Jalius Jadi Tersangka Setelah Laporkan Tewasnya 2 Anak di Lubang Tambang

0
1441

ABAI SOLSEL, JN – Malang benar nasib Jalius. Usai membuat laporan atas tewasnya anak kandungnya dilubang galian tambang yang diduga ilegal kini ia ditetapkan sebagai tersangka soal kasus BBM Bersubsdi.

Kasusnya bermula ketika Jalius tidak mau mencabut laporan atas kasus yang menimpa anaknya pada 28 September 2018 dilubang tambang galian C di Aliran Sungai Batang Sangir Nagari Abai Kecamatan Sangir Batang Hari Kab. Solok Selatan,”demikian dikatakan Guntur Abdurrahman selaku Kuasa Hukum Jalius di Koto Baru belum lama ini.

Lebih lanjut kata Guntur, setelah Jalius melaporkan kematian anaknya dilubang tambang itu pelaku tambang tidak diproses oleh kepolisian, alat berat yang digunakan juga dibiarkan begitu saja sementara pelaku tambang masih bebas.

Advokat dari Kantor Palito Law Firm itu mengungkapkan, ada 2 anak berusia 9 tahun tewas dilubang tambang dan ketika Jalius dan Asahri (Ayah 2 anak yang tewas,-red) dipanggil ke Polres Solok Selatan untuk memberikan keterangan soal peristiwa yang menimpa anak mereka, namun usai memberikan keterangan Jalius kemudian diberikan surat panggilan atas tuduhan penggelapan BBM Bersubsidi yakni penggelapan 27 jerigen berisi solar yang berada di rumah Jalius.

Klien saya sendiri tidak tahu siapa pemilik 27 jerigen solar itu dan siapa pemesannya serta mengapa dia meletakkan didepan rumah klien saya, lantas kemudian polisi menyita. Dalam menyita BBM itu klien saya juga tidak berada dirumahnya, tiba-tiba tanpa pemeriksaan apa-apa klien saya ditetapkan sebagai tersangka, “ungkap Guntur.

Guntur menduga kasus yang menimpa kliennya terkesan dipaksakan karena kliennya menolak uang damai dari pelaku tambang sebesar Rp. 600.000,- saat anaknya tewas dilubang tambang hingga membuat laporan ke kantor polisi dan tak mau mencabutnya kembali.

Klien saya membuat laporan polisi atas kematian anaknya dilubang tambang tapi pelaku tambang belum juga diproses, bahkan klien saya kini diduga melakukan tindak pidana penyimpanan BBM Bersubsidi sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 53 Huruf C UU Nomor 22 tahun 2001 tentang Migas, padahal klien saya tidak tahu menahu soal kepemilikian solar itu,” Jelas Guntur lagi.

Untuk diketahui, pada tahun 2018 ada dua orang anak berusia 9 tahun meninggal dilubang tambang dan ayahnya telah membuat laporan polisi tapi hingga kini tidak jelas kasusnya seperti apa. Kedua anak yang tewas adalah Lani Oktira Saputri dan Fristi Aura Cantika. Salah satunya adalah anak Jalius yang kini jadi tersangka kasus penggelapan BBM bersubsidi. Anehnya hingga kini pelaku tambang tak diproses secara hukum meski laporan polisi sudah ada.

Kan aneh, ada laporan polisi, ada korban dua nyawa melayang, ada saksi-saksi, ada alat berat juga tapi tak diproses lalu kemudian klien saya ditetapkan sebagai tersangka hanya dalam waktu dua hari setelah polisi menyita BBM itu, padahal klien saya tak tahu menahu soal BBM tersebut dan tidak pernah dimintai klarifikasi dan tak tahu kasus yang menjeratnya tiba-tiba jadi tersangka,”ucap Guntur (01/Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here