukisan Miranda menjadi penghias pada kain-kain spanduk yang dibawa dalam aksi kamisan tersebut, dan banyak lukisan-lukisannya ia abadikan disetiap sudut tembok kota Padang ini demi menyuarakan kepentingan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik. (Penulis adalah Teddy Ade Pratama. Sastra Indonesia FIB Univ. Bung Hatta)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda