Manusia Perlu Memanusiakan Orang Lain

OLEH: SYAMSUL AZWAR

====================================================

Kebebasan di Era Digitalisasi telah Menutup Mata Hati, Terkesan mengabaikan Psikologi Anak dan Keluarga Korban Prilaku Kriminal.

Dalam salah satu filosofi kehidupan tak ada manusia yang sempurna di negeri ini, khilaf dan salah merupakan pakaian kesehariannya manusia.

Ketika seorang politisi atau pejabat publik yeng tersangkut dalam sebuah kasus kriminal dan ini menjadi jalannya kehidupan seseorang sangat sulit untuk diprediksi oleh siapapun. Namun demi mengejar hal yang Viral, moral dan etika dalam penyajian dapat merusak psikologi dan mental anak anak.

Empat definisi kehidupan yaitu Langkah, Rezeki, Pertemuan dan Maut merupakan rahasia Allah, SWT. Nasib setiap orang menjalani kehidupan yang bervariasi, ada langkahnya yang tertuntun kejalan yang salah atau kriminal, maka secara otomatis hukum akan menjeratnya dalam proses hukum yang jelas.

Demi mengejarkan sesuatu hal yang Viral, Privasi dan Psikologi anak dan keluarga tak lagi menjadi perhatian, mereka yang tak bersalah juga mendapatkan hukuman secara langsung, baik melalui media sosial, maupun melalui media massa, etika dan penyajian yang tabu bagi seorang penulis dilanggarnya, motto mencerdaskan anak bangsa berobah menjadi petaka bagi anak dan keluarga korban pelaku kriminal.

Mengamati kejadian yang menimpa pejabat publik saat ini, pemberitaan, media sosial berburu untuk mendapat isu isu terbaru dan panas, jika perlu mencapai titik yang sangat viral.

Sesuatu yang viral telah menjadi trend di era digitalisasi ini. Jika perlu ditampilkan dengan fulgar. Namun di balik semua itu satu hal terpenting terabaikan, mata hati nurani kita seakan tetutup mengabaikan psikologi, perasaan anak, istri, keluarga, orang tua serta sanak saudaranya pelaku kriminal.

Baca Juga :
Kurang Lebih 100 Peserta Hadir Pada kegiatan Sosialisi Peran BUMN Untuk Pemberdayaan Umat

Tampilan atau pemberitaan yang transparan dan fulgar itu tak lagi mengdepankan rasa dan dinilai dapat merusak mental generasi penerus bangsa ini kelak, anak minder dengan teman teman, orang tua, istri dan karib kerabat malu keluar rumah. Mereka yang tak bersalah secara tak langsung juga kita berikan hukuman. Padahal oknum oknum yang terjebak dalam langkah salah telah melewati dan menjalani serta mendapatkan proses hukumannya sesuai apa yang dilakukannya. Ketika ia menabur angin, pada saatnya badai akan menghampirinya.

Ketika moralitas anak bangsa saat ini kian mundur seakan tercabik dalam lingkaran digitalisasi di era globalisasi, ditambahlagi hantaman politisasi yang menghalalkan berbagai cara dalam menjatuhkan dan sebagainya. Profesionalitas saat ini tak lagi menjadi hal yang dinomor satukan. Kejadian ini sangat memiriskan?

Tampilan pelaku kejahatan, melalui media sosial, media online saat memburu viralitasnya, telah melihatkan gambar gambar yang nyata dan jelas, terkesan transparansi disalah artikan, gambar tak lagi diblur, betul betul menjadi hal secara telanjang, pada hal sebagai anak bangsa dalam budaya timur ini masih memiliki hati, etika, moral dan rasa,, masih menjadi hal yang tabu dalam menyebarluaskan informasi serta mencerdaskan anak bangsa melangggar etika etika dan tetap menghargai psikologi, mental anak bangsanya.

Sejatinya tampilan pelaku kriminalitas melalui media sosial dan media massa tetap memberikan ruang privasi, hak dan psikologi manusia lainnya. Sangat memantaskan kita sebagai seorang manusia itu, memanusiakan orang lain.

Mari kita coba cubit tangan kita, bila sakit, tangan orang lain saat dicubit juga akan merakan sakit yang sama, bagaimana jika ini terjadi pada orang orang tersayang dan orang orang dekat kita?

Baca Juga :
Satu Orang Pelaku Curanmor Diamankan ke Mapolres Pasaman Barat

Sangat perlu kita semua membuka mata hati yang seluas luasnya, introspeksi atas sebuah kejadian kejadian duniawi ini,, bangunlah profesionalitas, selamatkan mental, psikologi anak anak yang merupakan generasi penerus bangsa ini, jaga privasi istri serta keluarga oknum oknum pelaku kriminalitas. Termasuk komentar terlalu dini aktor aktor politik dalam mencari panggungnya.

Semestinya, sebelum lahirnya putusan hukum yang jelas dari pengadilan nagi seorang prilaku kriminal, kita tetap mengedepan praduga tak bersalah, mari serahkan ke lembaga hukum. Terkesan saat ini kita telah mengadili dan menghukum orang orang yang tak bersalah, yaitu, anak, istri, orang tua serta karib kerabat dari prilaku kriminal itu sendiri.

Indonesiaku, Nasibmu kini kian memiriskan, anak bangsamu terkesan kian terjajah oleh bangsanya sendiri, generasi generasi masa datangmu makin tarancam dalam masa masa yang suram.. Para politisimu saat ini asal ngomong doanh dalam ambisi dan sensasi mendapatkan simpati dan dukungan rakyatmu. Salam Santun Selalu Sahabat Dumai. (Syamsul Azwar, penulis adalah seorang pengamat media sosial tinggal di Kab.Solok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.