JPU Hadirkan Istri Terdakwa Untuk Jadi Saksi

0
39

PADANG, JN Jaksa Penuntut Umum (JPU), Dwi Indah cs, pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Padang, menghadirkan empat orang saksi, terkait kasus penganiayaan yang menyebabkan Eri Rahmat (korban), tewas ditangan Eri Yanto (53 tahun).  

Dalam sidang tersebut, para saksi menceritakan  peristiwa berdarah itu. Menurut saksi Hendri , bahwa pada tanggal 3 Agustus 2018, saksi melihat korban dengan banyak darah. “ Kondisi korban waktu itu, ada darah di dada kiri dan pinggang kebawah juga mengeluarkan darah. Lalu ketika polisi datang, korban dibawa ke rumah sakit,” kata saksi memberikan keterangannya di Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA Padang, Selasa (18/12).

Hal senada pun juga disampaikan oleh saksi laninnya yakninya, Rahmadani. Saksi menyebutkan pada saat dirinya melihat korban, korban sudah tak bernyawa lagi. “ Ketika di lokasi saya lihat, tubuh korban sudah dingin dan saya melihat darah di  pinggang kebawah korban. Sedang di wajah korban tidak ada luka,” sebut saksi.

Selain itu, JPU juga menghadirkan istri terdakwa yaitu Eli Marni. Saksi menjelaskan bahwa, antara korban dengan terdakwa terjadi permasalahan. “ Sebelum kejadian, korban memeras anak saya dengan meminta uang jika tidak diberikan korban akan memukul anak saya. Lalu suami saya  tidak terima dan marah kepada korban. Suami saya sempat mencari korban tapi tak bertemu, pada tanggal 3 Agustus 2018 suami saya bertemu dengan korban di tempat nasi goreng, tepatnya simpang Brimob,Lubuk Buaya, disitulah mulai terjadi keributan,” ucap sang istri.

Istri terdakwa juga menuturkan bahwa, terdakwa sempat menusuk korban sebanyak tiga kali. “ Itu saya dengar dari mulut orang-orang pak hakim,” tandasnya. Dalam sidang tersebut, JPU menghadirkan barang bukti berupa baju, celana korban yang dibungkus plastic dan diletakkan di kotak plastic bertutup hijau.

Terdakwa yang menjalani sidang didampingi Penasihat Hukum (PH) Rina cs, tidak keberatan atas keterangan para saksi.  Sidang yang dipimpin oleh Sutedjo beranggotakan Leba Max Nandoko dan Sri Hartati melanjutkan sidang pekan depan.

Dalam dakwaan dijelaskan,  kejadian ini terjadi pada Jumat, 3 Agustus 2018, sekitar pukul 22.30 wib, tepatnya  di Komplek Pondok Citra Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah. 

Sesampai di rumah, terdakwa bersiap pergi ke tempatnya bekerja di rumah pemotongan hewan, dengan membawa peralatan kerja berupa pisau daging dan batu asahan.  Sebelum berangkat, terdakwa menyempatkan membeli nasi goreng bersama istrinya yakni, Eli Marni. Setelah sampai di warung nasi goreng, Eli masuk memesan makanan, sedangkan terdakwa menunggu di parkiran. 

Saat sedang menunggu nasi goreng, terdakwa disapa oleh Eri Rahmat (korban) yang sedang makan di warung nasi goreng itu.  Mengetahui yang menyapa itu adalah Eri, terdakwa mendekati korban dan langsung menanyakan perihal kenapa korban memukuli anaknya.Dan Eri Rahmat malah memaki dan menantang terdakwa.

Melihat ada keributan di kedainya, Afrizal (saksi) mencoba melerai, dan meminta terdakwa dan korban agar tidak ribut.  Kemudian korban keluar sambil menantang terdakwa, sambil korban berjalan ke arah Perumahan Lubuk Gading Permai III. Saat itu terdakwa mengikuti ke mana korban pergi. Sesampai di depan Mesjid Al-Iman di perumahan tersebut, korban berkata, “Baa karancak dek ang?”, yang kemudian mendorong bahu terdakwa dan melayangkan tinju ke arah wajah terdakwa. Terdakwa pun kemudian membalas dengan meninju bahu kiri dan wajah korban. 

Melihat korban mengambil pisau yang terselip di pinggangnya, terdakwa juga mengeluarkan pisau daging miliknya.  Terdakwa kemudian menusukkan pisau daging ke dada kiri korban sebanyak satu kali. Korban kemudian membalikkan badan. Tak sampai disitu, terdakwa kembali menusukkan pisau ke lutut sebelah kiri. Korban berjalan mundur, lalu tersandar di rumah warga. Terdakwa kembali menusukkan pisau ke pangkal paha kanan korban sebanyak satu kali sehingga korban berlumur darah, dan kemudian meninggal dunia.

Dari hasil pemeriksaan jasad korban, disimpulkan bahwa kematian korban adalah karena pendarahan yang hebat pada paha kanan karena putusnya pembuluh darah besar dan kecil pada paha kanan atas yang disebabkan senjata tajam. Perbuatan terdakwa pun diancam pidana dalam Pasal 354 ayat 2 KUH Pidana. (eko)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda