Busron Bahar: Sudah Juara Nasional Tetapi Tetap Rendah Hati

0
142

SOLOK,  JN- Meski sudah menjadi petani sukses dan sudah meraih juara nasional,  namun petani yang satu ini tetap rendah hati. 

Memakai prinsip bahwa dengan bersungguh-sungguh, apapun bisa tercapai. Setidaknya begitulah ungkapan yang selalu petani kakao yang sekaligus Ketua Bidang Perlindungan Tanaman Kakao Saiyo, asal Dusun Sawah Kandang,  nagari Salayo Kecamatan Kubung, yang bernama Busron Bahar Malin Kayo, yang berhasil meraih juara pertama tingkat nasional, pada peringatan hari kakao sedunia.

Busron Bahar merupakan pembina sekaligus Ketua Bidang Perlindungan Tanaman Kakao pada Kelompok tani (Keltan) perkebunan kakao Saiyo,  Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok. Dengan kesungguhannya, bisa membudidayakan tanaman kakao, bisa  meraih Juara 1 Tingkat Nasional, sekaligus membanggakan Sumbar. Dibawah binaan dosen UNAND Padang,  Dalmenda Pamuncak Alam,  Busron Bahar yang dulunya hanya seorang sopir taxi di Ibukota Jakarta,  saat pulang kampung memulai petani dari nol. 

“Alhamdulillah, saya tidak menyangka akan bisa menjadi yang terbaik, padahal kami hanya fokus bekerja serius membudidayakan tanaman kakao pada kelompok tani kami di Nagari Salayo, usai pulkam dari Jakarta, ” jelas Busron Bahar, saat ditemui awak media di kebunnyo di Sawah Kandang,  Minggu sore (2/2).

Busron Bahar yang menerima penghargaan terbaik nasional dari Pemerintah RI, yang diterimanya di Hotel Gren Alia Prapatan, Jakarta, pada bulan Oktober tahun 2018 lalu,  tetap merasa belum apa-apa. Waktu menerima penghargaan itu,  Busron didampingi oleh Bupati Solok, H. Gusmal, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Ir. Admaizon, Dirut PT. PAII dan Ketua Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah serta lainnya. 

  Sebagaimana kita ketahui, Kakao atau dalam bahasa latinnya disebut Theobroma cacao L, merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu, kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri.

Di Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, persisnya di kawasan Jorong Batupalano, Busron Cs  tengah membumikan perkebunan kakao, setidaknya telah mencapai 33 hektar yang yang dikelola oleh petani tergabung dalam Kelompok Tani Kakao Saiyo. Sukses tersebut, juga tidak lepas dari peran Pembina Keltan Saiyo, Drs.H. Benny Faisal. MM Dt. Sinaro Sati dan tokoh masyarakat setempat, Dalmenda Pamuncak.

Usai menerima penghargaan,  Keltan Kakao Busron Cs selalu ramai mendapat kunjungan pemerintah dan swasta,  termasuk dari Dinas Pertanian Jambi,  Bengkulu dan daerah lainnya di Indonesia. 

Lebih jaugh disebutkan Busron, tanaman kakao kerap disebut sebagai buah coklat karena dari biji kakao yang telah mengalami serangkaian proses pengolahan dapat dihasilkan coklat bubuk. Cokelat dalam bentuk bubuk ini banyak dipakai sebagai bahan untuk membuat berbagai macam produk makanan dan minuman, seperti susu, selai, roti, dan lain–lain. Selain sebagai bahan makanan dan minuman, coklat juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan kini tengah menjadi primadona. “Kelompok Tani kami lebih fokus kepada pengembangan tanaman kakao ini dan tumbuhnya juga subur di Salayo,” jelas Busron. Diakui Busron, Keltan Saiyo mulai gencar dan fokus ke perkebunan dimulai sejak Oktober 2013 di daerah Batupalano yang langsung diasuh oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Solok. Ketika perkembangan semakin membaik maka didirikan gedung Unit Fermentasi Pemasaran Biji Kakao (UFPBK) di Jorong setempat oleh Dinas Perkembunan Provinsi Sumbar pada tahun 2015.

“Mungkin di Sumbar hanya terdapat dua gedung UFPBK, selain di Kabupaten Solok ini,  juga ada di Kabupaten 50 Kota,” terang Busron. Lebih lanjut dikatakan Busron, bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) bersama sejumlah asosiasi petani kakao dan industri kakao akan memberlakukan tahun 2018 implementasi Permentan No. 67 Tahun 2014 tentang Persyaratan Mutu dan Pemasaran Biji Kakao, yang mewajibkan biji kakao melewati proses fermentasi sebelum sampai ke industri olahan atau eksportir.

“Dengan pemberlakuan Permentan No.67 Tahun 2014 tersebut maka bagi setiap petani kakao yang ada dikawasan Kabupaten Solok akan mendatangi sekretariat UFPBK untuk mendapatkan rekomendasi kualitas kakao sesuai standar yang ditetapkan pemerintah melalui Dinas Perkebunan. Artinya, kualitas kakao akan terjamin mutunya dan harga akan lebih meningkat dari non fermentasi, selisihnya sekitar Rp.4000 perkilo,” tegas Busron.

Keltan Saiyo tahun 2014 sempat meraih juara 2 kategori kelompok tani berprestasi perkebunan kakao tingkat Sumbar. Setidaknya spirit itulah yang membuat semangat untuk

membumikan perkebunan kakao upaya meningkatkan sektor perekonomian masyarakat Salayo khususnya. Busron malah bercita-cita perkebunan kakao menjadi produk unggulan di Kabupaten Solok dan menjadi tuan rumah di tingkat Sumbar.

Untuk itu dia berharap, guna mendukung peningkatan sumber daya manusia (SDM) Keltan

Saiyo saat ini tengah dibangun gedung Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S). Keltan Saiyo secara swadaya dari 33 anggota dengan menelan biaya RP. 120 juta namun kini masih dalam terbengkalai (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda