Buah Markisa Mulai Langka di Kabupaten Solok

0
102
Oleh Wandy—————

Sekitar Lima Belas atau Dua Puluh tahun lalu, Kabupaten Solok selain dijuluki Kabupaten penghasil bareh tanamo, juga dikenal dengan sebutan ‘Kabupaten penghasil buah markisa’. Dijuluki sebagai Kabupaten Penghasil buah markisa, karena dari daerah tersebut memang banyak dihasilkan buah dengan rasa manis tersebut, terutama di daerah Alahan Panjang, Air Batumbuk, Danau Kembar, Bukit Sileh dan nagari Aie Dingin.

Buah markisah juga sempat menjadi ‘icon’ Kabupaten Solok, karena rasanya yang enak dan bentuknya yang unik. Selain rasanya manis, buah berbentuk jelly dengan ditaburi biji-bijinya yang unik serta enak disantap dalam keadaan cuaca hujan atau panas. Sayangnya, saat ini buah markisah sudah sangat langka ditemui di daerah Kabupaten Solok, karena tumbuhnya yang sudah mulai susah dan suka mati muda.

 

Bebarapa petani dan pedagang yang sempat dimintai keterangannya mengapa markisa menjadi langka di Kabupaten Solok, karena selain bibit unggul susah didapat, tanaman ini juga mulai susah tumbuhnya sehingga petani jadi malas untuk menam dan mengembangkan buah markisa. “Sejak beberapa tahun terakhir, buah markisa sudah langka di Kabupaten Solok, karena sudah dicoba menanam beberapa kali, tetapi mati lagi dan mati lagi, sehingga kita jadi malas untuk menanamnya kembali,” terang Siyal (45), warga Simpang Tanjuang Nan Ampek, kepada wartawan, kemaren, Jum’at (7/9).

 

Buah yang berwarna hijau kekuning-kuniangan ini, juga bisa dikomsumsi secara langsung atau bisa dijadikan minuman olahan seperti sirup dan jus. Saat ini jumlah petani yang menanam dan membudidayakan buah markisa, hanya bisa dihitung dengan jari. “Jika sepuluh tahun lalu hampir setiap petani mengembangkan buah markisa, maka saat ini di nagari Sungai Nanam saja seperti di jorong Roimbo Data hanya tinggal sekitar 10 orang dan itupun mereka menanam tidak banyak,” terang Marsal Syukur (68), seorang petani sukses di Sungai Nanam.

 

Marsal malah berharap agar Dinas Pertanian Kabupaten Solok, bisa memberi pelatihan kepada para petani atau kelompok tani, bagaimana cara menanam markisa yang baik dan cara pemeliharaannya. “Dinas Pertanian Kabupaten Solok kurang kreatif dan tidak punya inovatif dalam memajukan pertanian, termasuk dalam membudidayakan tanaman buah markisah,” harap Marsal. Dijelaskan Marsal, saking langkanya buah markisa, hampir setiap Minggu para konsumen datang langsung untuk membeli buah markisa ke para pedagang di sepanjang jalan Lubuk Selasih menuju Alahan Panjang dan Aia Dingin, namun kadang mereka sering kecewa karena tidak mendapatkan buah markisa. Harga markisa yang relatif stabil yakni satu ikatnya sekitar Rp 10.000 hingga 15.000 dan berisikan antara 8 hingga 10 buah. “Di pinggir jalan memang masih banyak yang kita lihat buah markisa, terutama di jalan Lintas Sumatera Padang Solok seperti di Bukit Putus dan nagari Koto Gadang Guguk, tetapi malah saya curiga bahwa markisa tersebut didatangkan dari Medan,” tutur Marsal.

Menurut penelitian, buah markisa mengandung vitamin C dan sangat baik untuk menjaga kesegaran kulit wajah selain rasanya yang enak. “Buah markisa selain sudah langka, tumbuhnya juga sudah sulit dan tidak seperti dulu lagi. Saya juga tidak tau apa yang salah, apakah cuaca, tanah atau apa. Sehingga perlu penelitian, seperti dari kantor BPTP Sumatera Barat yang ada di Sukarami dan bekerjasama dengan Dinas Pertanian,” tutur Marsal. Pihaknya juga optimis, jika dalam waktu lima tahun kedepan tidak ada penelitian dan bantuan dari Dinas Pertanian, maka buah markisa asli Solok akan tinggal kenangan saja.

Disisi lain, Dinas Pertanian Kabupaten Solok juga mengaku sudah berupaya membudidayakan buah markisa agar tidak sampai punah. Bahkan Dinas Pertanian sudah mengembangkan bibit markisa di beberapa UPTD di Kabupaten Solok. “Untuk terus menjaga agar markisa bertahan di Kabupaten Solok, kita punya bibit markisa di dua UPTD yakni Lembah Gumanti dan UPTD Lembang Jaya,” tutur Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, H. Admaizon. Dia juga menjelaskan bahwa satu tahun lalu, pihaknya juga sudah melakukan penanaman bibit markisa baru sebanyak lebih dari 2500 pohon di daearah Sungai Nanam dan Danau Kembar serta di Aia Dingin. “Kalau dikatakan langka, akhir tahun 2013 hingga tahun 2017 lalu saja kita masih menghasilkan bah markisa sebanyak 103.509 ton lebih,” pungkasnya (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda