Guru dan Siswa Sama-Sama Rindu Dengan Sekolah

0
2482

Oleh Wandy

————————————————————————————————-

Empat Minggu sudah libur sekolah berlalu, dan sekarang akan ditambah lagi satu bulan kedepan atau hingga tanggal 29 Mei 2020 mendatang dan masuk lagi tanggal 2 Juni 2020.


Mungkin halaman sekolah sudah ditumbuhi rumput yang tinggi dan  ruang-ruang kelas juga sudah digelantungi sarang laba-laba kali serta bunga-bunga mulai tumbuh subur.
Sebagai presepsi, mungkin di sudut-sudut ruang guru juga sudah ada serangga seperti semut dan nyamuk.
Hal itu bisa saja terjadi bukan? Itu hanyalah persepsi yang datang dari sekolah-sekolah kesepian, bangku-bangku yang berdebu, serta halaman sekolah yang sudah ditumbuhi rumput liar. Mereka rindu dengan para siswa yang rajin piket pagi, yang rajin mengusik debu dari kediaman kursi.
Kalau sampai dua bulan, apakah siswa akan ingat mata pelajaran mereka? Biasanya, suara bisik dan canda siswa, terdengar dari sudut-sudut sekolah. Namun semenjak virus Covid-19 mewabah, suara-suara tersebut tidak lagi terdengar.
Hal itu pasti dirindukan siswa dan guru, termasuk tenaga honorer.Meski siswa dipersilahkan untuk memanfaatkan belajar dari rumah, namun hal itu tidak menghasilkan yang efektif. Barangkali, tak seseru saat mereka belajar di sekolah. Tapi, Covid-19 masih melanda, mau bagaimana lagi!

Pasti ada kerinduan yang mendalam bagi siswa untuk bisa segera pergi ke sekolah. Terang saja, biar seperti apapun kondisi sekolahnya, biar segarang apapun guru-gurunya, tetap ada sesuatu yang spesial dan tidak ditemukan di rumah.
Apakah itu tentang rindu jajan di kantin sekolah, tentang cerita seru, main kelereng bersama kakak kelas, nongkrong di taman sekolah, dengar nasihat-nasihat guru, salah satunya pasti membekas di pikiran siswa.
Sayangnya semua itu tidak tidak bisa didapatkan siswa dari rumah. Sekolah yang sudah menggelar daring, mungkin tetap bisa bertatap muka dengan guru via maya. Tapi, apakah sudah sebanyak itu sekolah yang mampu? Rasanya, tidaklah banyak atau malah lebih sedikit.
Bagaimanapun juga, yang namanya anak-anak pasti masih memiliki sikap yang kita sebut nakal dan usil. Mungkin hal inilah salah satu yang mebuat guru rindu siswa. Dilain pihak, siswa juga rindu guru dan para teman-temannya.
Hal-hal seperti itulah yang membuat atau yang mendatangkan kerinduan bagi banyak guru dan siswa. Kerinduan ini mungkin baru akan terbalaskan jika nanti mereka sudah mulai masuk sekolah. Kapankah, itu? Tunggu nanti, setelah corona selesai dan pergi dari bumi ini.
Sesuai bincang-bincang penulis dengan beberapa guru dan siswa, ternyata baik guru maupun siswa sama-sama merindukan sekolah.
“Jujur saja, saya sudah sangat merindukan siswa dan sekolah. Karena keseruan di sekolah tidak bisa samakan dengan kepuasan yang lain. Kami rindu canda dan tawa mereka. Dan kami juga mencemaskan mereka tidak belajar selama di rumah ” cerita Kepsek SMP Negeri 3 Gunung Talang, Yenni Rafazid.
Kerinduan guru lainnya adalah tentang semangat berkobar para siswa saat mereka datang ke sekolah. Datang pagi-pagi, siswa berlarian untuk bersalaman dan mengucapkan selamat pagi. Akhirnya, guru yang lelah karena datang dari jauh, malah merasa lebih tersemangati. “Pokoknya hal seperti ini susah didapat dan merupakan kebahagian tersendiri bagi kami kaum pendidik,” tambah Yenni Rafazid, yang juga diamini guru lain, Ninie dan guru olahraga, Rafkizal dt. Rajo Dilangik alias Atuk.

Pada saat jam istirahat atau pulang, beberapa guru sering mengamati siswanya dari kejauhan. Tentang siswa yang jajan di kantin, berlarian di lapangan, serta siswa yang sedang bercerita semuanya tampak menenangkan bagi guru.

Pemandangan seperti ini tidak akan bisa ditemukan oleh profesi lain, tidak juga oleh media-media daring. Saya yakin dan percaya, pastilah semua guru merindukan suasana yang menyenangkan seperti ini.
Begitu juga pada saat siswa pulang sekolah. Melihat tampilan dan wajah siswa yang mulai kusut dan elaj menjelang pulang malah menjadi kelucuan tersendiri bagi guru. “Lucu, sekaligus bangga karena berarti siswa tersebut sudah mengikuti pelajaran dengan sukacita dan penuh perhatian,” terang Warneri dan Pak Wawan.

Mungkin kerinduan-kerinduan seperti ini, hanya akan terbayar lunas jika nanti kita semua sudah masuk sekolah kembali. Saat ini, biarlah kerinduan itu ditumpuk dan ditabung terlebih dahulu. Nanti, saat coronavirus tinggal cerita barulah semua itu bisa terbayarkan.
Menurut Filla Susanti yang mengajar di SD Negeri 11 Jawi-Jawi Guguak, Kecamatan Gunung Talang, kerinduan akan sekolah sangatlah tinggi. “Pokoknya rindulah. Biasanya pagi hari kita sudah teriak-teriak kepada siswa, tetapi ini sudah satu bulan lebih tidak ada. Kebahagian di sekolah susah untuk disamakan dengan di tempat lain,” sebut Filla Susanti.

Jenuh juga jika seorang guru seharian harus bertatap wajah dengan laptop dan android. Siswa memang tampak di dalamnya, tapi apakah mata guru tidak perih setelahnya? Bayangkan bila kemudian pembelajaran daring digeluti oleh guru senior, pastilah sampai keluar air matanya. Lagi pula belum semua siswa memiliki HP android.

Guru juga rindu dengan sekolah, tidak hanya ingin melihat siswa melainkan ingin segera menyelamatkan mata dan keperihan daring dari pelukannya. Yang jelas, guru juga ingin sekolah, karena guru juga rindu ‘Tawa-Canda Para Siswa’.
Keceriaan siswa di kelas, kadang didokumentasikan secara pribadi oleh guru. Meski terkadang seorang guru terkesan garang dan killer di sekolah, namun bukan berarti mereka tak suka melihat siswanya senyum, tertawa dan bahagia. Mungkin di depan siswa, guru jarang meluapkan emosi keceriaannya. Hal ini tidak lepas dari pertimbangan wibawa dan gengsi.
Yang tidak kalah menarik, ketika para guru duduk satu meja bersama-sama guru lain di ruang uru, untuk bercerita terbuka, terutama tentang perkembangan siswa. Kadang cerita tentang perubahan drastis siswa, humor-humor siswa, hinggalah keaktifan mereka di kelas.

“Intinya, bertatapan dengan suswa di Sekolah tidak bisa diobati dengan apapun,” sebut Suardi, S.Pd, Ketua MKKS SMP Sumatera Barat.

Bapak Suardi, ketua MKKS SMP Sumbar bersama penulis

 Lalu bagaimana dengan siswa? Sebenarnya senakal-nakal anak atau siswa, tetap masih merindukan bangku sekolah. Minimal biasanya setiap pagi, para siswa mendapat jatah belanja dari orang tua. Namun kalau tidak sekolah, tentu hal itu tidak mereka dapatkan. Toh selama di rumah mau belanja apa, semua sudah disediakan orang tua.
“Iya benar, saya sudah rindu benar mau sekolah. Tapi saya tidak tau kenapa sekolah diberhentikan. Yang jelas kata guru disuruh belajar di rumah saja dulu,” terang Irsyad (7), pelajar kelas 2 di SD Negeri 11 Jawi-Jawi Guguak, Kecamatan Gunung Talang.
Hal yang sama juga disampaikan Nadya, siswi kelas 8 di SMP Negeri 3 Gunung Talang. Menurutnya, kerinduan akan sekolah, main sama teman-teman dan rindu sama para guru, sudah tidak bisa ditahan. “Tetapi Covid-19 ini membuyarkan segalanya,” cerita Nabila, yang diamini temannya Desi.
Bagi seorang guru yang begitu mencintai profesinya, pasti tangan mereka sudah gatal-gatal untuk memegang spidol dan menyentuh bingkai papan tulis.
Terang saja, situasi memegang spidol maupun menyentuh bingkai papan tulis dalam kelas seringkali menghadirkan ide-ide unik bagi guru. Dari sana juga mereka bisa berpikir dan menatap raut wajah para siswanya.
Siswa sudah paham atau belum, siswa sudah fokus atau belum, siswa sudah selesai mengerjakan latihan atau belum.
Begitulah keindahan mengajar di dunia nyata. Di dunia maya via daring mungkin juga indah dan seru, tapi keseruan itu masih terbatasi bahkan sering terganggu oleh sinyal dan peringatan sisa kuota yang masuk berkali-kali.

Kita berharap, agar corona ini cepat berlalu, agar gambara dan kerinduan antara guru dan siswa bisa terealisasikan kembali. Semoga….!!
(Penulis adalah wartwan Harian Koran Padang, tinggal di Kabupaten Solok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here