Masih Banyak Nagari di Bumi Bareh Solok Yang Masih Terisolir

0
123

Oleh: Wandy——————————

MESKIPUN mantan Bupati Solok priode 2010-2015, H. Syamsu Rahim dan mantan Wakil Bupati Solok, Desra Ediwan Anantanur, sudah terlanjur memproklamasikan bahwa seluruh nagari yang ada di Kabupaten Solok sudah terlepas dari keterisolasian, namun nyatanya sampai saat ini masih banyak nagari di bumi penghasil bareh tanamo itu yang belum bisa menikmati kehidupan yang layak. Bahkan belum merdeka secara technology, belum bisa menikmati kendaraan dengan jalan beraspal, belum ada jaringan celluler dan lain sebagainya.

Seperti contoh, di Wilayah Selatan dan bagian Tengah Kabupaten Solok, sebut saja Nagari Sungai Abu dan Sariak Alahan Tigo di kecamatan Hiliran Gumanti, merupakan contoh nagari yang sampai saat ini belum bisa menikmati indahnya berkomunikasi dengan menggunakan HP dan menikmati jalan yang layak. Bahkan dari nagari Talang Babungo, hanya ada satu jalan yang menghubungkan kedua nagari tersebut. Kalau jalan tersebut sempat putus atau longsir, sudau bisa dipastikan kedua nagari itu akan makin terisolasi dari dunia luar.
Mayoritas penduduk nagari Sariak Alahan Tigo dan Sungai Abu adalah bertani atau berkebun. Sementara lahan persawahan memang tersedia, namun tidaklah seluas yang ada di kecamatan lain, seperti Gunung Talang, Kubung, Bukit Sundi, X Koto Singkarak atau yang lainnya. Masyarakat di kedua nagari itu, sudah lama mendambakan agar pihak Telkomsel atau Indosat atau pihak XL untuk memasang tower Celluler di sana, namun sampai hari ini, belum juga terealisasi.

Selain Sungai Abu dan Sariak Alahan Tigo, dari 74 nagari yang ada di Kabupaten Solok, kecamatan Garabak Data yang terdiri dari 5 nagari, juga tidak kalah hebatnya dengan Sungai Abu masalah ketertinggalan. Nagari Garabak Data misalnya, sampai saat ini masyarakatnya masih mengandalkan kuda beban sebagai alat transfortasi untuk mengangukt barang dan ongkosnya dibayar sesuai berat barang yang dibawa dan untuk satu kilometernya bisa dikenakan tarif Rp 3000/berat barang yang diangkut. Kalau berjalan kaki, maka dari nagari terdekat, Batu Bajanjang Baliak yang merupakan letak ibu kecamatan Tigo Lurah, bisa ditempuh sekitar 12 jam perjalanan. Begitu juga dengan nagari Sumiso, Rangkiang Luluih, Kipek, Simanau, Aia Luwo dan SiAro-Aro. Bahkan media ini juga sudah berkali-kali menurunkan berita tentang keteridlsoliran daerah Tigo Lurah itu. Namun hingga saat ini, Pemerintah Daerah, baik Kabupaten hingga ke pusat, belum juga memperhatikan daerah ini.

Selain jauh dari pusat kota, masyarakatnya juga sulit berkomunikasi dengan dunia luar, karena tidak ada tower seluler tadi. Selain itu, jarak yang jauh dari ibukota Arosuka dan kondisi jalan yang rusak berat, membuat masyarakatnya lebih memilih berdiam di kampuang halamannya.

Dari nagari-nagari yang belum bisa disejajarkan dengan nagari tetangganya, bukan tidak ada masyarakatnya yang sukses dan berhasil di luar nagari mereka. Tapi karena kondisi di kampung halaman yang serba terbatas, membuat mereka lebih memilih menetap dan berkarir di tanah rantau.

Sekarang, apakah kita semua, pemerintah dan DPRD Kabupaten Solok dan Sumatera Barat, akan terus tutup mata dan hanya mengatakan sekedar ikut prihatin dengan kondisi ini?. Selain itu, Pemkab Solok dan DPRDnya, lebih memilih membangun gedung kantor Bupati Baru dengan anggaran yang cukup wah, yakni Rp 44 Mikyar pada tahun 2019-2020 ini. Apa tidak lebih baik, anggaran sebanyak itu digunakan untuk membangun jalan yang lebih kayak ke Sungai Abu atau ke Garabak Data. Toh kantor Bupati juga masih dinilai masih layak dan belum tampak begitu mendesak.

Sudah saatnya kita bertindak dan berbuat. Mumpung masih ada kesempatan.
Kepala Daerah benar-benar menempatkan orang yang bisa berpikir untuk kemajuan Kabupaten Solok, termasuk memikirkan nasib nagari yang bisa dikatakan belum bisa menikmati kemerdekaan seutuhnya, seperti saudara-saudaranya di nagari tetangga. Mari kita bangun Kabupaten Solok dari seluruh penjuru mata angin, terutama bagaimana kita bisa membawa saudara-saudara kita yang tinggal di nagari terisolasi, bisa menikmati kemerdekaan seperti saudaranya yang sudah dulu maju dan berada di dekat ibukota Kabupaten dan dilalui jalur lintas.

Tulisan ini bukan bermaksud menghujat atau menyudutkan, namun sekedar memberi masukan agar Pemkab dan DPRD Kabupaten Solok, benar-benar bermanfaat bagi masyarakatnya. Semoga! (Penulis wartawan Harian Koran Padang, berdomisili di Kabupaten Solok)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda