Di Lubuk Selasih, Warga Asal Bima Nusatenggara Barat Bikin Panik Walinagari dan Anggota Dewan

0
875

SOLOK, JN- Pemerintah Daerah Kabupaten Solok, sudah mewanti-wanti agar mewaspadai setiap orang yang masuk ke daerah bumi bareh Solok itu, sejak mewabahnya virus corona (Covid-19).
Bahkan Bupati Solok sendiri, H. Gusmal, sudah meminta agar setiap pendatang yang masuk, termasuk warga rantau yang pulang kampung untuk diperiksa suhu badan dan kesehatannya.


Namun Kamis malam (30/4), warga Jorong Lubuk Selasih, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, bak bagai kecolongan oleh seorang warga pendatang yang turun dari bus dan memiliki gejala aneh.
“Mulanya warga tidak curiga, karena waktu kejadian bertepatan dengan warga mau berbuka puasa dan disini juga ada masjid dan warung. Jadi warga tidak begitu fokus memperhatikan orang yang keluar masuk, dan mengira orang tersebut mau shalat maghrib, ” terang Syamsul Azwar, Walinagari Batang Barus.
Kecurigaan warga timbul, karena warga pendatang tersebut batuk-batuk keras saat berbuka di sebuah warung di depan masjid dan ada yang melihat bahwa orang tersebut baru turun dari sebuah bus.
Karena orang tersebut tidak berhenti batuk, warga kemudian curiga dan melapor kepada walinagari dan juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok, Lucki Efendi yang kebetulan warga setempat.
“Karena warga takut dan curiga yang bersangkutan terserang Covid-19, warga dan pemilik warung menghubungi pihak Walinagari dan Anggota dewan,” sebut Asti, sang pemilik waung
Selanjutnya walinagari, anggota dewan dan beberapa aparat kepolisian Polres Solok yang sedang berada disana, menanyakan asal orang tersebut dan mau kemana. “Karena jawabannya agak ngawur, maka Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok dan Walinagari menghubungi posko covid-19 dan RSUD Arosuka serta Dinas Kesehatan Kabupaten Solok.
“Kita sebagai warga sangat takut kalau orang tersebut kena corona. Sebab sewaktu ditanya, dia baru saja melakukan petjalanan jauh dari Bima, Bali, Surabaya, Semarang, Cirebon, Jakarta, dan terus ke Solok ini. Dengan riwayat perjalanan yang panjang dan daerah merah, kita tentu sangat waspada,” terang Walinagari, Syamsul Azwar.
Sayangnya pihak RSUD meresfon lambat saat dihubungi Wakil Ketua DPRD dan Walinagari atas kejadian tersebut. Bahkan pihak Wakil Ketua DPRD dan Walinagari juga sudah menghubungi Wabup Solok, H. Yulfadri Nurdin dan meminta RSUD segera mengirim Ambulance ke lokasi untuk membawa warga tersebut ke RSUD untuk diperiksa.
Namun setelah satu jam menunggu mobil Ambulance dari RSUD, kendaraan tidak juga datang. “Saat dihubungi lagi katanya baru berangkat dan kita terpaksa membawa orang itu ke RSUD dengan mobil Pick Up dengan dibantu anggota kepolisian Polres Solok. Hal ini dilakukan untuk antisipasi wabah corona yang dari yang bersangkutan,” sahut Lucki Efendi.
Pihaknya mengaku kecewa berat dengan resfon RSUD Arosuka dan juga petugas covid di posko yang dihubungi. “Kalau begini pelayanan kita, bisa-bisa jebol pertahanan kita karena lamban memberi resfon. Padahal ini penting fan tidak main-main. Bayangkan saja lalau yang bersangkutan positif vorona, apa yang akan terjadi?!,” tambah Lucki Efenfi dengan nada tampak sangat kecewa.
Warga yang nyasar ke Lubuk Selasih tersebut diketahui bernama Tamrin (27), berasal dari Desa Ntori, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), turun dari bis di depanMasjid Baburrahman Lubuk Selasih yang dikenal selalu ramai disinggahi warga saat masuk waktu salat.
Menurut Lucki Efendi, sejatinya kita cepat tanggap dalam menangani kasus kasus yang dapat membahayakan masyarakat dan daerah. Tetapi sangat disayangkan respon dari Gugus Tugas Covid 19, salah satunya pihak kesehatan kurang cepat merespon laporan, meski orang yang dicurigai itu belum positif. Hal ini termasuk semakin meningkatkan itensitas posko utama dan posko posko perbatasan, selain kesiapan personil kelengkapan APD di posko posko utama perlu disiapkan, sangat disayangkan salah seorang yang dicurigai terpaksa digiring kerumah sakit dg menggunakan mobil pick up milik PMI. Sementara oara petugas yang membawa pun juga tidak dilengkapi dengan baju APD yang memadai dan terkesan apa adanya.

Wakil ketua DPRD Kabupaten Solok, Lucki Efendi mengawal pasien hingga ke RSUD Arosuka

Lucki Efendi yang merupakan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok dan politisi muda dari Demokrat tersebut, tampak naik pitam, karena lambannya tindakan antisipasi yang dilakukan oleh tim Gugus tugas penangan Covid-19 Kabupaten Solok. Apalagi petugas yang turun ke lapangan tanpa dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai.

Aparat dari Polres Solok ikut mengawal

“Hampir setiap waktu kita membahas masalah kebutuhan APD, dan itu sudah kita alokasikan. Selain itu juga sudah banyak pihak yang membantu kebutuhan APD ini, tetapi mengapa saat kondisi darurat seperti ini APD malah tidak ada?,” sebut Lucky Efendi dengan nada masih kesal.


Menurut Lucki, sangat disayangkan respon dari Gugus Tugas Covid 19, salah satunya pihak dinas kesehatan dan pihak RSUD kurang cepat merespon laporan, meskipun orang yang dicurigai tersebut belum tentu positif Covid-19. Malah yang bersangkutan saling lempar tanggungjawab.
Apalagi Ambulans yang dijanjikan oleh Direktur RSUD Arosuka untuk membawa warga tersebut, ke ruang penanganan RSUD tidak datang-datang. Dan saat dihubungi Hp dirut sudah mati. “Mereka itu kan digaji rakyat dan bekerja sebagai pelayan rakyat. Jadi tidak usah aroganlah,” tambah Lucki Efendi.
Menurut Lucki, dengan kondisi Pandemi Covid-19 yang kian menghawatirkan saat ini, sejatinya petugas semakin cepat tanggap dalam menyikapi setiap persoalan yang terjadi. Termasuk semakin meningkatkan itensitas posko utama dan posko-posko perbatasan, selain kesiapan personil kelengkapan APD di posko utama perlu disiapkan.Lucki Efendi sendiri ikut mengawal dan mengantar warga tersebut hingga mendapat perawatan di RSUD Arosuka.

Sementara Syamsul Azwar juga menjelaskan bahwa pihak nagari juga sudah mencoba melakukan investigasi dengan warga Bima tersebut karena khawatir dengan penyebaran virus Corona yang kini kian mencemaskan. Apalagi orang tersebut mengeluh sesak nafas dan kondisinya sangat lemas.
“Karena yang bersangkutan terlihat sangat ,letih kemudian ditambah batuk dan sesak nafas, maka kita wajar sangat cemas disituasi saat ini,” terang Syamsul Azwar.

Kecemasan warga bukan tanpa alasan. Selain kurang sehat, warga tersebut juga sudah menempuh perjakanan ribuan kilometer dengan alasan berdakwah. Untuk menseterilkan lokasi, pihak nagari telah melakukan penyemprotan dengan menggunakan perlatan seadanya dari pos perbatasan yang berada di Lubuk Selasih telah melakukan upaya awal melalui penyemprotan dan isolasi terhadap warga yang bersangkutan.

Apalagi menurut Syamsul Azwar, Nagari Batang Barus juga berbatasan langsung dengan kota Padang yang saat ini telah masuk zona merah. Pihaknya meminta jangan sampai akibat kelalaian kita, justru berakibat fatal terhadap keamanan masyarakat.

Dirut RSUD Arosuka, dr. Indra Yones, kepada media ini Jum’at sore  (1/5) menyebutkan bahwa  pemeriksaan darah terhadap padien aman semua batas normal. “Sementara Rapid test hasil Non reaktif alias Negatif.Hanya pasien batuk keras dan menunggu dinas sosial menangani lebih lanjut karena masuk kategori orang despresi dan terlantar,” sebut Indra Jones (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here