Berusia Lebih Dari 400 Tahun: Masjid Tuo Kayu Jao Butuh Perhatian Serius Dari Pemerintah Daerah

0
461

SOLOK, JN- Tokoh masyarakat Batang Barus, Magek (79), berharap agar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok dan Sumatera Barat, lebih menata lagi lokasi Masjid Tuo, Kayu Jao, yang sudah masuk dinasti cagar budaya Sumatera Barat. Selain itu, akses jalan menuju lokasi masjid Tuo, ini perlu dipelebar agar masyarakat yang akan mengunjungi masjid tuo bisa lebih mudah mencapainya. Selain itu, akses jalan masuk atau jalan lingkar dari arah Utara yang sempat longsor beberapa bulan lalu, sampai saat ini belum diperbaiki oleh pemerintah daerah.

 

Masjid Tuo Kayu Jao, terletak di kenagarian Batang Barus, kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, atau hanya berjarak sekitar 20 menit dari Arosuka, ibukota Kabupaten penghasil bareh tanamo itu. Menurut cerita para orang tua, kabarnya, masjid Tuo Kayu Jao ini disebut-sebut sebagai masjid tertua nomor dua di Indonesia dan sudah berdiri sekitar tahun 1599. Masji Tuo Kayu Jao, sampai saat ini masih berdiri megah, meski sudah beberapa kali direnovasi dan dijadikan cagar budaya oleh Pemerintah Sumatera Barat, namun keaslian bangunan masih terjaga. Sayangnya, akses jalan menuju masjid tuo terkesan sederhana dan lokasi parkir juga kurang memadai. Padahal menurut Magek, andai pemerintah menata sedikit lagi lokasi masjid tuo ini, maka diperkirakan ratusan ribu umat Islam akan mengunjungi masjid tuo ini sebagai lokasi wisata religius, seperti masjid Kubah Emas di Depok atau juga Masjid Agung Pasir Pangaraian Kabupaten Rokan Hulu, di Provinsi Riau.

 

. “Saya melihat pemerintah setengah hati mengelola masjid ini, padahal ini adalah aset wisata yang paling menjanjikan karena mengandung nilai sejarah yang tinggi,” tutur Magek, Minggu (2/9).

Dijelaskan Magek yang juga menjadi saksi dan legenda hidup dan tau banyak mengenai sejarah masjid tuo ini, kalau pemerintah menata dan mempelebar akses jalan lingkar di jorong Kayu Jao, maka dipastikan manjid tuo ini akan selalu ramai dikunjungi dan ekonomi masyarakat sekitar juga akan lebih hidup. Beberapa puluh tahun lalu menurut Magek, masjid tuo Kayu Jao ini dijadikan tempat penyebaran agama Islam seperti untuk belajar mengaji bagi amsyarakat Kabupaten Solok. “Semasa saya masih kecil, Masjid Tua Kayu Jao merupakan satu-satunya masjid di daerah Gunung Talang yang saya tau. Masjid ini dari dulu tetap beratapkan ijuk dan bergonjong menyerupai rumah adat Minang. Saya yakin, dari zama sebelum saya, masjid ini sudah ada dan merupakan pusat penyebaran Islam di daerah ini,” tutur Magek, yang tampak agak sedih melihat pemerintah kurang serius menata masjid ini. Magek juga percaya kalau dari dulu agama Islam sudah berjaya di daerah Batang Barus dan daerah sekitanya. Magek juga menyatakan rasa kagum kepada arsitek yang membangun masjid Tuo Kayu Jao ini, karena dibangun tanpa menggunakan paku dari besi, melainkan pakunya hanya menggunakan pasak kayu yang dibuta sedemikian rupa. Sementara warna cat masjid ini yang sebelumnya berwarna putih diganti menjadi coklat kehitaman.  “Keaslian Masjid tuo sampai saat ini masih tetap terjaga, arsitekturnya sangat identik dengan masjid- masjid kuno di Nusantara, Masjid Tuo Kayu Jao memiliki beberapa keistimewaan. Dari segi filosofis dan isyarat-isyarat pada bangunan tersebut yaitu atapnya yang terbuat dari ijuk melambangkan desain rumah adat Minangkabau Rumah Gadang. Tapi potensi itu saya lihat kurang digali oleh pemerintah,” sambung Magek. Sementara Taruddin, MA, seorang ulama dan juga dosen salah satu Perguruan Tinggi di Solok, juga sangat setuju kalau masjid tuo ini segera ditata untuk dijadikan lokasi penelitian dan tempat menimpa ilmu bagi umat Islam.

Hal yang sama juga disampaikan tokoh masyarakat Kayu Jao, Ujang Jarbat, bahwa untuk menjaga kelestarian dan minat kunjungan wisatawan atau umat Islam ke Masjid Tuo, juga diperlukan keseriusan dan perhatian dari Pemerintah Daerah dalam penataannya. “Ini kan masjid tertua di Sumbar dan Nomor 2 tertuanya di Indonesia, jadi sangat diperlukan keseriusan semua pihak dalam penataannya, terutama dari Pemerintah daerah,” tutur Ujang Jarbat.

Walinagari Batang Barus, Syamsul Azwar, sangat berharap agar Pemerintah Kabupaten Solok dan Sumatera Barat, bisa menjadikan lokasi ini sebagai daerah wisata budaya di Kabupaten Solok. “Jika kita kelola dengan baik dengan membuat areal parkir, memperluas jalan masuk, maka saya optimis para pelajar dan masyarakat di Sumbar bisa datang kesini untuk mengetahui bagaimana agama Islam berkembang di Sumatera Barat pada masa lalu. Karena masjid Tuo ini adalah salah satu lokasi penyebaran agama Islam di daerah ini. Selain itu, masjid tuo ini sangat cocok dikembangkan sebagai wisata budaya dan religius, seiring cita-cita Pemkab Solok yang akan menjadikan warganya sebagai masyarakat yang Al Qur’ani,” terang  Syamsul Azwar. Bahkan jika dikelola secara profesional, maka bisa menjadi objek wisata reigius dan menambah PAD bagi Kabupaten Solok serta ekonomi masyarakat sekitar bisa lebih jaya (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda