Irwan Prayitno: Pejabat SOPD di Sumbar Harus Berpikir Inovatif dan Kreatif

0
81

PADANG, JN– Seluruh pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) harus senantiasa berpikir inovatif dan di luar praktik yang lazim dilakukan (out-of-the-box) dalam pelayanan kepada publik dan pengelolaan pemerintahan sehari-hari. Cara pikir ini harus pula terus diaplikasikan berkesinambungan dan berketerusan.

 

Ini salah satu poin utama yang ditekankan Gubernur Sumatera Barat (Irwan Prayitno) kepada Kepala OPD di lingkungan Pemprov Sumbar saat memimpin Rapat Innovative Goverment Award di Ruang Pertemuan Kantor Gubernur Sumbar, Rabu (3/10).

 

“Jangan tiap hari masuk ruangan, terus tandatangan disposisi, terus rapat, lalu jam 4 pulang. Itu namanya business-as-usual. Jangan business-as-usual. Berinovasi. Agar hari ini lebih baik dari kemarin. Supaya besok lebih baik dari hari ini. Berketerusan. Berkesinambungan,” tekannya.

 

Inovasi dan gagasan-gagasan di luar praktik yang lazim dilakukan sebagaimana disebutkan sebelumnya, harus pula memberikan pengaruh signifikan terhadap birokrasi dan pelayanan publik, seperti meringkas alur yang panjang, mempercepat proses lama, memaksimalkan hasil kerja, atau meminimalkan hingga meniadakan resiko-resiko pekerjaan. Ini poin selanjutnya yang digarisbawahi Gubernur.

 

“Kerja jadinya cepat, cepat, cepat, dan hasilnya maksimal. Tidak ada lagi kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah, kalau bisa diperlama kenapa dipercepat. Itu dulu itu, tidak bisa lagi kita pakai,” tandanya.

 

Dengan pertimbangan hasil tersebut, Gubernur lalu menyinggung internet-of-things yang kerap menjadi pilihan favorit dan seringkali diterjemahkan sebagai satu-satunya wahana inovasi.

 

Dikatakannya, walau teknologi informasi (TI) yang kini berkembang bisa membantu dalam banyak hal. Namun, tidak berarti inovasi menjadi sangat tergantung pada TI.

 

“Memang akan sangat terbantu dengan teknologi, namun tidak harus. Tidak perlu yang susah-susah. Tidak apa sederhana asal berdayaguna,” imbuhnya.

 

Mengambil dirinya sendiri sebagai contoh inovasi tak selalu harus dengan TI, Gubernur menceritakan, jika boleh disebut sebagai inovasi, maka inovasinya adalah tableless; bekerja tanpa perlu meja.

 

“Saya tidak tahu ini inovasi atau tidak, tapi saya tidak bisa surat itu ditumpuk banyak-banyak di satu meja lalu nanti saya teken-teken teken-teken. Banyak yang sudah tahu, kalau surat sudah selesai dan tinggal tandatangan, tinggal cari saya dimanapun saya berada, akan saya tandatangan. Makanya surat di saya itu tidak pernah lewat satu hari,” tutur Gubernur menceritakan.

 

 

Inovasi per- OPD

 

Menimbang pentingnya inovasi bagi peningkatan kinerja dan pelayanan pemerintahan, di kesempatan yang sama Gubernur memerintahkan seluruh Kepala OPD di lingkungan Pemprov Sumbar untuk menelurkan setidaknya 10 inovasi masing-masingnya.

 

“Kita apresiasi Kemendagri karena ini (inovasi) dilombakan. Tapi bagi kita bukan ini targetnya. Target kita bagaimana kita mencapai outcome dari key indicators kita. Oleh karena itu, saya memaksa, dalam tanda kutip, tiap OPD membuat 10 buah,” perintahnya.

 

Sepuluh inovasi ini nantinya akan dikelompokkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Prov. Sumbar ke dalam empat kategori, yakni, Sangat Inovatif, Inovatif, Cukup, dan Kurang.

 

Menyemangati jajarannya, Gubernur lebih lanjut menjelaskan kenapa Pemprov Sumbar perlu melakukan inovasi dalam pengelolaan pemerintahan yang dilakukannya.

 

Menurut Gubernur ada paling tidak dua hal, yakni, perubahan yang berlangsung sangat cepat yang menuntut pemerintahan daerah yang tanggap dan keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik.

 

“Memang sering kita dengar ungkapan sehari-hari ‘ko karajo ko lah bantuak-bantuak iko dari dulu. Manga lo awak ubah?’, ini ungkapan orang-orang yang tidak mau maju. Kita ingin pemerintahan kita maju,” dorong Gubernur.

 

Ungkapan ini, sambung Gubernur, senada dengan alasan lain yang kerap dijadikan pembenaran tentang tak perlunya perubahan yang menurutnya juga sering didengar.

 

“Ada lagi ungkapan, ‘manga inovasi-inovasi, nan gaji sagitu-sagitu juo.’ Ini perkataan orang-orang yang tak mau maju. Nyaman dengan status quo. Jangan sampai ada yang punya pikiran begini,” pungkasnya (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda