Dari Arena Tinju, Merasa Dicurangi Wasit, KONI Kabupaten Solok Layangkan Surat Protes

0
188

PADANG PARIAMAN, JN- KONI Kabupaten Solok, akhirnya secara resmi melayangkan surat protes keras kepada Panitia Besar Porprov ke XV Sumbar di  Padang Pariaman dan kepada dewan hakim/Arbitrase Cabor Tinju Porprov ke XV, Selasa (27/11).

Surat dengan Kop Surat resmi KONI Kabupaten Solok itu, bernomor 109/KONI-Kab.Solok/2018 tanggal 27 Juni tersebut, langsung ditandatangani Rudi Horizon. Surat dan juga ditembuskan kepada pengurus Besar Pertina Sumbar.

“Ini sudah keterlaluan, semua yang hadir menyatakan bahwa petinju kami yang menang. Tetapi wasit malah menyatakan petinju Sawahlunto yang menang. Ini sama saja sudah menciderai dunia tinju dan olahraga kita,” jelas Rudi Horizon, kepada awak media, di pemondokan Kontingen Kabupaten solok, di SMA 1 Lubuk Alung, Selasa (27/11). Pertarungan babak final tinju kelas 52 kilogram antara petinju Kabupaten Solok, Ahmad Wike dengan petinu dari Sawahlunto, Fauzi Ahmad, dilangsungkan Senin malam di Pusdiklat PLN Padang Pariaman. Pertandingan itu juga disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Solok, H. Yulfadri Nurdin, SH dan Ketua KONI, Rudi Horizon beserta pengurus KONI Kabupaten Solok lainnya.

Rudi juga menyebutkan bahwa pihaknya jelas tidak bisa menerima karena merasa dicurangi wasit. Apalagi kabarnya ketua dewan jurinya juga berasal dari kota Sawahlunto. “Kalau memang kami kalah, ya kami terima, tetapi bukan menghalalkan segala cara,” tutur Rudi Horizon yang diamini Kepala Sekretariat KONI Kabupaten Solok, Zulmasdia dan Sekum KONI, Madra Indriawan.

“Silahkan panitia Besar Porprov menilai sendiri, karena kami juga melampirkan video pertandingan. Sebab menurut kami bahwa petinju kami dari Kabupaten Solok jauh menang angka dibanding petinju Sawahlunto. Ini keterlaluan namanya,” tambah Sekum KONI Kabupaten Solok, Madra Indriawan.

Puncak amarah KONI dan kontingen Kabupaten Solok tersebut terjadi, saat wasit Amri Yusran Nasution, mengumumkan hasil pertandingan yang memenangkan  petinju Fauzi Ahmad daari Sawahlunto, namun pihak KONI dan Kontingen Kabupaten Solok yang hadir meyakini petinju Kabupaten Soloklah yang menang angka, bahkan petinju Sawahlunto beberapa kali hampir terjatuh mendapat pukulan hock kiri dari petinju Kabupaten Solok, namun malah petinju Kabupaten Solok dinyatakan kalah oleh dewan juri.

“Saya rasa semua penonton yang hadir juga akan kaget terhadap hasil pertandingan yang diumumkan wasit. Tidak saja kontingen Solok, tapi juga penonton dari berbagai daerah lain yang turut meramaikan final ini,” tambah Rudi.

Usai dewan juri mengumumkan hasil pertandingan, spontan saja penonton asal Kabupaten Solok dan pengurus KONI yang hadir memprotes keras keputusan wasit yang dianggap curang. Bahkan aksi saling ejek dan lempar botol mineral kearah dewan hakim juga tak bisa dihindari, termasuk aksi hampir adu jotos dari penonton juga hampir saja terjadi. Untung saja Wakil Bupati Solok, Yulfadri Nurdin yang hadir pada kesempatan itu, bisa menenangkan suasana.

“Sebaiknya kita melakukan protes kepada panitia, agar tidak terjadi anarkis. Biarlah nanti panitia yang menilai, sebab disini juga ada panitia dan rekaman pertandingannya juga ada. Jadi siapa yang berhak menang, nanti akan diketauhi,” tutur Wakil Bupati Solok, menenangkan suasana.

Usai mendapat pengarahan dari Wakil Bupati Solok, Ketua KONI, Rudi Horizon bersama Wakil Bupati Solok, langsung meninggalkan lokasi pertandingan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

.Karena merasa kesal dan mempertanyakan sportifitas dewan hakim, Rudi akhirnya melayangkan surat protes secara resmi pada dewan hakim panitia besar Porprov 2018, panitia penyelenggara Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) dan bakal ditembuskan ke Pengurus Besar Pertina.

“Kita akan tunggu jawaban panitia besar dan pertina Sumbar tentang masalah ini,” pungkas Rudi Horizon  (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda