SOLOK, JN- Para guru di era sekarang ini memang amat takut memberikan hukuman kepada siswa yang melanggar aturan sekolah.

Dengan dibayangi rasa takut melanggar undang-undang perlindungan anak, para guru dan Kepala sekolah sangat berhati-hati dalam memberikan sanksi kepada para siswanya.

Karena kalau terlalu keras, nantinya guru takut para orangtua mudah sekali menyeret niat baik guru mendidik muridnya ke meja hijau karena dianggap melanggar hukum.

Melihat maraknya kasus pemidanaan terhadap guru akhir-akhir ini, maka segenap majelis guru di SMPN 3 Gunung Talang, Kabupaten Solok, sangat berhati-hati memberikan hukuman kepada siswanya.

“Kita tidak lagi memberikan hukuman denda berupa membawa labrik, menghukum siswa berdiri di kelas atau menjemur, karena itu sudah tidak mendidik. Tetapi bagi siswa yang terlambat kita beri hukuman setoran membaca Al Qur’an minimal 5 ayat pendek, ” terang Kepsek SMP Negeri 3 Gunung Talang, Yenni, S. Pd, Selasa (18/2).

Ditambahkan Yenni, hukuman menghafal suatu materi yakni dengan menghafal dan membaca ayat pendek, membuat siswa dituntut belajar lebih sabar, dan siswa yang bandel akan bertambah pintar dengan hukuman seperti ini.

Sementara siswa yang melanggar dengan tidak rapi ke sekolah berupa rambut panjang, maka rambutnya akan dipotong dengan rapi di sekokah dan dilakukan oleh siswa lain.

“Hukuman seperti ini, jauh lebih mendidik dari pada harus didenda atau dipermalukan di depan kelas dengan cara berdiri atau lebih efektif dari pada memotong rambut tidak rapi. Dan hasilnya jauh lebih mendidik,” sebut Yenni.

Kepsek yang baru menjabat Satu bulan di SMP negeri 3 Gunung Talang ini, mengaku menerapkan hukuman semacam itu, setelah berkoordinasi dengan para majelis guru dan juga komite sekolah.

“Saya berharap hukuman semacam ini akan membawa perubahan kearah yang lebih baik untuk kemajuan pendidikan dan sekolah, ” sebut Yenni (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here