Nurhayana Bertarung Hidup Dalam Keterbatasan Fisik.

0
150

NENEK Nurhayana atau Nek Yana begitu biasanya orang-orang menyebutnya. Seorang wanita lansia yang bernama Nurhayana berusia 73 tahun, ia tinggal dirumah yang sangat sederhana dan terletak lumayan jauh dari jalan raya dan keramaian.

Rumah yang berdindingkan papan dan berlantaikan semen coran kasar, beratapkan seng, dan belum diloteng, yang berukuran 3×4 meter dengan tinggi rumah itu kira-kira hampir 2 meteran, dirumah yang bisa dibilang sangat sempit dan kecil itulah ia tinggal dan melaksanakan segala aktivitasnya, ditambah dengan adanya dapur yang berukuran sangat mini yaitu 1×1 meter, yang disambung kebagian samping rumahnya. Rumah nek yana terletak lumayan jauh dari rumah-rumah warga sekitar, dia tidak memiliki tetangga, yang ada hanyalah semak belukar, disamping kiri, kanan, belakang dan depan rumahnya banyak ditumbuhi rumput-rumput ilalang, yang membuat suasana rumah ini semakin sepi dan hanya suara kodok yang terdengar jika dimalam hari. Beruntungnya didekat rumah nek yana terdapat sebauh musholla yang berukurang sedang, kira-kira bisa menampung jamaah sekitar 60 orangan. Dari penjelasan nek yana suara azan dari musholla itulah yang membuat suasana rumahnya menjadi lebih berwarna. Dan dari musholla itulah sumber cahaya yang bisa ia dapatkan untuk menerangi rumahnya ketika bumi mulai gelap, karena nek yana tidak mampu untuk memasang meteran PLN (arus listrik) dirumahnya sendiri dikarenakan terkendala oleh biaya, dan terpaksalah dengan cara menyambungkan sebuah kabel yang lumayan panjang dari musholla tersebut menuju rumahnya dan itu pun hanya bisa untuk satu bola lampu saja. Dan lampu tersebut baru dapat hidup ketika lampu dimusholla tersebut dihidupkan, jika tidak dihidupkan maka nek yana tidur dengan menggunakan lampu colok saja.

Nek nurhayana telah lama hidup mandiri, semenjak suaminya meninggal ia hanya tinggal berdua dengan anaknya, tetapi setelah anak bungsunya itu menikah, kemudian ia memilih untuk pergi dari rumah itu dan tinggal bersama istrinya, setelah itu tinggal lah nek yana seorang diri, semenjak kepergian putra bungsunya itu nek yana sering merasa kesepian, lalu ia memutuskan untuk mengajak adiknya yang telah lama juga hidup sendiri untuk tinggal bersamanya. Sekarang nek yana tinggal dirumah itu berdua dengan adiknya yang telah berusia lanjut juga yaitu nek cidam.
Meski mereka hidup berdua namun nek yana lah yang menafkahi hidup mereka, nek cidam tidak dapat lagi bekerja dikarenakan terkendala oleh kesehatan fisik yang membuat dia tidak kuat lagi untuk bekerja. Nek yana terlihat sangat ikhlas untuk menghidupi dirinya dan adik kandungnya itu, meski dalam keadaan keterbatasan fisik akibat kecelakaan 10 tahun silam, yang membuat kaki sebelah kanannya menjadi pincang dan lemah untuk berjalan, nek yana tidak pernah mengeluh dan menyusahkan orang lain, termasuk anak kandungnya sendiri. Meski nek yana memiliki tiga orang anak, namun ia tidak mau berpangku tangan pada anak-anaknya, ia tetap kekeh berusaha mencari rezeki agar tetap bisa menjutkan hidup dengan mengais pundi-pundi rupiah, dengan cara berjualan sayur keliling dikampung-kampung tempat ia tinggal.

