Akhirnya Bupati Gusmal Utus Kepala Dinas Melihat Kondisi Rumah Tukang Ojek Wanita di Koto baru

0
934

KOTO BARU, JN- Setelah ramai diberitakan pada hari Senin oleh media cetak dan elektronik, akhirnya Bupati Solok mengutus khusus Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPR KPP) Kabupaten Solok, Deni Prihatni dan Kasi Perumahan DPR KPP kabupaten Solok serta Dinas Sosial dan Baznas Kabupaten Solok untuk meninjau langsung kediaman seorang tukang ojek wanita, Surati (39), tinggal menempati rumah tidak layak huni di Jorong Kajai, Nagari Koto Baru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Selasa (8/10).

Surati tinggal di sebuah rumah kayu yang luasnya kurang dari 10 meter persegi bersama ketiga anaknya. Dinding kayu yang mulai keropos dari luar dan lapuk dari dalam, serta lantai separuh tanah menjadi tempat mereka beraktivitas.
Pada kunjungan tersebut rombongan dari Dinas juga didampingi Sekretaris Nagari Koto Baru, Roni Yulhemi dan Jorong Sawah Hilie, Syahendri Fahmi, dan Yasman serta tokoh pemuda setempat, Feri Yasman.

Kepada Kepala Dinas DPR KPP, Deni Prihatni dan rombongan, Surati mengisahkan bahwa sejak ditinggal mati oleh suaminya sepuluh tahun lalu, dirinya langsung menjadi tulang punggung keluarga menjadi tukang ojek dan jual peyek, untuk menghidupi ketiga anaknya.

Kamar mandi kecil tak beratap dengan pintu spanduk yang berlapis-lapis menjadi pelengkap rumah Surati dengan dapur kecil berlantaikan tanah. Ruang tengah yang lantainya separuh tanah dilampisi dengan tikar plastik yang sudah menumpuk.

“Saya janda dengan tiga anak, Satunya sudah tamat MAN, yang kedua pesantren mengalami penyakit kelenjar getah bening dari kelas tiga SMP, dan yang anak ketiga baru SD,” kata Surati (39) yang biasa dipanggil Wati kepada rombongan Dari Dinas.

Untuk tempat tinggal, beruntung ada pemilik tanah yang mau meminjamkan tempat kepada Wati dan anak-anaknya. Saking banyaknya rumahnya yang belum tertutup dinding atau hanya dengan dinding spanduk, anak Perempuanya yang masih SMP, sempat akan diperkosa oleh seseorang yang dengan leluasa masuk kerumahnya.
“Waktu itu kami sedang tidur, tiba-tiba saya dikagetkan dengan teriakan anak saya. Baru kemudian sosok misterius itu menghilang. Sosok yang dikenal seorang pria tersebut, nyaris memperkosa anak saya, ” terang Wati sambil menangis mengingat kisah masa lalunya.
Sejak itu anaknya mengalami trauma dan dirinya kalau malam sering bergadang dan lebih waspada.
Untuk menghidupi ketiga anaknya, Wati harus menjadi tukang ojek dan menjual kerupuk peyek. Wati mengaku melakukan profesi sebagai tukang ojek dan jual peyek sejak suaminya meninggal pada 2009 silam.

Profesi mengojek sudah ditekuni selama 10 tahun dimana setiap harintya dimulai dari pukul 8.00 -12.00, kemudian istirahat siang dan lanjut pukul 14.00-hingga pukul 16.00 Wib.

Saat mengojek dia terkadang harus rela dibayar dengan beras, cabai 1/4 kg atau ikan asin senilai Rp 5000.

“Kalau ada yang meminta tolong antarkan, ya saya antar walau nanti tidak selalu dibayar dengan uang, kalau dibayar dengan cabai atau minyak sayur kan bisa dipakai untuk memasak,” ujar Surati.
Hal ini tentu sangat miris, dimana pada saat yang bersamaan, dibumi bareh Solok pemimpin dan dewannya bisa menikmati hidup “wah” dari uang APBD.

Wati menyebutkan terkadang masyarakat yang memakai jasanya ada juga yang tidak membayar, kadang karena lupa atau tidak punya uang.

Selain menjadi tukang ojek, Wati juga membuat peyek pada malam hari untuk menambah penghasilannya. Ia membuat peyek dari pukul 12.00 malam hingga subuh.

Menurutnya, terkadang penghasilannya dari mengojek dan membuat peyek hanya Rp 20 ribu hingga Rp50 ribu perhari. Dan dia harus menghidupi tiga anaknya tanpa bantuan orang lain ataupun keluarganya.

Hingga saat ini, anaknya yang kedua telah berkali-kali operasi kelenjar getah bening. Wati juga tidak mendapatkan bantuan apapun dari nagarinya seperti Program Keluarga Harapan (PKH), BPNT atau Kartu Indonesia Sehat.

Ia berharap pemerintah Kabupaten Solok lebih peka terhadap masyarakat sepertinya sehingga mendapatkan bantuan dan kemudahan untuk berobat anaknya.

Apalagi kondisi Wati cukup memprihatinkan dengan luka bakar hampir di separuh tubuhnya, di perut, leher dan tangannya yang membuatnya agak kesulitan beraktivitas karena sebelumnya terjadi kebakaran di rumah mertuanya pada 2006 di Cupak.

Ia bekerja sendirian dengan kondisi rumah yang memprihatinkan untuk menghidupu ketiga anaknya. Sedangkan keluarganya yang lain juga kesulitan ekonomi.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPR KPP) Kabupaten Solok, Deni Prihatni, menyampaikan maksudnya mendatangi lokasi kediaman Buk Wati.
Menurut Deni, karena Buk Wati tidak menemoati tanah milik sendiri, maka tentu akan kesulitan untuk mendapatkan rumah bantuan layak huni.

“Namun sesuai saran Bapak Bupati, Pemkab akan berusaha membantu Buk Wati, apakah melalu Baznas atau rehab rumah dan dari sisi lainnya. Sebab Pemda atau Dinas Perumahan dalam membantu masyarakat, juga ada aturannya, termasuk untuk rumah layak huni,” terang Deni Prihatni.

Pihaknya juga akan melaporkan hasil kunjungan tersebut kepada Bupati Solok dan apa yang bisa dibantu untuk membantu keluarga Buk Wati.

Dengan kunjungan tersebut, Wati juga menyampaikan ucapan terimakasih Kepada Dinas Perumahan, Dinas Sosial dan Baznas Kabupaten Solok serta pemerintah Nagari Koto Baru yang sudah melihat kondisi rumah kediamannya (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda