SOLOK, JN– Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Solok, H. Elyunus menyebutkan bahwa terkait adanya aliran sesat sekelompok orang yang berada di Jorong Kapuah, Nagari Sumani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, bahwa pihaknya menyebutkan hal itu bukan bagian dari agama Islam, namun murni aliran sesat.

Sekelompok orang yang menganut agama baru tersebut bernama Agama Muslim, sempat menggegerkan warga Kabupaten Solok, karena aliran tersebut dianggap sesat dan aneh.
Menurut informasi yang didapat dari warga sekitar, aliran keagamaan itu sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1996.
Sesuai informasi yang didapat dari warga sekitar, aliran keagamaan itu sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1996, namun baru sekarang terkuak. “Mereka bukan beragama Islam dan mereka mengakui bahwa tuhan mereka adalah Rabbi. Dan untuk naik haji cukup hingga kota Padang saja,” sebutnya.
Pihaknya sudah pantau aliran tersebut dan melakukan investigasi soal Agama Muslim ini. “Hasilnya dapat disimpulkan bahwa MUI menyatakan Agama Muslim tersebut bukan bagian dari Islam. Mereka sudah keluar dari Islam,” kata H. Elyunus, Senin (27/7)

Dengan dinyatakannya bahwa Agama Muslim bukan merupakan ‘bagian dari Agama Islam, maka mereka tidak berkewajiban melakukan pengawasan dan pemantauan kepada para pengikutnya. 
“Yang kita perlukan adalah pembinaan agar ajaran ini tidak mempengaruhi orang Islam untuk murtad seperti mereka dan tidak sampai memperluas aliran mereka,” tutur H. Elyunus.

Yang diperlukan sekarang adalah perhatian dari lembaga yang memiliki perhatian kepada orang Islam. Agar ajaran ini tidak merusak iman orang Islam dan akhirnya menjadi murtad seperti mereka.
Menurut Elyunus, MUI juga sulit untuk berdiskusi dan saling bertukar wawasan dengan penganut aliran itu, disebabkan mayoritas guru dan pengikutnya tidak memahami Islam dan Tauhid. Apalagi, rata-rata tidak berpendidikan rendah atau hanya Sekolah Dasar.
Keinginan untuk memahami dan mempelajari Islam maupun Tauhid juga tidak ada. Jadi susah untuk berdialog dengan mereka.
Dari pantauan MUI Kabupaten Solok, jumlah pengikut ‘Agama Muslim’ ini berjumlah puluhan orang yang tersebar di Nagari Sumani, Koto Sani dan sekitarnya.
Namun, dari informasi yang berkembang. Ajaran serupa juga ada ditemukan di Kabupaten Dharmasraya.

“Apakah ada kaitan ajaran yang serupa di Dharmasraya itu dengan Agama Muslim di Solok, kami tidak tahu. Tapi ajarannya sangat mirip. Dan ini perlu kerjasama dengan MUI Provinsi,” sebut H. Elyunus.


Pihaknya juga meminta agar MUI Sumatera Barat dan Pusat untuk memperhatikan Agama Muslim ini. Pasalnya, tidak hanya berkembang di Kabupaten Solok. Tetapi sudah ada di Dharmasraya dan Kota Surabaya.Bahkan sesui informadi, ajaran itu bukan hanya di Solok, namun kabarnya dibawa dari Kota Surabaya dan berkembang juga di Dharmasraya dan sekitarnya.

H. Elyunus

Disebutkan Elyunus, Rabbi bagi mereka berarti Yang Menciptakan, bukan Allah SWT. Kemudian nabinya adalah Nabi Ibrahim AS, bukan Nabi Muhammad SAW. 
Bahkan dari pengamatan MUI, sejumlah aturan di Agama Muslim ini jauh berbeda dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, SAW.
“Ajaran ‘Agama Muslim’ ini tidak mewajibkan salat, tetapi mewajibkan mengingat Rabbi. Tidak berpuasa, tapi harus mengendalikan hawa nafsu. Selain itu, kewajiban untuknaik haji hanya untuk para guru. Bagi pengikut yang ingin berhaji, bisa diwakilkan kepada guru mereka,” papar Elyunus.  
Intinya, seluruh ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, SAW, tidak dipercayai oleh pengikut ‘Agama Muslim.’
Diduga, ajaran ini dibawa oleh salah seorang warga Kota Padang ke Solok setelah belajar di Kota Surabaya, Jawa Timur sejak tahun 1996.”Kita menghimbau agar masyarakat tidak teroengaruh oleh aliran sesat ini. Ajaran Islam hanya berpedoman kepada Al Qur’an dan Hadist Nabi,” pungkas H. Elyunus.

Walinagari Sumani Menjawab tuntas

Terkait aliran sesat tersebut, Walinagari Sumani, Masri Bakar, kepada  Koran Padang, Senin (27/7), menjelaskan bahwa sehubungan dengan keluarnya Press Realeas dari  Kejari Solok tentang Adanya kegiatan ke agamaan yang meresahkan masyarakat Sumani (aliran sesat), di Sumani, maka pihaknya dari Pemerintah Nagari menyampaikan kepada Bapak-bapak dan ibuk-ibuk, Tokoh-tokoh Masyarakat, Semua Lembaga-Lembaga yang ada di Nagari maupun di Perantauan, bahwa diakui kasus tersebut memang ada pada beberapa bulan yang lalu di nagari Sumani yakni di jorong kapuh, namun saat ini sudah tidak ada lagi.


 “Untuk tidak berkembangnya kasus tersebut, kita dari Pemerintah Nagari, BPN dan KAN,  sudah melakukan antisipasi, seperti pada tanggal 9 April 2020, telah memanggil saudara  M.Syakur ke kantor untuk diminta keterangannya tentang kegiatan yang di lakukan. 
Kemudian Pada tgl 11 April 2020, pihak nagati sudah membuat surat untuk pelarangan atas kegiatan tersebut. “Dan sejak keluarnya surat pelarangan dari Pemerintah Nagari,  kegiatan itu tidak ada lagi di jorong Kapuh khsusnya dan nagari Sumani umumnya. Namun melalui proses dari bawah kasus tersebut tetap di lproses oleh pihak-pihak terkait, sehingga di bawa ke BAKORPAKEM di Kejari, tentu kita menyadari bahwa untuk memproses sebuah kasus butuh waktu,” terang Masri Bakar.
Alhamdulillah pada tanggal 22 Juli 2020 yang lalu, keluar Press Releas dari Bapak Kejari Solok. ” Dan dengan adanya kasus tsb diatas,  kedepannya harapan kami pem nagari dan kita semua  kasus ini tidak akan pernah lagi ada di nagari Sumani yang kita cintai ini,” terang Masri Bakar (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here