Rumah Sakit Arosuka Diduga Lakukan Malpraktek Hingga Pasien Meninggal Dunia

2
5451

SOLOK, JN- Dugaan malpraktek diduga terjadi dalam penanganan pasien yang akan melahirkan atau persalinan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arosuka Kabupaten Solok belum lama ini, hingga menyebabkan pasien meninggal dunia.

Kisah pilunya, dipaparkan secara jelas oleh bibik korban kepada media ini dikediamannya, dan lengkap dengan tulisan tangan kronologis peristiwa yang menyebabkan saudaranya meninggal dunia. “Ya saya menduga, akibab kelalaian perawat dan dokter yang menangani saudara saya, hingga menyebabkan meninggal dunia. Saya minta hal ini diusut pihak yang berwenang, agar kisah miris ini tidak terulang lagi di Rumah Sakit Arosuka pada masa yang akan datang,” jelas  Dewi Kurnia (37), bibik korban atau adik ibu korban, kepada Koran Padang di kediamannya belum lama ini.

Dengan deraian air mata, Dewi menceritakan bahwa dugaan malpraktek itu terjadi saat dirinya membawa pasien  yang bernama  Rini Novia (25), ke RSUD Arosuka pada hari Selasa  tanggal 27 Februari 2018 karena akan melahirkan, sebab  Rini mengeluhkan sudah merasakan rasa sakit untuk melahirkan. Sesampai di RSUD Arosuka, Rini dibawa ke ruang Ponek. Kemudian dilakukan pemeriksaan oleh perawat dan dinyatakan waktu itu belum bisa melahirkan saat itu karena masih menstabilkan paru-parunya dan oleh perawat Rini hanya diberi obat.

Kemudian pada hari Rabu tanggal 28 Februari, Rini di USG oleh dokter dan dokter waktu itu menyatakan bahwa anak Rini sehat dan beratnya sekitar 2,5 Kg, namun baru bisa melahirkan sekitar  20 hari sejak hari Rabu itu atau sekitar tanggal 20 Maret 2018. “Kemudian pada hari Kamis keesokan harinya, keluarga membawa Rini pulang sekira jam 12 siang. Namun pada tanggal 3 Maret Rini kembali dibawa ke RSUD sekitar jam 4 sore,  karena Rini merasakan hendak melahirkan. Pada keesokan harinya yakni tanggal 4 Maret, Rini merasakan sakit hendak melahirkandan oleh perawat langsung dibawa kembali ke ruang Ponek dan para perawat tampak memeriksa Rini,” jelas Dewi.

Kemudian lanjut Dewi, pera perawat mengatakan bahwa sebentar lagi Rini siap untuk melahirkan dan saat itu Rini dijaga oleh dua orang perawat.  Perawat yang pertama mengatakan bahwa ketuban Rini sudah pecah  namun perawat kedua mengatakan bahwa ketuban Rini masih utuh. Disitu juga Dewi menilai bahwa perawat tidak profesional.  Sekira jam 8 Wib, Rini merasakan sakit yang lebih kuat dan kepala bayi sudah mau keluar. Perawat menyarankan agar Rini mengerang agar supaya lahir anak lebih cepat, meski waktu itu kepala bayi sudah kelihatan, waktu itu nenek Rini berada disamping Rini.  Pasien yang da juga menyarankan agar Rini mereng atau  telentangkan saja agar bayi cepat keluar dan tidak lama kemudian bayi keluar dengan selamat dan disusul dengan ari-ari sibayi.  Kemudian sibayi langsung dibawa oleh dokter karena sibayi minum air ketuban. Saat itu Rini ditangani oleh perawat yang baru datang dan mengatakan bahwa Rini harus dijahir karena ada yang lecet. Dalam waktu menjahit, Rini diperiksa bagian dalam perutnya karena masih ada darah kotor dan Rini tampak menggigil. Kemudian perawat memasang lampu dan perawat bertanya pada pasien Rini, sakit apa tidak? Rini menjawab saat ini masih kebal. “Karena yang diperiksa bagian dalamnya terus, kami bertanya, kenapa Rini diperiksa bagian dalamnya terus? Perawat itu menjawab bahwa didalm perutnya masih banyak darah kotor,” terang Dewi.

