Linda Pelajar SMP Harus Menjadi Tulang Punggung Bagi Keluarganya

0
199

 

 

TANAH DATAR,  JN-    Di saat anak seusianya masih bersenda gurau dengan teman sebaya, asyik dan larut dalam teknologi modern zaman sekarang, namun tidak begitu dengan Linda. Gadis belia 15 tahun yang masih duduk di bangku kelas IX SMP N 1 Tanjung Emas harus mengubur dunia anak-anaknya demi mengurus tiga orang yang dikasihaninya.

 

Berawal tujuh tahun silam, cobaan hidupnya diawali dari ibu Ermailis (58 th) yang tiba-tiba sakit dan setelah diperiksa, divonis menderita penyakit pengeroposan tulang yang akibatkan sang ibu tidak bisa beraktivitas normal dan bahkan sekarang hanya berbaring di tempat tidur.

 

Selang empat tahun kemudian, tepatnya tahun 2015, sang nenek Ratna (82 th) yang seatap dengannya mengalami kebutaan pada kedua matanya dan hanya mampu diam di rumah, tidak bisa lagi beraktifitas sebagaimana biasanya.

 

Kedua orang terkasihnya itu, selalu Linda layani dengan sebaik-baiknya, bersama ayahnya Marlis (63 th) yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek.

 

Namun apa daya, seakan cobaan masih belum mau jauh dari kehidupan gadis berparas ayu ini, dua minggu lalu giliran ayah tercinta menderita gejala stroke dan memaksa sang kepala keluarga tidak bisa lagi bekerja menafkahi keluarganya.

 

Pantauan awak media, Selasa (27/11) di kediaman Linda di Jorong Saruaso Barat Nagari Saruaso Kecamatan Tanjung Emas, terlihat kondisi penuh kesedihan, betapa tidak sang Ibu dan nenek tercinta hanya bisa berdiam diri dengan deraan penyakit masing-masing dan ditambah lagi, sang Ayah juga sudah derita gejala stroke pula.

 

“Inilah keadaan kami pak, ibu terbaring lemah, nenek juga buta matanya, dan seminggu lalu ayah juga terserang  penyakit stroke ketika melaksanakan ibadah shalat Jum’at pak,” sampai Linda.

 

Dengan apa yang telah dialami keluarganya, Linda tetap optimis melanjutkan kehidupannya dan selalu setia melayani orang-orang terkasihnya. “Mungkin ini menjadi ujian bagi Saya dari Allah SWT, namun selepas Bapak juga sakit, tentu saya bingung siapa lagi yang bisa menafkahi hidup kami, padahal Saya masih sekolah pak,” sampai Linda penuh pilu.

 

Linda mengungkapkan, selama ini biaya sekolah disamping dari sang ayah juga dibantu oleh kakaknya yang merantau  ke Jambi. “Kakak yang merantau ke Jambi sekali dua minggu mengirimi kami Rp.100 ribu pak, karena kakak saya juga sedang kesusahan juga di rantau, uang itulah yang Saya manfaatkan dan tentu masih jauh dari kata cukup, namun apa daya lagi pak,” sampai Linda dengan raut sedih.

 

Di  balik wajah sedihnya, masih terlihat raut tegar penuh semangat hadapi semua cobaan hidupnya, dan tentu berharap para dermawan dan pemerintah daerah memperhatikan nasib  keluarga dan dirinya yang sudah akan tamat SMP dan berharap tetap bisa lanjut ke SLTA untuk terus gapai mimpi dan cita-citanya. SEMOGA. (Damara/syafri)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda