Kesetiaan Pejuang Papua Barat Pada Republik Indonesia

0
708

Oleh : Risko Mardianto

Papua atau dulu sering disebut Irian Jaya, di ujung Timur Indonesia. Membahas soal papua bagi saya adalah sebuah keistimewaan karena saya memang merindukan agar bisa sampai disana, setidaknya saya melihat bagaimana rakyat papua secara dekat. Tulisan ini adalah goresan tinta saya yang pertama untuk rakyat papua. Salam persaudaraan untukmu saudaraku, rakyat Papua.

Bermula dari postingan disosial media seorang kawan saya, Rahmad Satriawan dari Yayasan Kanker Indonesia yang sedang melakukan penyuluhan kesehatan didaerah Kampung Konda Kab. Sorong Selatan Prov. Papua Barat , jiwa literasi saya bergolak, ia seolah berunjuk rasa meminta saya turun menuliskan sebuah gambaran bagaimana Republik Indonesia dicintai oleh rakyat di Papua. Betapa tidak, postingan itu meluluhkan hati saya yang sedang tidak ingin menulis. Ya, sebenarnya saya tidak ingin menulis saat itu. Saya sedang sibuk menyelesaikan tugas akhir saya sebagai mahasiswa di Solok Prov. Sumbar. Tapi, karna kawan saya itu memposting soal Indonesia, semangat saya tumbuh. Jiwa revolusioner itu bergelora hingga membuat saya berkeinginan menuliskan tentang “kesetiaan” rakyat papua pada negara ini.

Saya menghubungi Rahmad Satriawan, sahabat saya, Wakil Presiden BEM UNP 2014-2015 yang ada di Papua Barat. Melalui sambungan selullar saya menanyakan keaslian postingannya di sosial media. Berbagai pertanyaan saya ia jawab dengan sangat semangat dan mengalir.

Dari Papua Barat ia mengisahkan soal perjuangan seorang pejuang, kata Rahmad ada seorang laki-laki rakyat sipil papua yang dulunya direkrut sebagai pejuang saat pembebasan papua barat dari tangan kolonial Belanda yang menjarah bumi, hasil tambang dan kekayaan hutan papua.

Kita tentu tahu, sejak dulu hingga kini papua memiliki kekayaan luar biasa. Disana tersimoan kekayaan alam yang melimpah, mulai dari kayu, batu bara, emas dan sebagainya. Saat perang, banyak rakyat papua yang dipersenjatai untuk mempertahankan teritorialnya.

Saat kompeni belanda ditaklukkan, banyak senjata kolonial yang diambil alih oleh rakyat papua. Menurut Rahmad, banyak peninggalan penjajah yang masih ada di Papua hingga kini. Selain itu, laki-laki pejuang itu masih menyimpan pernak-pernik bangsa seperti simbol negara yaitu “Burung Garuda” dengan sila yang ada didalam “pancasila” serta bendera pusaka yang terlihat lusuh. Mungkin karna sudah lama usianya atau karena memang disimpan ditempat layaknya masyarakat biasa, tidak seperti di Istana yang ada di Ibukota.

Raut wajah sang pejuang itu tentu berubah gundah mengenang ratusan mesiu berluncur bebas dibumi papua saat masa-masa perang berkecamuk ditanah mereka. Hatinya mungkin luka mengenang ratusan nyawa melayang demi mempertahankan kehormatan dan tanah mereka. Meskipun timah panas yang mereka hadang didepan mata kala itu, tidak ada satupun kata menyerah pada musuh bangsa. Pantang bagi seorang pejuang menyerah hanya karna takut mati ditembak kolonial.

INDONESIA KINI

Dulu, indonesia direbut dengan darah dan perjuangan. Merah putih sulit berkibar dibumi pertiwi. Ketika mulai dikibarkan, peluru tajam menembus jantung. Setengah tiang bendera dikibarkan nyawa melayang, tapi itu demi indonesia merdeka. Saat itu tidak ada korupsi, pikiran rakyat hanya untuk satu kemerdekaan negeri ini.

Kini, politik devide et impera merubah segalanya. Anak bangsa saling terkotak-kotak karna perdebaan politik. Kondisi makin diperparah lantaran hukum tidak jadi panglima di negara hukum itu sendiri.

“Darah yang dulu tumpah” dari raga para pejuang itu dikhianati oleh segelintir orang yang mau berkuasa. Alih-alih demi kata “rakyat” berbagai cara dihalalkan untuk mempertahankan kekuasaan meskipun rakyat yang berdaulat tidak menghendaki. Entah kapan negeri ini benar-benar merdeka ?

Perjuangan yang di ongkosi oleh ubi rebus dari rakyat jelata dalam mewujudkan kemerdekaan seolah hilang ditelan bumi dan menjadi sesuatu yang tidak patut untuk dijadikan acuan memimpin negeri ini. Energi terkuras habis, bangsa makin tertinggal lantaran elit negeri ini selalu menyalahkan oranglain. Mungkin ia tidak pernah sepenuh “duduk baropok” memikirkan jalan keluar persoalan bangsa tapi hanya memikirkan cata tentang bagaimana kekuasaan itu tetap dalam genggamannya, pekik jelata menggema dimana-mana, euofhoria politik menjadi hidangan publik namun harapan yang diucapkan elit itu hanya retorika.

Ah, entahlah. Entah kapan negeri ini merdeka?
Melihat kiriman kawan saya yang duduk bersama seorang pejuang itu mengingatkan saya pada kata-kata Bung Karno ; “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlwannya”. Mudah-mudahan kawan saya itu selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT, Tuhan YME. Semoga kesetiaan pejuang dari papua itu menjadi acuan kita semua dalam menebar kebaikan dan mengisi kemerdekaan. Meski diujung barat Indonesia, kesetiaan pada bangsa ini terpatri dihatinya. Semoga !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here