Sudah Hampir Dua Minggu, Arosuka Diselimuti Kabut Asap

0
211

SOLOK, JN- Kawasan Ibukota Arosuka Kabupaten Solok, sejak Dua Minggu terakhir, diselimuti kabut asap tebal. Bahkan jarak pandang sapmpai jam 12 siang Wib, hanya sekitar 20 hingga 30 meter.

Pantauan media ini Jum’at pagi (13/9), kawasan Arosuka masih kelam diselimuti kabut asap. Diduga kabut asap berasal dari pembakaran hutan yang ada di Provinsi Riau.

Tampak para pengendara di jalan raya Lintas Sumatera Padang Solok yang melintas di Arosuka, sebahagian menyalakan lampu kendaraannya. Sementara para pegawai lebih banyak berada di ruang kantor karena cemas kabut asap mengganggu kesehatan. “Saya lebih memilih berada di ruangan saja, takut kabut asap menimbulkan penyakit seperti perih pada mata atau penyakit lainnya,” jelas Arbi, seorang staf di kantor Wakil Bupati Solok. Hal yang sama juga disampaiakan rekannya, Nadya bahwa dia lebih memilih berada di ruangan meski pada jam istirahat kerja karena takut kabut asap mengganggu kesehatan.
“Sudah dua Minggu ini kabut asap menyelumuti Arosuka. Saya tidak tau berasal dari mana. Namun orang bilang kabut asap ini berasal dari pembakaran hutan di Riau, ” sebut Nadya, yang diamini rekannya Nicky.

Salah seorang Kabid di Dinas Kesehatan Kabupaten Solok, dr. Aida Herlina, kepada awak media mengakui bahwa kabut asap memang sudah beberapa hari ini menyelimuti ibukota Kabupaten Solok yakni Arosuka. Namun pihaknya menyebutkan belum bisa mengetahui kadar atau akibab yang akan ditimbulkan oleh kabut asap karena Kabupaten Solok belum memiliki alat ukur pencemaran uadara dan hanya pihak Provinsi Sumbar yang baru memiliki alat tersebut karena harganya sangat mahal. Pihaknya selalu kebingungan jika ditanya seputar bencana kabut asap.

“Kita di Solok belum memiliki alat atau data dan bingung mau memberi penjelasan, karena alat itu hanya ada di Sumbar di Bapedalda. Sementara kita tidak memiliki peralatan mengukur kepekatan asap dan tidak paham apakah ada hot spot di Arosuka,” jelas Aida Herlina. Ditambahkannya, pihaknya sudah menghubungi pihak Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Sumbar tetapi belum ada jawaban apakah tingkat indeks standar pencemar udara (ISPU) dalam kategori Berbahaya atau tidak. Pihaknya Dinas Kesehatan juga belum menginstruksikan anak-anak sekolah libur atau tidak karena siswa sangat rentan terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dari kabut asap tersebut. Sementara siswa SMP dan SMA yang berada dekat Arosuka, tetap melakukan kegiatan belajar-mengajar di dalam ruangan sekolah tanpa memakai masker seperti di SMP 5 Gunung Talang, SMA 2 Gunung Talang dan SMK 2 Gunung Talang yang berada di kawasan Arosuka.

Senada dengan hal itu, Kepala BPBD Kabupaten Solok, Dasril, juga menyebutkan bahwa pihaknya tidak bisa menentukan situasi yang berkembang, apakah sudah masuk kategori tanggap, waspada atau bahkan darurat bencana. “Saya juga tidak mengetahui sejauh mana kerusakan lingkungan dan pencemaran udara yang terjadi sehingga memicu kabut asap,” terang Dasril.

Mkasyarakat Arosuka masih tetap melakukan aktivitas seperti biasa dan tidak terpengaruh oleh kabut asap. Ancaman dan gangguan kesehatan, sudah mulai terasa dan dikeluhkan oleh hampir seluruh warga Arosuka. “Awak indak tau kama kamangadu, sementara Dinas Kesehatan sendiri terkesan cuek kepada masyarakatnya,” tutur Adel (21), warga Arosuka,

Menurut Adel, sudah hampir dua Minggu lebih bumi Arosuka diselimuti kabut asap, namun tidak setiap hari, kadang dari pagi kadang sore hari. Namun sampai saat ini belum ada Dinas terkait membagi-bagikan masker. Selain ancaman dan gangguan kesehatan, kabut asap juga sudah melumpuhkan perekonomian masyarakat petani hultikultura, seperti tanaman sayur-sayuran dan juga tanaman muda lainnya. “Harusnya dalam bencana seperti ini, kita tidak saling menyalahkan, namun harus mencarikan solusi, bagaimana tidak terjadi jatuh korban ispa dan juga para petani yang gagal panen bisa dibantu pemerintah,” tambah Adel.

Ketua DPRD Kabupaten Solok, Jon Pandu menyebutkan agar masyarakat mewaspadai kabut asap serta meminta Dinas Kesehatan, BPBD dan KLH, mencarikan solusi agar masyarakat Arosuka tidak terserang penyakit sesak nafas. “Jangan sampai menunggu jatuh korban, baru ada tindakan,” jelas Jon Pandu (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda