Wabup Ferizal Ridwan dan Polres Limapuluh Kota Tinjau Lokasi Tambang Milik PT.BBP

0
45

LIMAPULUH KOTA, JN- Menyikapi laporan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Wahana Lingkungan Indonesia (WALHI) Sumatera Barat, terkait adanya dugaan pencemaran lingkungan yang menyebabkan matinya ribuan ikan di aliran Sungai Batang Maek, tepatnya di Nagari Tanjuang Balik, Kecamatan Pangkalan Kabupaten Limapuluh Kota, disikapi serius oleh Pemkab Limapuluh Kota.

Untuk mencari tahu apa penyebab terjadinya pecemaran aliran Batang Maek tersebut, Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan bersama BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Badan SAR Nasional (Basarnas), Camat Pangkalan, Wali Nagari Tanjung Pauah, serta sejumlah awak media turun melakukan pemantau dan menelusuri ke aliran Batang Maek dan lokasi sebuah tambang timah hitam yang diduga menjadi penyebab terjadinya pencemaran air sungai Batang Mahat tersebut. Jum’at, (25/10).

Di kokasi pertambangan, Wabup Ferizal Ridwan sempat memintai keterangan pengelola perusahaan tambang yang diketahui dikeloka oleh PT Berkat Bhineka Perkasa (BBP), lokasinya berada sekitar 7 kilometer dari simpang empat Nagari Tanjung Pauah.

“Saya tadi bertemu dengan kepala teknis tambang dan juga konsultasi lingkungan dari pihak PT BBP. Dari hasil diskusi, diperlukan tindak lanjut dari hasil survey yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan termasuk oleh konsultan. Dari hasil itu baru dapat kita simpulkan apa penyebab matinya ribuan ikan. Makanya, ini butuh kajian teknis, termasuk buat penanganannya. Kita akan lakukan rapat koordinasi,” ujar Wabup Ferizal.

Sebelum meninjau tambang, Ferizal Ridwan sempat bersosialisasi dengan masyarakat di Masjid Taslim Tanjung Pauah. Dalam pertemuan seusai salat Jumat tersebut, Ferizal sempat menyampaikan imbauan terkait peristiwa pencemaran air Sungai Batang Maek.

“Saya imbau kepada masyarakat Tanjuang Pauah, agar tidak melakukan tindakan apa pun terkait penanganan kasus pencemaran air Batang Maek. Serahkan saja penanganannya kepada pemerintah, sesuai tugas dan kewenangannya,” imbaunya.

Ferizal turut meminta, agar masyarakat mengurangi aktifitas di dalam sungai termasuk mengkonsumsi air dan ikan di aliran Batang Maek, sampai kondisi air benar-benar steril. Hal tersebut guna menghindari warga dari resiko kesehatan apabila terkotaminasi air yang tercemar.

Terkait kewenangan dan izin perusahaan tambang, sesuai UU Kehutanan dan Pertambangan, Ferizal menyebut sejak 2016 lalu berada di pemerintah provinsi.

“Makanya, pengawasannya juga kewenangan provinsi. Berdasarkan hasil kajian, pemkab melalui Pak Bupati nanti hanya bisa menetapkan kondisi pencemaran, guna menanggulangi dampak resiko ke masyarakat. Sesuai aturan, ini bisa kita lakukan,” tutur Ferizal Ridwan.

Sementara itu, Wali Nagari Tanjuang Pauah, Taufik JS mengaku sangat prihatin dengan kejadian ini, dan berharap kepada pihak yang berwenang untuk dapat segera dapat mengungkap penyebab matinya ribuan ikan di aliran Sungai Batang Maek, sehingga para nelayan dan masyarakat tidak bingung dengan apa yang sedang terjadi.

“Sekitar 150 kepala keluarga menggantungkan hidup di sungai ini. Kalau ada ikan yang tiba-tiba mati seperti ini, tentu mereka takut menjual ikan hasil tangkapan, karena bisa saja akan membahayakan bagi orang lain dan meraka tentu akan takut di tuntut dengan hukuman yang berlaku. Untuk itu, kita harus pastikan dulu apa penyebab kematian ikan ini,” ungkapnya.

POLRES SELIDIKI DUGAAN PECEMARAN LINGKUNGAN

Sementara itu jajaran Polres Limapuluh Kota yang dipimpin langsung Kapolres AKBP. Sri Wibowo didampingi Kasat Reskrim, AKP. Anton Luther, Jumat, (25/10), juga turun ke lokasi melakukan pemantauan terkait dugaan limbah yang disebabkan aktivitas pertambangan milik perusahaan PT. BBP.

Kepada awak media Kasat Reskrim, AKP. Anton Luther mengatakan bahwa, pihaknya telah melakukan proses penyelidikan terkait matinya ribuan ikan di aliran Batang Maek tersebut. Proses tersebut diawali dengan mengambil sampling air di aliran sungai terdekat dengan perusahaan serta limbah PT. BBP.

“ Kita sudah lakukan proses penyelidikan dengan mengambil sampel di dua tempat berbeda. Sampel itu akan kita antar ke laboratorium untuk dilakukan pengecekan,” ujar AKP. Anton.

Ia juga menambahkan, dari hasil penyelidikan tersebut nantinya akan menunjukkan kadar air bagaimana. Namun pihaknya belum bisa mengatakan, ada atau tidaknya dugaan pidana dari kematian ribuan ikan itu, namun yang jelas penyelidikan terus berjalan.

“Kita belum bisa katakan adanya dugaan pidana, namun yang jelas penyelidikan dari kita terus berjalan,” tambahnya.

