Mereka Diperkosa,  Disiksa dan Dibunuh: Lebih Dari 300.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh

0
1377

DAKKA, JN- Ratusan ribu pengungsi dari etnis Muslim Rohingya menghadapi kekerasan sistematis termasuk penyiksaan, pemerkosaan dan pembunuhan di Myanmar. Sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke negara tetangga terdekat yakni Banglades.

Mereka melarikan diri, karena rumah mereka dibakar, mereka disiksa, diperkosa dan dibunuh, lebih kejam dari binatang. Dunia mengutuk aksi tentara Myanmar yang  semena-mena. Dunia juga mengutuk pemerintah negara setempat, yang seolah-olah membiarkan aksi biadab ini. Sadisnya, ribuan pengusngsi, yang terdiri dari orang tua dan anak-anak, nekat menyeberang hutan, laut dan kabur tidak tau arah, disebabkan takut dibunuh dan rumah mereka dibakar. Saat ini, selain di Bangladesh, para pengusi Rohingnya juga kabur ke berbagai negara tetangga, seperti Thailand, Vietnam, Laos, Malaysia, Kambodja dan Indonesia.

Dalam 15 hari terakhir sejak kekerasan terbaru pecah di negara bagian Rakhine, hampir 300.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Kekeraan terjadi setelah serangan militan Rohingya terhadap pos-pos polisi pada 25 Agustus 2017 yang memicu tindakan keras militer Myanmar di Rakhine atau Arakan.

Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak menyebutkan bahwa berdasarkan laporan yang diterima, pengusi Rohingya diperlakukan didiskriminasikan dan tidak ada belas kasihan yang diberikan kepada mereka. ”Sebenarnya  penyiksaan dilakukan dengan cara yang terencana sehingga mereka menderita akibab  didiskriminasikan, dibunuh dan diperkosa,” ujar Najib. Sebelumnya Najib menyaksikan pengiriman dua pesawat kargo angkatan udara berisi pasokan makanan dan obat-obatan ke kota pelabuhan Chittagong di Bangladesh. Bantuan itu untuk para pengungsi Rohingya.

”Kami mengirim dua pesawat dengan biskuit, nasi dan sabun. Malaysia akan melakukan apapun untuk membantu karena ini adalah bencana besar,” kata Najib, yang dilansir AFP, Minggu (10/9/2017).

Pelapor Khusus PBB untuk HAM di Myanmar, Yanghee Lee, mengatakan bahwa sekitar 1.000 orang kemungkinan telah terbunuh dalam tindakan keras tentara Myanmar, di mana mayoritas korban adalah warga Rohingya.

Dalam sebuah wawancara dengan AFP, dia mengatakan politisi Myanmar Aung San Suu Kyi, pejuang demokrasi yang tak kenal takut di bawah junta militer, telah gagal untuk menggunakan otoritas moralnya guna membela minoritas Rohingya.

”Saya pikir kita perlu menghapus kenangan kita tentang ikon demokrasi yang dipenjara,” kata Lee mengacu pada sosok Suu Kyi yang kini jadi pemimpin de factoMyanmar. Menurutnya, Suu Kyi sekarang bukan seorang politikus pembela HAM.

Suu Kyi yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1991 telah dikecam masyarakat internasional karena dianggap diam melihat penindasan etnis Rohinya di negaranya. Pengecam Suu Kyi di antaranya, aktivis muda Malala Yousafzai dan Uskup Agung Desmond Tutu yang juga pernah meraih Nobel Perdamaian.

Sementara  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan akan ada lebih dari 300 ribu warga Rohingya yang menyeberang menuju Bangladesh.

Hinggi kini, relawan PBB di perbatasan Bangladesh, Cox Bazar mengestimasi sejak krisis kemanusian Rohingya berlangsung 12 hari lalu, telah 146 ribu warga Rohingya yang kabur ke negara itu.

Seorang pekerja PBB namanya tak mau diungkapkan setuju, bisa saja angka 300 ribu pengungsi terwujud. Apalagi, angkatan bersenjata Myanmar dalam beberapa hari lalu masih melakukan operasi militer.

Tetapi, dia menggarisbawahi estimasi tersebut hanya bakal terwujud jika ada skenario terburuk menimpa warga Rohingya.

Perkiraan jumlah itu menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Terutama soal sedikitnya persedian makanan untuk para pengungsi.

“Mereke menderita kekurangan nutrisi, mereka telah terputus dari asupan makanan normal selama lebih dari sebulan,” ucap Juru Bicara Badan Program Makanan Dunia (WFP) Bangladesh, Dipayan Bhattacharyya, seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (7/9/2017).

Sampai sekarang, diakui Bhattacharyya telah banyak lembaga internasional yang bersedia memberikan bantuan kepada pengungsi Rohingya.

Dari prediksi yang telah dihitung WFP, mereka membutuhkan dana saat ini mereka membutuhkan dana sebesar US$ 13,3 juta. Uang tersebut digunakan untuk menyediakan biskuit energi serta makanan pokok seperti beras untuk persediaan empat bulan.

Oleh sebab itu, dirinya memohon lembaga internasional yang berniat membantu untuk segera mengirimkan bantuannya.