Memang tidak seberapa uang yang ia dapatkan dari hasil berjualan sayur itu, namun karena ikhlas dan tabahnya, orang-orang disekitar juga merasa kasihan dan terharu melihat kegigihan beliau sehingga mereka sering melebihkan uang dari harga sayur yang mereka beli dengan niat sekalian membantu dan bersedekah. Meski telah berusia lanjut ditambah dengan keterbatasan fisik tadi, namun semangat beliau untuk mencari rezeki dapat mengalahkan semangat yang muda-muda, yang terkadang mereka hanya mampu berdiam diri dirumah saja dan memilih jadi pengangguran.
Dari penjelasan nek yana tersebut, biasanya ia hanya berjualan setiap hari senin dan rabu saja. Dan sayur-sayur yang beliau jual tersebut juga bukan hasil dari kebunnya semua atau hasil yang ia tanam sendiri, melainkan sayur yang ia beli kepasar-pasar tradisional dengan harga yang murah atau harga modal, dan kemudian barulah di jual kembali dengan menjajakan sayur-sayur tersebut berkeliling dari sudut kampung yang satu hingga ke kampung lainnya.
Dan sayur-sayur yang biasanya nek yana jual yaitu seperti sayur buncis, terong, kacang-kacangan, kacang panjang, kadang-kadang jual cabe juga, sayur kangkung, genjer dan daun singkong. Namun semua sayur itu tidak dijual secara bersamaan, dia membagi-baginya untuk dijual dihari yang berbeda, misalnya dihari senin dia menjual sayur A dan di hari rabu, dia akan menjual sayur B, tujuannya menjual sayur yang berbeda setiap harinya agar pelanggangnya tidak bosan, selain itu untuk mendapatkan sayur yang sama pada hari yang berbeda juga sangat sulit, dikarenakan ada beberapa sayur seperti terong dan daun singkong, itu ia tanam sendiri, soalnya jika sudah dipanen untuk dijual di hari senin, belum tentu dihari rabunya akan ada lagi terong dan daun singkong yang akan dipanen.

Dan dari penjelasan yang nek yana berikan, biasanya sayur-sayur yang ia jual tidaklah banyak, dikarenakan keterbatasan fisik dan faktor usianya yang sudah tidak muda lagi, ia hanya mampu memikul sayur sedikit saja dan hanya beberapa dari jenis sayuran yang mampu ia bawa untuk di jajakan.
Dan dari penjelasan beliau, biasanya jika ingin menempuh kampung yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya, ia sering menggunakan jasa ojek motor untuk menuju kesana, setelah sampainya dikampung tersebut barulah nek yana berkeliling mengitari kampung dengan berjalan kaki dari gang ke gang dengan memikul sayur-sayur yang akan ia jajakan. Setelah itu nek yana kembali lagi kerumahnya dengan menggunakan jasa ojek motor lagi, tetapi terkadang jika dagangannya tidak habis atau tidak laku, dengan sangat terpaksa beliau pulang dengan berjalan kaki dengan menempuh jarak yang lumayan sangat jauh dan melelahkan untuk seusia nek yana.
Selain itu nek yana juga orang yang sangat rajin untuk mengikuti dan menghadiri acara-acara yang ada dikampungnya, untuk seusia nek yana, beliau juga masih bisa dikategorikan orang yang lumayan aktif dalam bermasyarakat, misalnya seperti mengahadiri acara-acara pengajian atau pun wirid yasin. Hari senin dan rabu dihabiskan nek yana untuk berjualan sayur, sementara di hari kamis biasanya nek yana menghabiskan harinya untuk mengikuti pengajian wirid yasin ibu-ibu, yang diadakan di musholla yang berada didekat rumahnya. Dan pada hari-hari lainnya ia gunakan untuk beristirahat dirumahnya dan terkadang ia juga menyempatkan menanam sayur-sayuran di pekarangan rumahnya.

Begitulah keseharian nek yana, sungguh sangat produktif untuk orang seusia beliau. Dan bagi nek yana, pekerjaan dan kegiatan kesehariannya sudah disukainya. Nek yana pun tidak pasti sampai kapan ia akan berjualan sayur, yang ia tahu selagi ia sehat dan kuat berjalan, meskipun dalam keterbatasan fisik seperti yang ia alami pada saat ini. Namun pekerjaan inilah yang bisa ia lakukan untuk menyambung kehidupannya bersama adiknya. Karena ia sendiri telah menanamkan prinsip dalam dirinya, bahwa dia tidak ingin menyusahkan anak-anaknya hingga ia tiada nanti, itulah yang di pegang teguh nek yana hingga saat ini. Sungguh wanita yang sangat tangguh, dia tidak pernah mengeluh dan menyusahkan kerabatnya, semangat hidup yang tinggi sangat patut untuk dicontoh bagi generasi muda yang suka bermalas-malasan pada zaman sekarang.
(Penulis adalah Puji Rafita, Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Univ. Bung Hatta)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda