Aksi Pembalakan Liar di Hutan Tigo Lurah, Diduga Ada Oknum Anggota Yang Ikut Bermain

0
962

SOLOK, JN-Terkait penemuan ratusan kubik kayu yang diduga hasil illegal logging di kawasan hutan Simanau, Kecamatan Tigo Lurah, tokoh masyarakat Kabupaten Solok, Marah Baganti, menduga bahwa ada oknum anggota polisi dan TNI dan tokoh masyarakat nagari yang ikut bermain dan melindungi, sehingga aksi illegal logging atau pencurian kayu di hutan Tigo Lurah, berjalan lancar hingga bertahun-tahun.

 

Petugas memasang garis polisi pada setiap tumpukan kayu yang ditemukan di kawasan hutan Simanau, Tigo Lurah, Kabupaten Solok

“Kalau tidak ada oknum yang melindungi, tidak mungkin aksi pembalakan liar di hutan Tigo Lurah akan berjalan aman, khususnya di hutan Nagari Simanau. Saya menduga ada oknum aparat juga yang ikut bermain termasuk masyarakat di nagari,” jelas Marah Baganti, saat berbincang dengan KORAN PADANG, Minggu siang (29/7). Disebutkan Marah Baganti, sebenarnya kabar tentang maraknya aksi pencurian kayu di hutan Tigo Lurah, sudah lama terdengar, bahkan sejak tahun 90 an. Selain illegal logging, di kecamatan Tigo Lurah juga ramai dibicarakan masalah penambangan emas illegal atau illegal mining, seperti di Nagari Garabak Data juga sering terdengar. “Kecamatan Tigo Lurah bak syorga tersembunyi di Kabupaten Solok dan juga kaya akan hasil alam. Namun karena akses jalan kesana sangat sulit, maka susah para pelaku kejahatan perusak alam ini untuk dilacak,” tambah Marah Baganti.

Selain akses jalan yang buruk dan medan hutan yang sulit, para pelaku kejahatan hutan ini dengan leluasa beraksi membabat kawasan hutan lindung.

“Saya juga baru tau dari media bahwa ratusan kubiik kayu yang disita polisi merupakan hasil pencurian dan hal ini sudah berlangsung lama. Para pelaku dengan bebas melakukan aksinya dan hal ini tentu ada yang membeckinginya termasuk para cukong atau penambung yang menjadi bandar atau juga oknum aparat yang saya sebutkan tadi,” terang Marah Baganti.

Pihaknya berharap bahwa untuk mecegah illegal logging di dalam hutan yang tersembunyi, diperlukan sosialisasi dari pihak kepolisian dan polisi kehutanan serta dari pemerintah Nagari dan Kabupaten tentang bahaya illegal logging. “Kalau terus dibiarkan, yang akan menanggung resikonya nanti pasti anak cucu kita karena akan sering terjadi longsor atau juga banjir bandang dan hal ini perlu kita sikapi bersama,” cetus Marah Baganti.

 

Seperti yang diberitakan sebelumnya, dengan maraknya aksi pemberitaan masalah illegal logging di kawasan hutan Tigo Lurah, Polres Solok bersama polisi Kehutanan dan dibantu Polsek Payung Sekaki dan beberapa orang media, hari Kamis melakukan investigasi ke lapangan hutan Tigo Lurah. Dari hasil terjun ke lapangan ini, polisi berhasil menemukan ratusan kubik kayu jenis meranti yang sudah ‘disinso’ dengan berbagai ukuran. Kayu illegal tidak bertuan ini, mungkin sengaja ditinggal pemiliknya karena waktu anggota polisi datang tidak satupun pemilik yang ditemukan atau mungkin karena kedatangan tim sudah tercium para pelaku.

Selain itu, kawasan pembalakan liar ini berada jauh dari dalam nagari Simanau dengan medan yang cukup melalahkan karena harus naik tutun bukit yang terjal. Bahkan untuk sampai di lokasi, petugas harus berjalan kaki selama hampir 6 jam menelusuri hutan belantara.

Investigasi Polres Solok dipimpin langsung oleh Wakapolres Solok, Kompol Emanuel Lase dan Kapolsek Payung Sekaki, Iptu Mukhlis serta puluhan anggota polisi dan awak media.

Di TKP, petugas menemukan ratusan kubik kayu jenis meranti dengan ukuran panjang 4 meter dengan ketebalan kayu 20 hingga 40 cm.

 

Penemuan kayu di kawasan hutan produksi terbatas Simanau terungkap setelah mendapat laporan masyarakat setempat yang menemukan kayu telah dipotong dibeberapa titik di hutan tersebut. Bahkan kondisi lahan disekitar lokasi sudah sangat memprihatinkan.

 

“Kita turun ke lapangan atas laporan masyarakat tentang maraknya aksi illegal loging di Simanau,” jelas Kompol Emanuel Lase.

Kapolres Solok, AKBP Ferry Irawan melalui Wakapolres Solok, Kompol Emanuel Lase, berjanji akan menindak para pelaku illegal logging dan termasuk jika ada oknum anggota polisi yang diduga ikut melindungi para pelaku pembalakan liar tersebut.

“Kita tidak akan segan-segan mengambil tindakan kepada para pelaku dan termasuk jika ada oknum anggota kita yang terlibat akan kita proses sesuai hukum yang berlaku,” beber Kompol Emanuel Lase.

Penemuan kayu illegal logging ini berawal dari laporan masyarakat tersebut terkait maraknya aksi pembalakan hutan di kawasan hutan Simanau, akhirnya direspon petugas. Sejumlah petugas kepolisian menyusuri hutan yang dilaporkan masyarakat adanya kegiatan pembalakan liaer.

 

“Kita harus berjalan kaki selama hampir 6 jam untuk menemukan lokasi pembalakan liar tersebut dari Nagari Simanau Tigo Lurah,” tutur Kompol Emanuel Lase

 

 

Jarak yang cukup jauh dari tepi jalan dan medan yang sulit memasuki hutan menjadi kendala petugas untuk membawa barang bukti. Waka Polres pada kunjungan sidak tersebut didampingi oleh Kapolsek Payung Sekaki, Iptu Mukhlis.

 

Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui pelaku, dan bagaimana kayu akan dikeluarkan dari hutan. Sebab, medan yang sulit dan ukuran kayu yang besar tidak memungkinkan kayu diangkut keluar.

 

Akibat aksi dugaan pembalakan hutan itu selain merusak kawasan hutan juga merugikan aset nagari kayu meranti usia ratusan tahun.

 

Kapolres Solok Arosuka AKBP Fery Irawan melalui Wakapolres Kompol El.Lase mengatakan kasus ini akan didalami lebih lanjut untuk mengungkap para pelaku.

“Waktu kayu kita sita kita tidak menemukan tersangka, mungkin sudah  mencium kedatangan kita,” cetus  Kompol Emanuel Lase.

Namun pihaknya berjanji akan melacak siapa para pelaku illegal logging ini dan akan mencari informasi dari sumber yang bisa dipercaya (wandy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan Komentar
Masukkan Nama Anda