Tiga Puluh Tahun Berjualan Kacang Goreng Tradisional

0
93

BAPAK Junimaldi (48th) seorang penjual kacang goreng tradisional pada zaman yang serba canggih saat ini. Beliau berjualan di halte bus lama dekat Taman Makam Pahlawan Jalan S. Parman atau lebih tepatnya di seberang jalan O’Chicken Lolong Belanti.

Sebelumnya Bapak Junimaldi ini berjualah di sebelah halte tersebut. Dahulu ketika halte diperbaiki oleh pengurus Perusahaan TU, salah satu pengurus menyuruh Pak Junimaldi berjualah di halte agar bisa berteduh. Beliau sudah sangat nyaman menetap berjualan di sana dan tidak berminat sedikit pun untuk berjualan dengan sepeda, karena pasti akan memiliki dampak yang tidak bisa dihindari seperti orang-orang yang merasa iri kepada dagangan beliau. Setiap hari Bapak Junimaldi ini memikul jualannya menuju pemberhentian angkot dan membawa kembali pulang kacang yang masih tersisa.

Ketika terik matahari mulai menyengat kulit, saat itulah Pak Junimaldi mulai melangkahkan kaki demi sesuap nasi. Pak Junimaldi yang tinggal berkilo-kilo meter dari tempat Ia berjualan, hanya naik angkot agar sampai di sana. Begitulah perjuangan Pak Junimaldi untuk tetap bisa melangsungkan hidupnya yang tak tau kapan akan berakhir. Walaupun sudah renta, namun semangat beliau tetap membara-bara untuk bekerja. Beliau bekerja sejak zaman game online bukannlah makanan sehari-hari untuk anak di bawah umur sampailah detik ini dimana balita saja sudah diberi gadget, tiga puluh tahun sudah berlalu begitu cepat. Hebatnya lagi, Pak Junimaldi mampu bertahan menjual kacang goreng yang masih berbalut plastik bening di tengah canggihnya teknologi saat ini.

Pak Junimaldi memiliki 2 orang anak, si sulung saat ini bekerja di Taman Melati dan si bungsu sejak tamat SMK sampai saat ini tidak bekerja ataupun kuliah karena tidak mampu membiayainya. Jadi si bungsu hanya bisa membantu pekerjaan di rumah. Dulu beliau dan keluarga tinggal di belakang Taman Makan Pahlawan, tetapi karena di sana akan dibuat jalan dan rumah-rumah dihancurkan. Beliau memutuskan untuk pindah ke Lubuk Buaya. Untunglah anak sulungnya sudah bekerja, jadi sedikit beban untuk membayar sewa rumah tidak difikirkan lagi. Anak sulungnya pun tidak melarang sang ayah untuk tetap bekerja sebagai penjual kacang goreng.
Kacang goreng yang beliau jual bukanlah milik sendiri, tetapi milik orang sekampungnya yang berasal dari Pesisir. Namun, pemilik kacang goreng ini sekarang tinggal di Pasaman, dari sanalah kacang di kirim ke Padang. Pak Junimaldi hanya menerima kacang mentah kemudian beliaulah yang mengolah sehingga menjadi kacang goreng. Beliau murni melakukan pekerjaan dari orang lain, karena tidak memiliki modal untuk membeli kacang. Kacang di kirim 1 kali dalam seminggu sebanyak 6 belek. Beliau tidak sendiri mengerjakan semua itu, juga dibantu oleh istri dan anak perempuannya. Pukul 12.00 kacang sudah mulai dimasukkan ke dalam kancah (kuali besar) dan nanti pukul 13.00 kacang siap dibungkus untuk dijual. Setelah adzan dzuhur dan shalat barulah Pak Junimaldi berangkat kerja. Keseharian istrinya hanya membantu sang suami mengolah kacang sampai proses pembungkusan, setelah itu hanya mengurus pekerjaan rumah yang lainnya. Ini karena keterbatasan usia dan ekonomi keluarga Pak Junimaldi. Mereka bahkan tidak memiliki tanah untuk dijadikan lahan bercocok tanam. Pak Muri dan istri bekerja hanya fokus dengan berjualan kacang goreng yang diamanahkan seseorang hingga saat ini.
Pak Junimaldi menjual kacang goreng ini Rp. 5.000/bungkus. Beliau memdapatkan untung yang hanya seharga 2 buah permen kiss dari setiap bungkusnya. Setiap harinya Pak Junimaldi membawa rata-rata lima puluh bungkus untuk dijual dan terkadang itu tidak habis. Dalam sehari paling banyak Pak Junimaldi mendapatkan penghasilan sebanyak Rp. 300.000, itupun beliau hanyak menerima bersih Rp. 100.000 dan sisanya untuk juragan. Tetapi jika hanya mendapatkan Rp. 250.000 dalam sehari, beliau hanya menerima Rp. 90.000. Terkadang pernah suatu ketika Pak Junimaldi hanya mendapatkan hasil dari menjual kacang goreng ini sebanyak Rp. 150.000 dan dengan berbaik hati juragan memberinya Rp. 100.000. Terkadang dalam sehari pernah mendapat Rp. 50.000 itupun sudah masuk uang makan.

Namun terkadang beliau makan dulu sebelum berangkat mencari nafkah. Ia menahan laparnya hingga sampai di rumah nanti demi mengurangi pengeluaran. Begitulah sulitnya Pak Junimaldi bertahan hidup.
Pernah juga suatu ketika saat Pak Junimaldi sedang duduk termenung, kemudian datang pembeli dengan mobil Avanza yang langsung memborong kacang gorengnya dengan alasan sangat kasihan dengan Bapak yang sedari tadi diperhatikan hanya duduk termenung. Pembeli itu langsung menyuruh beliau berkemas untuk segera pulang. “Emang iyo payah kacang Apak tu lakunyo, lakunyo pas lah ampiang ka tutuik acok.” ujar salah satu penjual buah di dekat Pak Junimaldi berjualan.

Di tengah kendaraan yang berlalu lalang di hadapan beliau, jika tidak ada yang membeli memang harus dengan sabar bertahan untuk tetap berjualan. Tidak mengenal panas dan hujan yang penting beliau setia menunggu dagangannya laku terjual. Beliau tidak pernah menawarkan atau memaksakan seseorang untuk membeli kacang gorengnya. Sebab beliau percaya bahwa rezeki setiap orang sudah diatur oleh Sang pencipta. Pak Junimaldi berjualan dari pukul 14.00 hingga pukul 22.00. Beliau harus pulang sebelum pukul 22.00 karena takut angkot sudah tidak ada lagi. Walaupun dagangan masih tersisa sedikit atau masih banyak, beliau harus tetap pulang.
Jualan beliau ketika semua orang mengipas dirinya dengan selembar kertas dan ditambah lagi dihadapkan dengan kipas volume 3, itu biasanya membuat pembeli canggung untuh singgah membeli kacang goreng ini. Sebab orang hanya mengejar sebagai pelepas dahaga agar tenggorokan terasa sejuk. Tapi ketika langit sudah mulai kelam keabu-abuan, itu pembeli mulai berdatangan satu persatu. Ada yang membeli 3 bungkus, 5 bungkus, hingga memborong semuanya. (Penulis adalah: Viona Pratiwi, Sastra Indonesia, FIB Universitas Bung Hatta)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda