SOLOK, JN- Masyarakat Nagari paling tertinggal di Kabupaten Solok, yakni Garabak Data, yang berada Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, terus meronta meminta keadilan pembangunan.

Meski sudah 107 tahun usia Kabupaten Solok dan hampir satu abad usia NKRI, namun Garabak Data tetap belum tersentuh. Setidaknya sekitar 3000 jiwa yang menghuni Nagari tersebut, harus bertaruh nyawa untuk keluar dan menuju Nagarinya bila ingin berbelanja ke luar nagari Garabak Data.

“Saya juga bingung mau menjawab apa, kalau masyarakat bertanya, kapan nagari kita maju atau setara dengan Nagari lain. Apalagi saat musim hujan seperti ini, warga kami harus bertaruh nyawa menempuh jalan tanah, mirip kubangan kerbau, ” ujar Walinagari Garabak Data, Pardinal, Selasa (18/2)

Ditambahkannya, hingga saat ini, kondisi jalan menuju nagari Garabak Data bila musim hujan tiba, benar-benar memprihatikan. Bahkan sejak Indonesia merdeka, kondisi jalan menuju nagari di Tenggara Kabupaten Bumi penghasil bareh tanamo ini belum pernah disentuh aspal apalagi hotmix, cor atau aspal.

Garabak Data masuk wilayah Kecamatan Tigo Lurah yang merupakan sebuah kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Payung Sekaki. Diantara lima nagari yang ada di Kecamatan Tigo Lurah, mungkin kondisi jalan menuju nagari Garabak Datalah yang paling parah.

“Bila hujan tiba, kita terpaksa berjalan kaki puluhan kilo meter, karena motor tidak bisa masuk karena kondisi jalan yang licin dan sangat becek,” terang Walinagari Pardinal.

Nagari dengan jumlah pendududk lebih dari 3000 jiwa ini, mayoritas mata pencaharian warganya adalah sebagai pertani dan warganya jarang yang meninggalkan kampung halaman untuk bepergian ke luar karena kondisi perhubungan yang sulit.
Menurut Pardinal di Nagari Garabak Data ada Tiga Jorong, yakni Jorong Garabak, Jorong Data dan Lubuak Tareh.
Penduduk Garabak ada sekitar 100 jiwa, Data 1300 jiwa dan Lubuak Tareh 2600 jiwa.

“Masyarakat hanya minta pemerintah baik Kabupaten mapun Provinsi benar-benar serius memperhatikan nasib nagari kami, terutama untuk membangun infrastruktur jalan menuju Garabak Data dan dalam nagari Garabak Data sendiri, ” sebut tokoh masyarakat setemoat, Jon Garda.

Alasan utama pendududk malas pergi bepergian adalah karena harus berjalan kaki puluhan jam, bahkan untuk mencapai jarak jorong Garabak menuju jorong Data saja, bisa ditempuh seharian dengan berjalan kaki. Alat trasnfortasi satu-satunya untuk menghubungakan kedua jorong ini adalah kuda beban.

“Jadi kalau ada berita baik atau buruk dari sanak saudara yang tinggal di jorong tetangga atau di luar nagari Garabak Data, kami terpaksa harus berjalan kaki menuju Batu Bajanjang agar bisa berkomunikasi dengan HP seperti untuk menghubungi sanak saudara yang ada di rantau,” jelas Jon Garda.

Pertanyaannya, sampai kapan nagari dan masyarakat Garabak Data akan tinggal dalam keterisolasian dan tidak bisa menikamti kemerdekaan seperti saudara mereka di nagari tetangga?.

Jon Garda juga menjelaskan, walau tahun 2019 ini kabarnya ada anggaran sekutar 7 Milyar untuk Tigo Lurah dari Pemkab Solok, namun apakah hal itu akan turun atau tidak, pihaknya juga tidak tau.

Masyarakat selalu bertanya, apakah anggaran sebanyak itu juga sampai ke Garabak Data atau tidak (wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here