Kota Solok Kembali Gempar: Di SMKN I Guru Tampar 45 Muridnya

0
4920

SOLOK, KP – Entah mengapa seorang guru di Kota Solok teganya menampar 45 orang siswa-siswinya. Hal tersebut diduga bermula dari etika murid kepada guru begitupun sebaliknya. Rasa menyayangi terhadap murid, serta hormat kepada guru mulai pudar. Guru yang bernama “AS” di SMKN 1 Kota Solok, yang diduga tersinggung diejek oleh muridnya, menampar sebanyak 45 orang murid.

Selain sebagai pengajar guru tersebut juga merupakan Pembina OSIS di SMKN 1 itu. Peristiwa menampar tersebut terjadi disela kegiatan di Lapangan Sekolah pada hari Sabtu (29/7). Kejadian tersebut membuat heboh pada waktu itu juga, namun akhirnya selesai pihak sekolah berusaha membantu dengan mendatangi sejumlah wali murid. Guru dan murid-murid itu akhirnya saling memafkan.

Namun, tidak hanya sampai disitu, persoalan tersebut melebar dan viral. Ketika salah seorang wali murid curhat di media social terkait persoalan itu. Hingga menimbulkan pro dan kontra dikalangan netizen.

Ketika dikonfirmasi kepada Kepala SMKN 1 Kota Solok, Zulhilmi melalui kepala Bidang Humas Atrizon. Dikatakan kronologis kejadian bermula ketika kegiatan di Lapangan, yang dipimpin oleh AS. AS hendak menyuruh berlari para muridnya. Saat disuruh berlari mengelilingi lapangan, para murid tersebut bersorak-sorak.

Merasa diejek oleh para muridnya, AS emosi. Kemudian mengumpulkan seluruh para siswa dan menampar pipi kiri serta kanan. “Sebenarnya persoalan tersebut telah selesai, antara pihak sekolah, guru, murid dan wali murid, telah saling bermaafan. Tapi, ada wali murid yang memposting di medsos,”kata Atrizon.

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, pihak sekolah mendatangi seluruh orang tua. Bahkan AS sendiri telah diberikan teguran, mengenai sanksi terhadap AS, dikatakan Atrizon itu merupakan wewenang kepala sekolah.“Wewenang saya hanya memberikan teguran. Kalau sanksi, itu wewenang kepala sekolah,”katanya.

Mengenai masalah tersebut, seorang tokoh adat di Kota Solok, Eri Datuak Rajo Kuaso berharap seluruh pihak untuk dapat meredam dan saling introspeksi diri. Guru, murid dan wali murid, itu semua menurut Eri merupakan imbas bergesernya pola dan etika dalam pendidikan. Semua pihak harus bijak dan harus mampu menahan emosi, terutama ketika berhadapan dengan anak-anak yang harus diberi nasehat dengan lembut dan baik. Meskipun terkadang murid masih banyak yang kurang hormat terhadap guru.

“Ini permasalah besar, persoalan kita bersama. Tidak dapat kita langsung menyalahkan oknum guru, kalau kita perhatikan dimasa sekarang ini, etika murid dalam menghormati juga semakin berkurang. Murid tidak lagi hormat kepada guru, hingga mengejek gurunya. Seadandainya sang guru dapat menahan emosi mungkin bisa mencari cara dalam menasehati murid. Namun, hal tersebut tidaklah mudah, karena kesabaran tiap manusia ada batasnya, ada baiknya guru dan orang tua bekerja sama dalam mendidik anak,” kata Eri.

Eri mengatakan dahulu ketika masih bersekolah, dia selalu menerima seluruh tindakan yang dilakukan guru. Bahkan, dipukul guru pun tidak masalah, banyak orang tua zaman dahulu malah berpihak kepada gurunya ketimbang murid. Berbeda dengan zaman sekarang orang tua malah memperkawan anak, hingga manja.

“Dulu saya sering dipukul pakai rotan, baik disekolah maupun disurau, itu jika saya melakukan perbuatan yang salah anak nakal. Ketika saya melapor ke orang tua saya, orang tua malah menambah pukulan kepada saya. Walaupun keras dan terasa sangat sakit, hal tersebut malah membuat saya hormat kepada orang tua dan guru. Menurut pandangan saya ketika itu semua yang dilakukan guru dan orang tua saya adalah tanda dari rasa kasih dan sayang. Bahkan, hingga kini saya masih mengingat nama dan wajah guru-guru SD saya dulu, bukanya membenci saya malah rindu dengan guru-guru saya dulu, meskipun sering dipukuli, itu karena saya nakal dan tidak hormat tentunya,”kata Eri.

Eri bahkan menilai tindakan orang tua yang membela anak, malah membuat anaknya menjadi lebih manja. Ketika dimarahi guru, ada baiknya orang tua mempertanyakan apa yang dilakukan sang anak, bisa saja anak yang nakal. Sebab, hal tersebut akan membuat sang anak menjadi tidak beretika. Begitupun untuk para guru, ada baiknya untuk menahan emosi, dan mencari cara dan solusi terbaik dalam mendidik murid, jangan sampai kekerasan yang ditimbulkan keterlaluan, apalagi kalau sampai meninggalkan bekas.

“Guru hanyalah manusia biasa, jika murid tidak hormat pastinya emosi tersulut. Sehingga dalam dunia pendidikan, marilah kita bersama-sama mendidik anak menjadi generasi yang lebih baik dari sebelumnya,”kata Eri.(Van)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here