“Jika (bantuan) tidak cepat datang, maka kita bisa melihat para pengungsi satu sama lain berkelahi memperebutkan makanan, dan angka kriminal pun akan naik, kekerasan terhadap perempuan dan anak juga naik,” sebutnya. (mas/sindonews.com/berbagai sumber)

DAKKA, JN- Ratusan ribu pengungsi dari etnis Muslim Rohingya menghadapi kekerasan sistematis termasuk penyiksaan, pemerkosaan dan pembunuhan di Myanmar. Sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke negara tetangga terdekat yakni Banglades.

Mereka melarikan diri, karena rumah mereka dibakar, mereka disiksa, diperkosa dan dibunuh, lebih kejam dari binatang. Dunia mengutuk aksi tentara Myanmar yang  semena-mena. Dunia juga mengutuk pemerintah negara setempat, yang seolah-olah membiarkan aksi biadab ini. Sadisnya, ribuan pengusngsi, yang terdiri dari orang tua dan anak-anak, nekat menyeberang hutan, laut dan kabur tidak tau arah, disebabkan takut dibunuh dan rumah mereka dibakar. Saat ini, selain di Bangladesh, para pengusi Rohingnya juga kabur ke berbagai negara tetangga, seperti Thailand, Vietnam, Laos, Malaysia, Kambodja dan Indonesia.

Dalam 15 hari terakhir sejak kekerasan terbaru pecah di negara bagian Rakhine, hampir 300.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Kekeraan terjadi setelah serangan militan Rohingya terhadap pos-pos polisi pada 25 Agustus 2017 yang memicu tindakan keras militer Myanmar di Rakhine atau Arakan.

Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak menyebutkan bahwa berdasarkan laporan yang diterima, pengusi Rohingya diperlakukan didiskriminasikan dan tidak ada belas kasihan yang diberikan kepada mereka. ”Sebenarnya  penyiksaan dilakukan dengan cara yang terencana sehingga mereka menderita akibab  didiskriminasikan, dibunuh dan diperkosa,” ujar Najib. Sebelumnya Najib menyaksikan pengiriman dua pesawat kargo angkatan udara berisi pasokan makanan dan obat-obatan ke kota pelabuhan Chittagong di Bangladesh. Bantuan itu untuk para pengungsi Rohingya.

”Kami mengirim dua pesawat dengan biskuit, nasi dan sabun. Malaysia akan melakukan apapun untuk membantu karena ini adalah bencana besar,” kata Najib, yang dilansir AFP, Minggu (10/9/2017).

Pelapor Khusus PBB untuk HAM di Myanmar, Yanghee Lee, mengatakan bahwa sekitar 1.000 orang kemungkinan telah terbunuh dalam tindakan keras tentara Myanmar, di mana mayoritas korban adalah warga Rohingya.

Dalam sebuah wawancara dengan AFP, dia mengatakan politisi Myanmar Aung San Suu Kyi, pejuang demokrasi yang tak kenal takut di bawah junta militer, telah gagal untuk menggunakan otoritas moralnya guna membela minoritas Rohingya.

”Saya pikir kita perlu menghapus kenangan kita tentang ikon demokrasi yang dipenjara,” kata Lee mengacu pada sosok Suu Kyi yang kini jadi pemimpin de factoMyanmar. Menurutnya, Suu Kyi sekarang bukan seorang politikus pembela HAM.

Suu Kyi yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1991 telah dikecam masyarakat internasional karena dianggap diam melihat penindasan etnis Rohinya di negaranya. Pengecam Suu Kyi di antaranya, aktivis muda Malala Yousafzai dan Uskup Agung Desmond Tutu yang juga pernah meraih Nobel Perdamaian.

Sementara  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan akan ada lebih dari 300 ribu warga Rohingya yang menyeberang menuju Bangladesh.

Hinggi kini, relawan PBB di perbatasan Bangladesh, Cox Bazar mengestimasi sejak krisis kemanusian Rohingya berlangsung 12 hari lalu, telah 146 ribu warga Rohingya yang kabur ke negara itu.

Seorang pekerja PBB namanya tak mau diungkapkan setuju, bisa saja angka 300 ribu pengungsi terwujud. Apalagi, angkatan bersenjata Myanmar dalam beberapa hari lalu masih melakukan operasi militer.

Tetapi, dia menggarisbawahi estimasi tersebut hanya bakal terwujud jika ada skenario terburuk menimpa warga Rohingya.

Perkiraan jumlah itu menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Terutama soal sedikitnya persedian makanan untuk para pengungsi.

“Mereke menderita kekurangan nutrisi, mereka telah terputus dari asupan makanan normal selama lebih dari sebulan,” ucap Juru Bicara Badan Program Makanan Dunia (WFP) Bangladesh, Dipayan Bhattacharyya, seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (7/9/2017).

Sampai sekarang, diakui Bhattacharyya telah banyak lembaga internasional yang bersedia memberikan bantuan kepada pengungsi Rohingya.

Dari prediksi yang telah dihitung WFP, mereka membutuhkan dana saat ini mereka membutuhkan dana sebesar US$ 13,3 juta. Uang tersebut digunakan untuk menyediakan biskuit energi serta makanan pokok seperti beras untuk persediaan empat bulan.

Oleh sebab itu, dirinya memohon lembaga internasional yang berniat membantu untuk segera mengirimkan bantuannya.

“Jika (bantuan) tidak cepat datang, maka kita bisa melihat para pengungsi satu sama lain berkelahi memperebutkan makanan, dan angka kriminal pun akan naik, kekerasan terhadap perempuan dan anak juga naik,” sebutnya. (mas/sindonews.com/berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here