Disitulah kami melihat keanehan, kami melihat yang keluar bukan darah kotor namun darah segar. Nenek saya juga bertanya, berapa buah sih jahitnya kok belum kelar-kelar juga dan darah masih mengalir dan dijawab seenaknya oleh perawat tidak tau berapa jumlah jahitannya. Karena tidak tahan, nenek rini meminta agar jahitannya tidak diteruskan, namun perawat tidak mengabaikan permintaan nenek Rini. Bahakan anehnya, seorang perawat memasukan tisue kedalam jahitan Rini dan tidak dikeluarkan,  sementara Rini makin menggigil kedinginan.  Rini benar-benar makin menggigil dan diselimuti dengan kain panjang dan minta dipeluk sama Dewi. Rini mengeluhkan perutnya perih sekali dan nafasnya sesak, kemudian perawat memberikan oksigek kepada Rini.

Setelah usai  dipasangkan oksigen, Rini tidak lagi sadarkan diri. Saat itu, datanglah perawat sebanyak Enam orang , melihar kondisi Rini kritis, seorang dokter laki-laki datang dan menyarankan agar Rini harus dipindahkan ke ruang ICU. Namun tidak jadi karena harus dipasang alat untuk mensterilkan jantung . “Saat itu kami melihat bahwa Rini tidak bergerak lagi dan perawat mengatakan akan menolong semampu mungkin. Dan saya mengatakan bahwa Rini sudah meninggal dan perawat langsung menekan dada Rini. Saya menhgatakan bahwa kena kayu sedikit saja bisa lecet apalagi ditekan sekuat itu. Tapi dia diam saja,” terang Dewi. Tepat jam 11 siang perawat mengatakan bahwa Rini sudah tidak bisa diselamtkan lagi dan suasana jadi pecah berubah jadi kesedihan.  Suami almarhum Rini, Syafrianto (30), tidak ada ditempat karena sibuk menebus obat di apotik.

“Waktu itu hampir tidak ada masalah karena kami pikir kami orang bodoh dan berdo’a agar rini bisa selamat. Tetapi setelah kami pikir-pikir di rumah, andai perawat dan dokter yang menangani rini Profesional, mungkin tidak akan terjadi begini. Apalagi tissue putih dimasukin kedalam perut itu untuk apa? Apakah ini tidak malpraktek namanya?,” tanya Dewi. Apalagi dokter yang memeriksa waktu pertama mengatakan Rini baru akan melahirkan 20 hari lagi, namun tidak sampai Seminggu sudah melahirkan.

Ditambah lagi saat hendak membawa pulang mayat korban ke rumahnya di kawasan Rawang, Jorong Lubuk Selasih,  Kenagarian Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, timbul lagi masalah bahwa mobil Ambulance ada, tetapi kata orang rumah sakit sopir tidak ada. Padahal kami melihat sopirnya sibuk main domino disana. “Karena tidak mau bertengkar, kami menghubungi Ambulance Kayu Jao dan tidak lama kemudian datang, namun oleh orang rumah sakit tidak boleh dibawa pakai ambulace Kayu Jao dan dia mengatakan sopir Ambulance Rumah Sakit sudah ada. Aneh juga, tadi dia mengatakan tidak ada, saat mobil Ambulance Kayu Jao datang, sopir yang akan mebawa adalah orang yang tadi main domino di pos,” jelas Dewi. Waktu itu dia tidak mempermasalahkan karena sedang berduka. Dia berharap agar kejadian ini tidak terulang lagi dan pihak Rumah Sakit harus bertanggungjawab atas kelalaian itu. Dewi menduga bahwa akibab kelalaian pelayanan dan dugaan malpraktek, saudaranya tidak bisa diselamatkan. “Saya berharap agar hal senacam ini tidak terulang lagi di Arosuka dan harus Profesinal, cukup keluarga kami saja yang jadi korban,” jelas Dewi. Saat ini anak almarhumah Rini yang berjenis kelamin pria bernama  Al Halim usia Dua Minggu, harus menjadi piatu.

Saat media ini mau komfirmasi kepada Dirut RSUD Arosuka, dr Maryeti Marwazi, Mars, pada Jum’at (16/3), Sesprinya mengatakan bahwa Dirut sedang berada di Padang karena ada keluarganya yang sakit. Sementara saat dikomfirmasi kepada Kepala Bidang Pelayanan, RSUD Arosuka, Dr. Ola Prianti yang juga Ketua IDI Kabupaten Solok, bahwa hal itu tidak kewenangannya menjawab. Lebih baik tanya langsung saja kepada Buk direktur, kalau saya nanti takut salah jawab, terang Ola Prianti (wandy)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here