Mantan Bos Kecap dan Sambal Dituntut 2,5 Tahun Penjara

0
761
PADANG, JN- Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Tinggi Sumatra Barat, menuntut bos Perusahaan Cahaya Baru, yakninya Iskandar Salim (47 tahun), yang diduga melakukan penambahkan bahan tambahan, terhadap produksi sambal dan kecap.
Dalam sidang tersebut, terdakwa  yang menjalani sidang di Pengadilan Negeri Padang, Selasa (27/3), dinilai bersalah, oleh JPU. ” Menuntut terdakwa dengan hukuman pidana penjara selama dua tahun dan enam bulan kurungan penjara,”kata JPU Sofia Fitri bersama tim, saat membacakan amar tuntutannya.
Majelis hakim menambahkan terdakwa terbukti melanggar, pasal 136 huruf a jo pasal 75 Undang Undang no 18 tahun 2012 dan kedua pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 ayat 1 huruf a dan e Undang Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang pangan dan perlindungan konsumen.
Terdakwa yang didampingi Penasihat Hukum (PH)  mengajukan nota pembelaan (pleidoi).  Sidang yang diketuai oleh Sri Hartati   beranggotakan Leba Max Nandoko dan Sutedjo, memberikan waktu kepada PH terdakwa satu minggu.
Sebelumnya, dalam dakwaan disebutkan bahwa, kejadian ini berawal pada 10 Mei 2017 lalu di Parak Laweh, Jalan Raya Bay Pas. Dimana polisi dari Polda Sumbar, mendatangi  perusahan milik terdakwa yakninya Cahaya Baru. Dimana perusahaan tersebut memproduksi kecap dan sambal siap edar dan dipasarkan di wilayah Sumatera Barat.
Saat polisi mendatangi perusahan tersebut, ditemukan perusahaan sedang memproduksi kecap dan sambal yang ditambah dengan bahan lainnya berupa natrium benzoatdan eyclamate, dimana hal tersebut, perintah dari terdakwa.
Adapun kecap yang diproduksi adalah kecap manis, kecap asin, dan burung kecap sedangkan sambel merek CN sambel dan sambel merek nikmat serta lezat. Dalam perharinya perusahaan tersebut memproduksi kecap lebih kurangg 40 lusin dengan ukuran 600 ml. Sedangkan sambal 150 lusin. Agar kecap dan sambal tahan lama, terdakwa memerintahkan karyawaan meracik bahan tambahan seperti sodium Na benzoat sebanyak 7 ons untuk sekali sambal.
 Dalam aturannya Badan Pengelola Obat dan Makanan (BPOM) menyebutkan, pangan tersebut tidak boleh melebihi batas maksimal, sehingga tidak memenuhi persyaratan. Akibat perbuatannya terdakwa harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. (mep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here