Kekerasan Seksual Setidaknya Terjadi 35 Kali Setiap Hari

0
223

PADANG, JN-Menurut catatan tahunan terkait kasus kekerasan seksual terhadap perempuan setidaknya 35 orang menjadi korban setiap harinya. Guna memperkecil angka tersebut maka pentingnya dibentuk Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual yang sekarang sudah berada di Komisi 8 DPR RI sebagai bentuk diseminasi rancangan undang- undang.
Hal itu disampaikan Komisoner Komnas Perempuan Prof. Nina Nurmila, M.A., Ph.D pada seminar nasional dengan tema “Urgensi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual”, Kamis (25/4) di Fisip Unand. Pembicara dalam seminar ini diantaranya aktivis Masruchah dari Komnas Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Yefri Heriani dari Nurani Perempuan Woman Crisis Center Sumbar.
Seminar ini dihadiri oleh dosen dan mahasiswa Universitas Andalas dari berbagai fakultas di Unand. Seminar ini merupakan bentuk diseminasi RUU Penghapusan Kekerasan. Seminar di buka oleh Dekan Fisip Unand, Dr Alfan Miko dan tampil sebagai moderator Dr. Aidinil Zetra.
Pada sisi lain, Masruchah dari Komnas Anti Kekerasan Terhadap Perempuan menyebutkan, Bedasarkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan seksual, terdapat 9 jenis kekerasan seksual, diantaranya pelecehan seksual, Eksploitasi seksual, pemaksanaan kontrasepsi, pemaksaan perkawinan, perkosaan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual dan penyiksaan seksual. Indonesia darurat kekerasan seksual ini tidak luput dari Sumatera Barat.’
“Banyak bentuk kasus kekerasan seksual yang terjadi di Sumatera Barat, terutama yang korbannya perempuan dan usia anak. Kasus ini terjadi di tengah-tengah masyarakat seperti di rumah sakit, di sekolah dan di rumah sendiri tentunya. Melalui RUU ini diharapkan menjadi harapan baru bagi korban kekerasan seksual untuk memperoleh keadilan, “ ujarnya.
Direktur Women Crisis Center Nurani Perempuan Yefri Heriani mengatakan tindak kekerasan terhadap perempuan di Sumatera Barat masih tinggi. Dari tahun ke tahun, jumlah laporan korban kekerasan kepada Nurani Perempuan cenderung mengalami peningkatan.Peningkatan tidak hanya kasus tetapi meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus yang pernah terjadi. Seperti baru baru kasus terjadi kekerasan seksual terhadap anak terjadi di Kota Solok, Padang dan Padang Pariaman.
“Ditenggerai penyebab masih maraknya tindak kekerasan terhadap perempuan, terutama kekerasan seksual sebagai kasus yang lebih menonjol adalah pada anak-anak dan usia remaja.Berbagai hal terjadinya tindakan kekerasan tersebut antara lain terjadi karena faktor kemiskinan, rendahnya pendidikan, tidak adanya pendidikan seksual, pengaruh negatif kemajuan IPTEK, konflik peran gender, dan sebagainya. Faktor pemiicu lainnya yang selama ini kurang diperhatikan, yaitu adanya relasi kuasa dan impunitas terhadap pelaku, “ sebut Yefri Heriani (01/dp)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda