Jenuh Belajar Daring dan Luring, Siswa dan Guru Memang Sudah Rindu Belajar Tatap Muka

0
195

SOLOK, JN– Hampir Delapan bulan sudah libur sekolah berlalu dan sekolah diliburkan dari siswa dan diterapkan sistim belajar daring dan luring.

Saat ini beberapa halaman sekolah di Kaupaten Solok tampak sudah ditumbuhi rumput yang tinggi dan  ruang-ruang kelas juga sudah digelantungi sarang laba-laba, serta bunga-bunga mulai tumbuh subur bercampur dengan rumput liar.

“Kami sudah rindu Sekolah dan guru serta teman-teman karena selama ini saat lubur kami tidak pernah bertemu,” sebut ,” Rasya, siswa yang baru naik ke kelas 8 di SMPN 3 Gunung Talang, Kabupaten Solok meski tidak ujian, Kepada Koran Padang, Senin (23/11).

Hal yang sama juga disampaikan Yessy Asrita, siswa kelas 5 di SD Negeri 01 Lembah Gumanti. Menurut Yessy, dirinya sangat rindu sahabatnya sesama menuntut ilmu di sekolah. “Selain itu, Yessy juga kangen sama guru-guru kelas yang baik-baik,” tutur Yessy.
Sedangkan Cantika, pelajar kelas XI di SMA Negeri 2 Gunung Talang, juga mengaku sudah sangat rindu dengan sekolah dan guru dengan cara belajar bertatap muka. “Kalau tidak dengan bertatap muka, kami sangat susah menerima mata pelajaran. Jadi kalau bisa memang belajar dengan cara bertatap muka bukan dengan cara daring,” sebut Cantika.

Saat ini, selain guru dan Kepsek, parasekolah-sekolah juga kesepian. Bangku-bangku mungkin sudah berdebu, serta halaman sekolah yang sudah ditumbuhi rumput liar. Mereka rindu dengan para siswa yang rajin piket pagi, yang rajin mengusik debu dari kediaman kursi.

“Kalau sampai berbulan-bulan begini, apakah siswa akan ingat mata pelajaran mereka? Biasanya, suara bisik dan canda siswa, terdengar dari sudut-sudut sekolah. Namun semenjak virus Covid-19 mewabah hingga new normal dan sekarang, suara-suara tersebut tidak lagi terdengar,” tutur Yenni, S.Pd, Kepsek SMPN 3 Gunung Talang.
Menurutnya, meski siswa dipersilahkan untuk memanfaatkan belajar dari rumah, namun hal itu tidak menghasilkan yang efektif. Barangkali, tak seseru saat mereka belajar di sekolah. Tapi, Covid-19 masih melanda, mau bagaimana lagi! Yenni berpendapat, akan lebih baik belajar tatap muka dengan dibatasi dari pada belajar daring. 

Ketua MKKS SMP Sumatera Barat yang saat ini menjabat sebagai Kepala SMPN 5 Kubung, Kabupaten Solok, juga lebih setuju kalau belajar itu jauh lebih efektif bila dilakukan secara tatap muka.
Selain itu menurut Suardi, saat ini sudah pasti ada kerinduan yang mendalam bagi siswa untuk bisa segera pergi ke sekolah. “Terang saja, biar seperti apapun kondisi sekolahnya, biar segarang apapun guru-gurunya, tetap ada sesuatu yang spesial dan tidak ditemukan di rumah,” sebut Suardi.
Apakah itu tentang rindu jajan di kantin sekolah, tentang cerita seru, main kelereng bersama kakak kelas, nongkrong di taman sekolah, dengar nasihat-nasihat guru, salah satunya pasti membekas di pikiran siswa.
“Sayangnya semua itu tidak tidak bisa didapatkan siswa dari rumah. Sekolah yang sudah menggelar daring, mungkin tetap bisa bertatap muka dengan guru via maya. Tapi, apakah sudah sebanyak itu sekolah yang mampu? Rasanya, tidaklah banyak atau malah lebih sedikit,” beber Suardi.
Menurut Suardi, bagaimanapun juga, yang namanya anak-anak pasti masih memiliki sikap yang kita sebut nakal dan usil. Mungkin hal inilah salah satu yang mebuat guru rindu siswa. Dilain pihak, siswa juga rindu guru dan para teman-temannya.
“Hal-hal seperti itulah yang membuat atau yang mendatangkan kerinduan bagi banyak guru dan siswa. Kerinduan ini mungkin baru akan terbalaskan jika nanti mereka sudah mulai masuk sekolah. Kapankah, itu? Tunggu nanti, setelah corona selesai dan pergi dari bumi ini,” beber Suardi.
Sesuai bincang-bincang penulis dengan beberapa guru dan siswa, ternyata baik guru maupun siswa sama-sama merindukan sekolah.