AKP Anton juga mengatakan, nantinya pihak kepolisian juga akan meminta keterangan dari nelayan terdekat dan pihak PT. BBP yang bergerak dibidang timah hitam serta saksi lainnya yang mengambil dan memakan ikan (dst) Batang Maek, tepatnya di Nagari Tanjuang Balik, Kecamatan Pangkalan Kabupaten Limapuluh Kota, disikapi serius oleh Pemkab Limapuluh Kota.

Untuk mencari tahu apa penyebab terjadinya pecemaran aliran Batang Maek tersebut, Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan bersama BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Badan SAR Nasional (Basarnas), Camat Pangkalan, Wali Nagari Tanjung Pauah, serta sejumlah awak media turun melakukan pemantau dan menelusuri ke aliran Batang Maek dan lokasi sebuah tambang timah hitam yang diduga menjadi penyebab terjadinya pencemaran air sungai Batang Mahat tersebut. Jum’at, (25/10).

Di kokasi pertambangan, Wabup Ferizal Ridwan sempat memintai keterangan pengelola perusahaan tambang yang diketahui dikeloka oleh PT Berkat Bhineka Perkasa (BBP), lokasinya berada sekitar 7 kilometer dari simpang empat Nagari Tanjung Pauah.

“Saya tadi bertemu dengan kepala teknis tambang dan juga konsultasi lingkungan dari pihak PT BBP. Dari hasil diskusi, diperlukan tindak lanjut dari hasil survey yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan termasuk oleh konsultan. Dari hasil itu baru dapat kita simpulkan apa penyebab matinya ribuan ikan. Makanya, ini butuh kajian teknis, termasuk buat penanganannya. Kita akan lakukan rapat koordinasi,” ujar Wabup Ferizal.

Sebelum meninjau tambang, Ferizal Ridwan sempat bersosialisasi dengan masyarakat di Masjid Taslim Tanjung Pauah. Dalam pertemuan seusai salat Jumat tersebut, Ferizal sempat menyampaikan imbauan terkait peristiwa pencemaran air Sungai Batang Maek.

“Saya imbau kepada masyarakat Tanjuang Pauah, agar tidak melakukan tindakan apa pun terkait penanganan kasus pencemaran air Batang Maek. Serahkan saja penanganannya kepada pemerintah, sesuai tugas dan kewenangannya,” imbaunya.

Ferizal turut meminta, agar masyarakat mengurangi aktifitas di dalam sungai termasuk mengkonsumsi air dan ikan di aliran Batang Maek, sampai kondisi air benar-benar steril. Hal tersebut guna menghindari warga dari resiko kesehatan apabila terkotaminasi air yang tercemar.

Terkait kewenangan dan izin perusahaan tambang, sesuai UU Kehutanan dan Pertambangan, Ferizal menyebut sejak 2016 lalu berada di pemerintah provinsi.

“Makanya, pengawasannya juga kewenangan provinsi. Berdasarkan hasil kajian, pemkab melalui Pak Bupati nanti hanya bisa menetapkan kondisi pencemaran, guna menanggulangi dampak resiko ke masyarakat. Sesuai aturan, ini bisa kita lakukan,” tutur Ferizal Ridwan.

Sementara itu, Wali Nagari Tanjuang Pauah, Taufik JS mengaku sangat prihatin dengan kejadian ini, dan berharap kepada pihak yang berwenang untuk dapat segera dapat mengungkap penyebab matinya ribuan ikan di aliran Sungai Batang Maek, sehingga para nelayan dan masyarakat tidak bingung dengan apa yang sedang terjadi.

“Sekitar 150 kepala keluarga menggantungkan hidup di sungai ini. Kalau ada ikan yang tiba-tiba mati seperti ini, tentu mereka takut menjual ikan hasil tangkapan, karena bisa saja akan membahayakan bagi orang lain dan meraka tentu akan takut di tuntut dengan hukuman yang berlaku. Untuk itu, kita harus pastikan dulu apa penyebab kematian ikan ini,” ungkapnya.

POLRES SELIDIKI DUGAAN PECEMARAN LINGKUNGAN

Sementara itu jajaran Polres Limapuluh Kota yang dipimpin langsung Kapolres AKBP. Sri Wibowo didampingi Kasat Reskrim, AKP. Anton Luther, Jumat, (25/10), juga turun ke lokasi melakukan pemantauan terkait dugaan limbah yang disebabkan aktivitas pertambangan milik perusahaan PT. BBP.

Kepada awak media Kasat Reskrim, AKP. Anton Luther mengatakan bahwa, pihaknya telah melakukan proses penyelidikan terkait matinya ribuan ikan di aliran Batang Maek tersebut. Proses tersebut diawali dengan mengambil sampling air di aliran sungai terdekat dengan perusahaan serta limbah PT. BBP.

“ Kita sudah lakukan proses penyelidikan dengan mengambil sampel di dua tempat berbeda. Sampel itu akan kita antar ke laboratorium untuk dilakukan pengecekan,” ujar AKP. Anton.

Ia juga menambahkan, dari hasil penyelidikan tersebut nantinya akan menunjukkan kadar air bagaimana. Namun pihaknya belum bisa mengatakan, ada atau tidaknya dugaan pidana dari kematian ribuan ikan itu, namun yang jelas penyelidikan terus berjalan.

“Kita belum bisa katakan adanya dugaan pidana, namun yang jelas penyelidikan dari kita terus berjalan,” tambahnya.

AKP Anton juga mengatakan, nantinya pihak kepolisian juga akan meminta keterangan dari nelayan terdekat dan pihak PT. BBP yang bergerak dibidang timah hitam serta saksi lainnya yang mengambil dan memakan ikan (dst)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda