BBM Naik, Tarif Ojek Pangkalan Kantor Bupati Solokpun Ikut Naik


SOLOK, JN- Dampak dari kenaikan BBM, sangat dirasakan oleh wong cilik, terutama mereka yang memiliki anak yang masih sekolah.

Seperti yang dialami oleh salah seorang warga Perumnas Nuansa Griya, Jorong Kayuato, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Uyun (49), sangat merasakan dampak dari kenaikan BBM.
Apalagi Uyun masih memiliki anak usia sekolah yakni Dua orang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan Satu orang dibamgku SMA.
“Biasanya ongkos ojek dari rumah ke sekolah anak saya hanya Rp2000 per orang. Sekarang naik jadi 3000 per orang.Kalau PP untuk dua orang anak saja sudah 12.000 untuk ongkos anak SD. Belum lagi untuk jajan. Ditambah untuk yang SMA juga naik dari 2000 menuju jalan besar dan dilanjutkan dengan naik angkot 4000. Saat ini menuju jalan besar saja dari rumah sudah 3000 dan angkot jadi 5000. Jadi untuk ongkos PP pergi sekolah saja sudah 16.000. Belum lagi jajan dia,” terang Uyun, yang mengaku sangat pusing memikirkan biaya untuk anaknya.
Uyun mengaku, biaya untuk anak srkolah satu hari minimal Rp100.000, belum untuk biaya dapur. Sementara penghasilannya tidak menentu.
“Kok kita sudah merdeka, kehiduan semakin sulit. Dinana fungsi pemerintah yang katanya pro rakyat,” sebut Uyun.
Keluhan yang sama juga disampaikan oleh puluhan warga lain. Apalagi ditengah situasi ekonomi yang sulit dan baru pulih dari Covid, masyarakat kini harus dihadapkan pula dengan harga sembako dan tarif BBM yang naik melonjak.
Selain ongkos ojek nan angkot naik, harga sembako juga ikut-ikutan naik. Minimal setiap jenis harga barang rata-rata Rp1000-hingga 5000 per kilonya.
Rio (35), salah seorang tukang ojek pangkalan di Simpang Kantor Bupati Solok di Arosuka, sebenarnya tidak mau  menaikkan tarif kepada penumpang dan langganannya, karena BBM naik. Namun penumpang saja yang menambah ongkos ojek.

Baca Juga :
Lomba Bermain Peran, Pokja TP PKK Kabupaten Solok Tampil Dengan Maksimal

“Sebagai contoh, biasanya dari sini mau ke Dusun 4, hanya 4000. Namun sekarang penumpang ngasih 5000. Dan itu mereka sadar sendiri,” senut Rio.
Rio mengaku kasihan sama warga dan anak srkolah, terutama mereka yang kurang mampu. 
“Banyak anak sekolah saat ini memilih  jalan kaki mau berangkat ke sekolah dan pulang,  hal ini tentu untuk mengirit biaya. Sebab uang jajan mereka belum naik,” tutur Rio.

Baca Juga :
Pemkab Solok Gelar Bimtek Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik

Bagi Rio, kenaikan harga BBM terutama Pertalite, sangat besar pengaruhnya kepada penumpang angkutan umum dan ojek. Biasanya harga pertalite satu liter di kios hanya Rp12.000. Namun sekarang sudah 14.000 hingga Tp15.000, kecuali beli di Pertamina.
  Para tukang ojek juga tidak mematok harga untuk setiap jarak, penumpang dan driver biasanya saling melakukan negosiasi terlebih dahulu. 


“Biasanya kalau penumpang baru pasti nawar harga. Tetapi kalau langganan sudah tidak menawar,” tambah Rio.
Sementara uang bersih atau pebghasilan yang dibawa pulang mulai dari Rp50.000 hingga 70.000.


“Ya, sekarang bisa semakin sedikit, soalnya bensinnya sudah naik,” sebut Rio. (jn01/wandy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.