“Jujur saja, saya sudah sangat merindukan siswa dan sekolah. Karena keseruan di sekolah tidak bisa samakan dengan kepuasan yang lain. Kami rindu canda dan tawa mereka. Dan kami juga mencemaskan mereka tidak belajar selama di rumah ” cerita Kepsek SMA 2 Sumbar, Irsyad, M.Pd.
Kerinduan guru lainnya adalah tentang semangat berkobar para siswa saat mereka datang ke sekolah. Datang pagi-pagi, siswa berlarian untuk bersalaman dan mengucapkan selamat pagi. Akhirnya, guru yang lelah karena datang dari jauh, malah merasa lebih tersemangati. “Pokoknya hal seperti ini susah didapat dan merupakan kebahagian tersendiri bagi kami kaum pendidik,” tambah Irsyad.

Pada saat jam istirahat atau pulang, beberapa guru sering mengamati siswanya dari kejauhan. Tentang siswa yang jajan di kantin, berlarian di lapangan, serta siswa yang sedang bercerita semuanya tampak menenangkan bagi guru.

Pemandangan seperti ini tidak akan bisa ditemukan oleh profesi lain, tidak juga oleh media-media daring. Saya yakin dan percaya, pastilah semua guru merindukan suasana yang menyenangkan seperti ini.
Begitu juga pada saat siswa pulang sekolah. Melihat tampilan dan wajah siswa yang mulai kusut dan elaj menjelang pulang malah menjadi kelucuan tersendiri bagi guru. “Lucu, sekaligus bangga karena berarti siswa tersebut sudah mengikuti pelajaran dengan sukacita dan penuh perhatian,” terang Warneri dan Pak Wawan dari SMPN 3 Guntal.

Mungkin kerinduan-kerinduan seperti ini, hanya akan terbayar lunas jika nanti kita semua sudah masuk sekolah kembali. Saat ini, biarlah kerinduan itu ditumpuk dan ditabung terlebih dahulu. Nanti, saat coronavirus tinggal cerita barulah semua itu bisa terbayarkan.
Menurut Filla Susanti yang mengajar di SD Negeri 11 Jawi-Jawi Guguak, Kecamatan Gunung Talang, kerinduan akan sekolah sangatlah tinggi. “Pokoknya rindulah. Biasanya pagi hari kita sudah teriak-teriak kepada siswa, tetapi ini sudah satu bulan lebih tidak ada. Kebahagian di sekolah susah untuk disamakan dengan di tempat lain,” sebut Filla Susanti.

Jenuh juga jika seorang guru seharian harus bertatap wajah dengan laptop dan android. Siswa memang tampak di dalamnya, tapi apakah mata guru tidak perih setelahnya? Bayangkan bila kemudian pembelajaran daring digeluti oleh guru senior, pastilah sampai keluar air matanya. Lagi pula belum semua siswa memiliki HP android.

Guru juga rindu dengan sekolah, tidak hanya ingin melihat siswa melainkan ingin segera menyelamatkan mata dan keperihan daring dari pelukannya. Yang jelas, guru juga ingin sekolah, karena guru juga rindu ‘Tawa-Canda Para Siswa’.


Keceriaan siswa di kelas, kadang didokumentasikan secara pribadi oleh guru.Meski terkadang seorang guru terkesan garang dan killer di sekolah, namun bukan berarti mereka tak suka melihat siswanya senyum, tertawa dan bahagia. Mungkin di depan siswa, guru jarang meluapkan emosi keceriaannya. Hal ini tidak lepas dari pertimbangan wibawa dan gengsi.
“Intinya, bertatapan dengan suswa di Sekolah tidak bisa diobati dengan apapun,” sebut Filla Susanti (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here