Makam Keramat Dang Tuangku Sepanjang 3 Meter di Balai Dama Kini Mulai Menjadi Perhatian

0
804

SOLOK, JN- Makam Keramat Dang Tuangku Sepanjang 3 Meter yang berada di Jorong Balai Dama, kini mulai menjadi perhatian.
Dang Tuangku, mungkin juga orang pertama yang membuka Kampung Guguak.

Selama ini masyarakat Tiga Nagari di Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, yakni Nagari Koto Gadang Guguk, Nagari Koto Gaek Guguk dan Nagari Jawi-Jawi Guguk, tidak begitu banyak mengenal nama Dang Tuangku.
 Namun menurut cerita orang tua-tua dari Tiga nagari di Guguk, Dang Tuangko merupakan orang yang paling berjasa untuk generasi sekarang, karena dari tangan dingin Dang Tuangku pulalah berdiri irigasi-irigasi besar yang ada di Gunung Talang, khususnya di Tiga Nagari Guguk tersebut. Selain itu, di zaman Dang Tuangku inilah mulai dibangun sawah dan irigasi atau ‘banda’ untuk mengaliri air ke persawahan. Dulu jauh sebelum ada persawahan di Nagari Guguk, lokasi itu merupakan hutan belantara dan hanya ada beberapa orang saja yang tinggal di Guguk.

Hal itu seperti dikisahkan tokoh masyarakat Nagari Koto Gadang Guguk, Ayun Lenggang Marajo (76), bahwa diperkirakan sekitar 200 tahun yang lalu, Dang Tuangku datang dari nagari asalnya di Muaro Pingai, yang saat ini Nagari tersebut masuk ke Kecamatan Junjung di pinggir Danau Singkarak. 
“Menurut cerita orang tua-tua di sini, beliaulah yang pertama membangun sawah dan ladang di sini. Jadi jasa beliau tidak bisa terbalaskan oleh generasi sekarang, termasuk membangun banda Rang Cupak yang berada di Jorong Tangah Padang, Nagari Jawi-Jawi Guguk,” jelas Ayun Lenggang Marajo, saat meninjau makam Dang Tuangku di Tampek Singkuang, Jorong Balai Dama, Nagari Koto Gadang Guguk, Kamis siang (27/8). 
Makam atau kuburan Dang Tuangku berukuran sepanjang 3 Meter dan Lebar Satu Meter, saat dulu dijadikan tempat keramat bagi masyarakat sekitar. Disebelah makam Dang Tuangku, terdapat juga sebuah makam berukuran Satu Kali Dua Meter yang namanya belum diketahui. “Masyarakat memperkirakan makam tersebut adalah makam Lareh atau sekarang ini setingkat camat di Guguk dan nama beliau sampai saat ini tidak dikenal. Sama halnya dengan Dang Tuangku, nama aslinya sampai saat ini juga tidak ada yang tau,” tambah Ayun Lenggang Marajo.
Meski ada beberapa versi tentang kisah Dang Tuangku, namun menurut Ayun Lenggang Marajo, cerita itu juga beliau dengar dari orang-orang tua sebelum beliau di tahun 60 han. 
Dang Tuangku menurut cerita Ayun Lenggang Marajo, merupakan orang sakti yang membangun setidaknya Tiga Banda atau saluran irigasi besar di sekitar kawasan Gunung Talang, seperti Banda Dalam yang saat ini berada di samping kantor Bupati Solok kawasan Arosuka, Banda Gadang di Koto Gaek Guguk dan Kapalo Banda Lubuk Kaciak di Nagari Jawi-Jawi Guguk dengan menebus karang keras sejauh 50 meter. “Saat itu banda itu masih bisa kita nikmati dan mengaliri ratusan hektar sawah di Jawi-Jawi, Cupak, Koto Baru hingga ke Solok kota,” jelas Ayun Lenggang Marajo.

Karena hampir beberapa dekade kuburan Dang Tuangku terabaikan, Ayun Lenggang Marajo mempunyai ide untuk membangun ‘Rumah Tampek’ guna melindungi makam Dang Tuangku. Ide Ayun Lenggang Marajo tersebut disampaikan ke masyarakat dan kepada Tiga Walinagari Guguk serta Bupati Solok, H. Gusmal yang kebetulan putra Guguk asli. Bak gayung bersambut, ide Ayun Lenggang Marajo didiukung oleh semua pihak, termasuk pemerintahan Nagari, Bupati Solok dan masyarakat Tiga Nagari Guguk. “Saya ingin orang yang berjasa buat anak cucunya tidak dibiarkan sia-sia dan terlupakan begitu saja Sebab mungkin beliau orang yang pertama mencancang dan melatih. Mungkin tanpa beliau kita di sini tidak akan memiliki sawah yang luas dan juga saluran irigasi yang baik,” jelas Ayun Lenggang Marajo.


Saat itu, dengan bermodalkan tongkat sakti, Dang Tuangku bisa membangun banda besar, walau terkadang harus menebus karang, batu besar dan juga pohon besar serta binatang buas. Bahkan menurut Ayun Lengggang Marajo, tongkat Dang Tuangku masih tersimpan rapi di rumah keturunannya yakni Aji Budin Dt Putieh yang tinggal di Koto Gaek Guguk. Tongkat tersebut seukuran 2 Meter dan Ayun Lenggang Marajo juga mengaku sering memegang tongkat tersebut.

Untuk mengenang nama Dang Tuangku, Ayun Lenggang Marajo mencoba membangun rumah tempat untuk meindungi makam Dang Tuangku. Bersama temannya, Piyan Malin Putieh (65), Ayun Marajo mencoba mencari sumbangan.
 “Alhamdulillah sumbangan itu mengalir dari masyarakat, Pemerintahan nagari, Keluarga Bupati, sumbangan pribadi orang per orang yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan juga para donatur, sehingga rumah tampek ukuran 7 kali 9 Meter bisa terwujud, meski baru sekitar 30 persen dan saat ini sedang terus dilanjutkan pembangunannya,” jelas Ayun Lenggang Marajo. Bahkan keluarga Dang Tuangku sendiri dari Nagari Muaro Pingai, yakni Dt Patiah, juga ikut menyumbang, waktu mendatangi makam Dang Tuangku beberapa hari lalu.

Dia juga menyebutkan, dulu satu kali setahun di Makam Lenggang Marajo masyarakat rutin menggelar kawue nagari di dekat makam Dang Tuangku dengan memotong seekor kerbau. Namun sejak sekitar 20 tahun lalu kawue nagari itu terhenti dan alasannya juga tidak jelas. “Tetapi Bapak Bupati sangat setuju kalau acara kawue nagari itu kembali dilaksanakan dan beliau akan hadir kalau Rumah Tempat ini sudah rampung nantinya,” terang Ayun Lenggang Marajo. Rumah Tempat Dang Tuangku dibangun di tanah kaum suku Supanjang di Jorong Balai Dama dan terletak dipertengahan Tiga Nagari di Guguk.
Disisi lain juga ada beredar kisah, bahwa Dang Tuangku tidak dikubur di Rumah Tampek Tanah Kaum Rang Supanjang, namun makam beliau tidak diketahui. Sementara Nisam ada di lokasi itu semenjak Dang Tuangku Wafat sekitar lebih kurang 200 Tahun silam. Allahu’alam (jn01/wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here